Harapanku Pupus sejak Gaji dan Penghasilanku di Putus Danamon

Saya sudah mencoba untuk memahami dan bersabar dengan kecelakaan kerja yang saya alami. Tapi makin hari makin menganggu karena keadilan seolah tidak berwibawa untuk berbicara dan berpihak padaku. Masih jelas dalam ingatan saya dulu ketika melihat pengumuman terpampang jelas di majalah dinding rektorat Universitas Sumatera Utara (USU). Dimana saat itu akan menjalani serangkaian tes tertulis, tes wawancara dan psikotest yang selenggarakan pihak Danamon. Sungguh waktu itu tidak ada bahasa vendor, outsorching, atau pihak ketiga, begitu lulus tes langsung berkerja di Bank Danamon.

Saya yang cacat karena kecelakaan tidak pernah mendapatkan hak-haknya dari perusahaan. Oleh sebab itu saya sangat membutuhkan kejelasan, dan dukungan dari berbagai pihak.Saya kecelakaan dalam usia produktif. Kejadian ini jelaslah membuat semua impian saya tertunda, karena hidup dengan satu kaki yang diamputasi sebatas paha. Nah, melalui ruang publik Majalah Peluang ini saya ingin meminta hak-hak saya dari Bank Danamon. Meski saya sudah cacat juga masih berani bermimpi untuk eksis seperti orang normal. Kalau ada modal ingin menjadi pelaku wirausaha.

Saya kecelakaan pada 27 Desember 2011, saya dibawa supir angkutan kota yang sedang melintas ke rumah sakit. Tetapi saat akan dilakukan tindakan medis, pihak Danamon tidak memberikan uang panjar biaya sebagaimana yang diminta pihak rumah sakit. Walaupun jarak rumah sakit dengan kantor Danamon sekitar 100 meter. Ketika itu semua karyawan Danamon juga turut menjenguk saya. Saya melihat sendiri karena keadaannya tetap sadar. Ternyata uang panjar yang diminta rumah sakit sepeser pun tidak dikeluarkan Danamon.

 

Padahal sangat jelas saya ketahui Danamon adalah lembaga keuangan yang menyalurkan kredit atau meminjamkan uang kepada masyarakat dalam jumlah besar. Demikian yang saya lakukan selama bekerja di Danamon sebagai account officer. Tetapi teganya tidak mau mengeluarkan kewajibannya bagi karyawannya yang mengalami kecelakaan.

 

Kini saya penyandang cacat yang juga ingin mencapai taraf kesejahteraan sosial yang baik. Saya tetap ingin mampu memenuhi kebutuhan saya tanpa mengharapkan belas kasihan orang lain. Bahkan bercita-cita dengan kecacatan saya ini bisa menjadi tauladan bagi orang-orang normal yang suka mengeluh dan tidak mensyukuri nikmat Tuhan. Saya ingin dengan segala kekurangan ini ingin menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi diri saya dan orang banyak. Ingin menjadi motivator handal, mampu memberikan semangat kepada orang lain agar tidak mudah berputus asa menjalani kehidupan yang penuh masalah dan harus dihadapi.

 

Itulah yang sering terbersit di pikiran saya. Tapi di sisi lain, apakah Petinggi Damon pernah merasakan, apa yang saya rasakan saat ini? Apakah Petinggi Danamon tahu kalau saya hampir setiap malam menahan sakit, dan menangis, karena peradangan yang saya derita di kaki saya. Jika cuaca panas kaki saya yang diamputasi meradang, jika cuaca dingin atau hujan tulang kaki saya terasa ngilu, berdenyut, gatal, sulit saya menggambarkannya dengan kata-kata. Yang pasti sangat tersiksa dan sangat menderita, belum lagi jenis makanan yang tidak sebebas dulu saya konsumsi, saya hampir putus harapan.

 

Saya sangat terpukul dengan janji-janji dari Danamon yang tidak ada realisasi dan membuat saya sangat kecewa. Selain masalah fisisk yang sudah cacat seumur hidup juga psikis, mental rendah diri menghantui. Selanjutnya masalah sosial ekonomi, begitu sangat terasa berbeda dengan adanya kehidupan penyandang cacat tubuh seperti saya. Yang pada umumnya sulit diterima bekerja kembali. Apalagi sejak gaji saya selama 3 tahun tidak di bayarkan, THR tidak di berikan, santunan kecacatan dari perusahaan tidak pernah saya dapatkan. Bahkan kaki palsu yang mereka janjikan melalui Yayasan Danamon Peduli pun hanya sebatas impian.

 

By.Obrain Sianipar.S.Th

Pematang Siantar- Sumut.

obreintorangsianipar@gmail.com

Bagikan ke: