Goa Seruling, Sungai Li, dan Pegunungan Karst Guilin

Setelah memasuki Istana Seni Alam—salah satu goa terindah di dunia yang terlupakan hampir 1.000 tahun—5 jam perjalanan fantastis sepanjang Sungai Li benar-benar tidak membosankan karena suguhan aneka bentuk gunung di kiri kanan yang imajinatif plus kisah mitologis lewat penuturan guide yang amat fasih.

 goa seruling

Siang masih berselimut kabut. Matahari seakan enggan bangun dari peraduannya saat kami menginjakkan kaki di Bandara Guilin, di Provinsi Guangxi, Cina Selatan. Bandara Guilin tidak besar, tapi cukup rapi dan bersih. Di bagian keimigrasian, koper kami harus dibuka. Isinya bekal makanan seperti rendang, kering kentang, dendeng. Setelah dijelaskan bahwa itu hanya makanan, si petugas mengangguk-angguk, “Ow… Indonesian food … Good, good,” komentarnya.

Di luar, hawa gerimis tipis menambah dingin tubuh yang hanya terbalut blus dan selendang. Mr Hong, sebut saja begitu, sudah menunggu di pintu kedatangan. Ia siap mengantar kami ke hostel. yang kami pesan melalui internet. Satu jam berkendara, kami sampai di hostel yang kami pesan via internet. Suasananya cukup nyaman, dengan jendela menghadap ke Sungai Li (Li Jiang). Menyenangkan sekali memandang sungai bersih itu diterpa gerimis,  meski hanya dari jendela kamar.

Setelah makan siang, di tengah gerimis halus, kami meluncur menuju The Reed Flute Cave. Goa ini memang salah satu andalan destinasi wisata di Guilin. Disebut-sebut ini salah satu Goa alami terindah di dunia. Untuk masuk ke dalamnya, meskipun siang itu cukup banyak wisatawan lokal, antrean berlangsung tak terlalu lama.

Begitu masuk goa, kami langsung berada di tengah panorama seperti tersaji dalam internet. Kami langsung disuguhi pemandangan eksotis indahnya kombinasi stalagmit dan stalaktit. Komposisi itu seakan pilar pilar penyangga istana dengan bentuk-bentuk unik yang menawan, sepadan dengan julukan “Istana Seni Alam”. Nama Reed Flute Cave yang memiliki kedalaman sekitar 790 kaki ke dalam perut bumi ini berasal dari alang-alang hijau yang tumbuh di luar goa dan dapat dibuat menjadi seruling yang bersuara merdu.

wisatawan

Terlupakan 1.000 Tahun

Goa alami itu terbentuk dari batuan kapur Karst berjuta-juta tahun silam. Letaknya di wilayah Guangming Hill, sekitar 5 km dari pusat kota. Keindahan goa makin memukau karena  pencahayaan tata lampu multiwarna yang membuat ciri khas setiap bagian goa. Ada formasi batuan yang membentuk sayuran seperti jamur, bunga kol, sawi, ada pula formasi bentuk makhluk mitologi  seperti naga, kodok; boneka salju bahkan ada yang mirip Patung Liberty. Sungguh eksotis dan spektakuler.

Di dalam goa terdapat lebih dari 70 prasasti yang ditulis dengan tinta dari era Dinasti Tang (618-907 M).  Prasasti ini menunjukkan bahwa goa ini telah menjadi daya tarik sejak zaman kuno. Hampir 1.000 tahun terlupakan, sampai ditemukan kembali pada tahun 1940-an oleh sekelompok pengungsi yang melarikan diri dari kejaran tentara Jepang.

Keluasan area di dalamnya memberi kesan megah. Ruangannya seperti aula yang juga dimanfaatkan untuk bioskop dengan langit-langit goa sebagai layarnya. Saat lampu-lampu di aula dipadamkan, segenap wisatawan serentak menengadah. Di langit-langit goa muncul seekor ular naga yang dengan luwesnya bergerak seolah-olah ingin menyapa kami. Pertunjukan selama kurang lebih 15 menit ini diakhiri dengan informasi tertulis bahwa goa ini telah banyak dikunjungi oleh para kepala negara, di antaranya Susilo Bambang Yudhoyono, Presiden RI ke-6.

Usai di goa kami diajak ke dermaga di tepian Sungai Li. Semula kami akan mendaki Elephant Trunk, bukit yang bentuknya seperti belalai gajah (Xiangbishan) dan memandang kota Guilin dari ketinggian. Karena hujan, mendaki bukit jadi cukup berisiko. Rute selanjutnya adalah menyusuri  Sungai Li dengan kapal wisata kecil. Dingin menggigit tulang memaksa kami lebih banyak duduk melihat pemandangan dari balik jendela kapal. Tidak ada pemandangan yang istimewa, selain sungai yang sangat bersih, tanpa sampah atau limbah.

 

Perbukitan Aneka Fauna

Keesokan paginya, pukul 7.00 kami sudah bersiap di depan hostel. Hari ini menuju destinasi utama, yaitu menyusuri Sungai Li. Bersama turis lainnya, sejam kemudian bus sampai di sebuah dermaga yang besar. Puluhan kapal sandar di sana. Sungai Li ini membentang sepanjang 83 km dari Guilin hingga Yangshuo. Kami masuki kapal yang di bagian bawahnya sudah penuh pelancong. Di sebuah meja lantai 2, kami bergabung dengan seorang wanita Amerika. Dia ke Cina menengok putranya yang mengajar bahasa Inggris di Guangzhou.

Tidak makan waktu lama, kami sudah disuguhi pemandangan bukit-bukit Karst  yang unik dan eksotis. Berpadu dengan kabut putih, puncak bukit itu seperti anak kecil yang malu-malu mengintip dari balik punggung ibunya. Di kiri kanan terhampar sawah dengan padinya. Sepagi itu Sungai Li sudah ramai dilayari kapal wisata, perahu  dan rakit-rakit bambu penduduk yang hilir mudik. Menurut guide kami, perjalanan ini makan waktu 4- 5 jam. Dia menjamin kami tidak akan bosan karena di Sungai Li mempunyai tempat tempat indah memikat dengan nama-nama unik.

Bagian Sungai Li yang menjadi salah satu ikon Kota Guilin adalah Elephant Trunk. Bukit Belalai Gajah (Xiangbishan) itu tampak seperti gajah dengan belalai yang menjulur masuk ke dalam air. Di antara bagian belalai dan tubuh terdapat goa Shi Yue Cave atau Water Moon Cave—yang sayangnya tidak dapat kami kunjungi. Bukit berikutnya adalah Doujishan Hill (Bukit Ayam Jago). Bentuknya seperti dua ekor ayam jago yang siap bertarung dan terpisahkan oleh sungai. Bukit berikutnya disebut Pagoda Hill. Dinamai begitu karena di atas bukit terdapat sebuah pagoda berbentuk heksagonal yang dibangun pada masa Dinasti Ming.

Kapal terus melaju melewati kota tua Daxu. Desain kota berusia lebih darisepuluh abad dipertahankan seperti aslinya. Beberapa kilometer kemudian kami sampai di area Ox Gorge, Bukit Lembu. Di situ beberapa bukit berdempetan mirip bentuk lembu. Memandang bukit-bukit di sepanjang Sungai Li memang memerlukan fantasi agar kita melihat bentuk-bentuk seperti harimau, singa, bunga. Hampir semua penumpang kapal meninggalkan kursinya dan keluar ke dek untuk melihat keindahan alam perbukitan dengan leluasa untuk memotret dan berselfie ria.

Kapal terus melaju dan sampai di Wangfu Rock. Yang menyolok di area ini adalah sebuah batu yang menjulang tinggi yang disebut Immortal Stone, yang bentuknya mirip dengan seorang lelaki. Tak jauh dari batu itu ada batu lain yang mirip dengan seorang wanita menggendong anak di punggungnya. Batu ini yang disebut Wangfu Rock. Menurut hikayat, batuan tersebut berasal dari sepasang suami istri dan anaknya. Mereka kehabisan bekal makanan dalam perjalanan dari Wuzhou menuju Guilin dan akhirnya menjadi batu. Seperti legenda Malin Kundang.

 

Kuda Kahyangan Dikutuk Dewa

Tak lama kami sampai di Yangdi Village. Desa ini memiliki bukit dengan dua puncak yang konon mirip dengan kuku  kambing, tapi menurut kami  lebih mirip telinga kucing, seperti telinga Hello Kitty. Guide  kami sibuk meminta kami untuk say hello dan melambaikan tangan ke arah bukit. Menurut legenda, Yangdi merupakan tempat Putri Jade Emperor turun dari kahyangan ke bumi untuk menengok kambing peliharaannya. Namun, Putri cantik itu jatuh hati pada pemuda bumi, dan tidak pernah kembali lagi ke kahyangan. Lalu kami sampai di Mural Hill, lokasi bebatuan berwarna kuning, hijau, abu-abu, hitam dan putih. Bila dilihat dari kejauhan bukit ini seperti lukisan alam sembilan ekor kuda dalam berbagai pose.

Kuda-kuda tersebut konon berasal dari kuda kahyangan yang ditelantarkan oleh pengurusnya dan melarikan diri ke Gunung Huaguoshan. Di tengah pelariannya, saat mandi di Sungai Li, kuda-kuda ini ditemukan oleh dewa. Karena tak mau kembali ke kahyangan, kuda-kuda itu dikutuk menjadi batu. Di dinding tebing sungai yang kami lewati juga tampak seperti ada lukisan seekor ikan yang sangat besar.  Kami berpikir, jangan-jangan ikan itu pun tercetak di tebing sungai akibat kutukan dewa.

Setelah sekitar lima jam bermain fantasi dalam legenda masyarakat Cina, kami tiba di dermaga perhentian di Kota Yangshuo. Turun dari kapal kami langsung disambut oleh deretan toko penjual cenderamata. Mulai dari mainan anak-anak, baju, selendang dan lain-lain. Para penjual hanya faham bahasa Cina, hingga tawar-menawar dilakukan dengan menggunakan sebuah buku yang halamannya sudah penuh dengan angka-angka.

Hampir dua jam di sana, kami bergegas menuju meeting point, halaman sebuah hotel, untuk menuju destinasi lain tapi masih menyusuri bagian lain Sungai Li. Bis kami melewati jalan yang sempit, terkadang harus berhenti dulu untuk berbagi jalan dengan kendaraan lain dari arah berlawanan. Kali ini dengan menggunakan rakit bambu, perjalanan yang menawarkan romantisme.

Puluhan rakit bambu berpayung warna warni, dengan sepasang kursi di tengahnya. Di atas rakit, berdua dengan teman, kami duduk manis bersender menikmati segarnya udara sore, dengan latar belakang pegunungan Karst yang indah, seperti deretan punggung unta. Setelah kurang lebih satu jam bersantai ria dan tentunya tak ketinggalan foto-foto di rakit, kami kembali ke dermaga. Sambil mengunyah jagung rebus kami menyandarkan punggung di kursi bus. Sungguh sebuah perjalanan yang akan terpateri cantik dalam memori kami. (Adriana Peris-Red.)

Bagikan ke: