Fraternite

…un SCOP; un lieu de fraternite et d‘ echange, un lieu de solidatite humaine. (… sebuah koperasi; sebuah tempat persaudaraan dan saling tukar, sebuah tempat solidaritas manusiawi)

 

Pesan itu ditulis di buku tamu di sebuah restoran Indonesia di Paris. Tempat dengan jarak yang begitu jauh. Di restoran itu setiap orang yang singgah seolah menemui kerinduan tentang Indonesia. Bukan sekadar bisa menikmati sepotong rendang Padang atau gudeg Yogyakarta, tapi dengan keramah-tamahan dan persaudaraan yang hangat.

Di restoran itu, kita dihadapkan dengan arti kebersamaan anak manusia yang tersisih dari kehidupan masyarakatnya, terbuang di negeri orang. Toh, masih saja ada kerinduan dengan Indonesia Raya.

Agak romantis memang. Tetapi pesan di buku tamu yang ditulis oleh Delegasi dari Cartes D’Amor itu mengisyaratkan ada sesuatu yang tidak biasa dengan restoran berbadan hukum koperasi di 12 Rue Vaugirard itu.

Seperti di tulis JJ Kusni , koperasi restoran berdiri atas prakarsa 40 orang Indonesia yang mencari suaka politik ke negeri Napoleon Bonaparte itu. Mereka, orang-orang yang tidak mungkin pulang ke negerinya karena takut atau dianggap terlibat konflik politik Gerakan 30 September 1965. Tahun ketika rezim Orde Baru tengah naik panggung, mabuk kekuasaan dan membantai semua lawan-lawan politiknya di luar batas kewajaran.

Societe Cooperative d’ Ouvriers Pour la Production -SCOP Fraternite- atau Badan Koperasi Kaum Buruh Untuk Usaha Produktif kemudian menjadi pilihan. Dan diujudkan dengan aktivitas sebuah Restoran Indonesia pada awal 1980-an.

Fraternite

Menjatuhkan pilihan usaha dengan nama koperasi, sungguh tidak mudah di negeri yang boleh dibilang menjadi salah satu jantung kapitalisme dunia. Tetapi pilihan itu yang terbaik bagi para pendiri SCOP karena hanya dengan kumpulan orang saja mereka bisa menghimpun dana.

Di tengah keterpurukan sebagai kaum imigran, kebersamaan dan persaudaraan adalah satu-satunya obat mujarab untuk tetap bertahan. Idenya nyaris sama dengan Rochdale Society ketika membangun British Cooperative Wholesale Society . Ada fighting idea untuk tidak menyerah di tengah gemuruh ekonomi kapitalistis.

Di bawah panji koperasi, nama Restoran Indonesia di kota Paris itu, seolah menjadi bagian dari Indonesia yang lain. Tak sekadar menikmati hidangan khas negeri tropis, warga Paris juga menyerap Informasi yang utuh mengenai Indonesia. SCOP Fraternite pun menjadi ajang pertemuan kaum rantau yang sama-sama rindu dengan kehangatan iklim di khatulistiwa. Semua terajut dalam persaudaraan yang tak tersekat oleh perbedaan agama dan kepentingan politik.

SCOP Fraternite memang hanya sebuah koperasi yang berdiri dengan tujuan sederhana, yaitu kebutuhan sandang, pangan dan papan anggotanya. Selebihnya adalah derita panjang orang-orang yang terbuang dari tanah kelahirannya. Mereka bukan buruh biasa, tetapi adalah para cerdik pandai yang harus meninggalkan negerinya karena perbedaan paham politik.

Sebagai seniman Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat), Kusni, tentu saja masih sangat ingat betapa kentalnya perselisihan faham keseniannya dengan kelompok Manikebu (Manifes Kebudayaan).

Tetapi perbedaan itu akhirnya tergerus juga oleh perjalanan waktu. ketika pada 21 Januari 2002, seorang tokoh Manikebu, Goenawan Muhammad singgah di Koperasi Restoran Indonesia dan meninggalkan catatan di buku tamu (Livre d’Or),” Sejarah Indonesia tercatat si sini dengan kerinduan, kesedihan tapi juga kehangatan”.

Di tengah carut marut politik yang penuh intrik dan saling curiga, kita memang rindu dengan kebersamaan dan persaudaraan itu.

(Irsyad Muchtar)

Bagikan ke: