Formula E Pengguna Perdana Sirkuit Anyar Jakarta

Jakarta E-Prix 2022 didukung oleh 31 perusahaan swasta domestik dan beberapa sponsor global lainnya. Anehnya, tak satu pun BUMN. Sejak awal, memang ada yang tak menghendaki proyek smart Anies ini sukses.

Sepekan jelang Hari-H, hampir semua persiapan untuk melaksanakan ajang Formula E Jakarta tuntas sudah. Dari kesiapan venue, sirkuit, fasilitas pendukung acara, hingga hiburan. Pembalap dari 11 tim sudah berdatangan. Dua hari jelang lomba dihelat, tiket habis terjual. Acara 4 Juni 2022 di Jakarta itu bagian ke-16 dari seri balapan Formula E dalam kalender balap 2022.

Biaya event internasional ini memang mahal. Panitia penyelenggara Formula E Jakarta menyebut, sekali gelar, biaya pelaksanaan ajang balap mobil listrik itu berkisar Rp120 miliar hingga Rp130 miliar. “Pembangunan sirkuit sepanjang 2,4 km dengan lebar 12 meter, dengan 18 tikungan itu saja menghabiskan Rp60 miliar,” kata Ketua Komite Penyelenggara Formula E Jakarta, Ahmad Sahroni.

Sirkuit bertajuk @DKIJakarta International E-prix Circuit atau JIEC, dibangun dalam waktu sekitar 60 hari. “Ini pembangunan sirkuit permanen tercepat di dunia,” ujar Formula E Operations (FEO) Head of technical operation, Mr. Barry Mortimer, memuji. Letaknya pun instagramable, di sisi timur kawasan wisata Ancol dengan latar belakang stadion baru Jakarta International Stadium (JIS).

Penjualan 60 ribu tiket untuk penonton terbagi atas lima kategori, yakni “Festival Ancol”, “Festival Circuit”, “grandstand”, VIP dan VVIP. Harga tiket termurah nonton di “Festival Ancol” yakni Rp250 ribu, termahal untuk kelas VVIP kategori “Jakarta Royal Suite” yang mencapai Rp10 juta.

Sirkuit permanen di kawasan Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara, itu kelak juga digunakan untuk selain agenda balap mobil listrik. “Selesai ini (Jakarta E-Prix) masih ada tujuh lagi kegiatan di Sirkuit Formula E,” kata Direktur Utama Jakarta Propertindo/Jakpro, Widi Amanasto, tanpa merinci. Sirkuit itu tidak hanya digunakan sebagai arena balap mobil, tapi juga kegiatan otomotif lainnya.

Jakarta E-Prix 2022 didukung oleh 31 perusahaan swasta domestik dan beberapa sponsor global lainnya. Anehnya–atau: sebenarnya bisa dimaklumi—tak satu pun BUMN ikut serta. “Sponsor kami terdiri dari berbagai industri, seperti perbankan, kecantikan, perusahaan teknologi dan hotel,” ujar Direktur PT Jakpro, Gunung Kartiko. Selain perusahaan swasta dalam negeri, juga ada sponsor global yang sudah ditentukan oleh FEO. Sponsor global ini hadir di semua balapan di berbagai negara,” kata Gunung.

Ributkan Commitment Fee

Urusan biaya komitmen Formula E yang disetor Pemprov DKI sempat jadi sorotan. Konon, total commitment fee yang ditanggung APBD DKI berbeda jauh dengan commitment fee di kota-kota belahan dunia lain sesama penyelenggara Formula E. Wakil Ketua KPK, Alexander Marwata, menyuarakan hal ini dengan sengit. Selanjutnya digaungkan anggota DPRD DKI dari PSI, yang memang rajin menyerang berbagai kebijakan Gubernur Anies Baswedan.

Bukan kebetulan jika KPK tengah menyelidiki mengenai commitment fee atau biaya komitmen terkait Formula E di DKI Jakarta. Ibu kota RI ini sebelumnya telah diresmikan sebagai salah satu tuan rumah penyelenggaraan Formula E tahun 2022. Keputusan tersebut ditetapkan melalui FIA World Motor Sport Council di Paris, Prancis. Pemprov DKI Jakarta lantas menugaskan PT Jakarta Propertindo (Jakpro) selaku pihak yang bertanggung jawab untuk penyelenggaraan Formula E Jakarta. Jakpro pun berkoordinasi dengan Formula E Operations (FEO).

Isu commitment fee muncul September 2019. Berawal dari beredarnya surat dari Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) DKI Jakarta ke Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan. Isinya rincian biaya komitmen Formula E yang wajib dibayarkan melalui Dispora DKI Jakarta, selama lima tahun berturut-turut. Rinciannya: sesi 2019/2020: 20 juta poundsterling atau setara Rp393 miliar, dan sesi tahun-tahun berikutnya (Rp432 miliar, Rp476 miliar, Rp515 miliar, Rp574 miliar), sehingga angka totalnya sekitar Rp2,3 triliun.

“Bila tidak bisa dilaksanakan, akan dianggap sebagai perbuatan wanprestasi yang dapat digugat di arbitrase internasional di Singapura,” tulis surat Dispora DKI itu. Belakangan, Jakpro bersama FEO membuat kesepakatan baru terkait biaya komitmen. Salah satu poinnya adalah pemangkasan menjadi Rp560 miliar untuk tiga musim balapan. Jadi, jika mulanya Pemprov DKI berkewajiban membayar biaya komitmen Rp2,3 triliun untuk 5 musim. Setelah kesepakatan baru, angka itu dinyatakan gugur.

 “Hasil kesepakatan baru antara Jakpro dan FEO adalah, periode pelaksanaan disesuaikan tiga tahun, yaitu 2022, 2023, dan 2024,” ucap Pemprov DKI. Kerugian bakal terjadi jika Formula E hanya satu kali digelar di Jakarta.

Untuk Rp560 miliar itu telah dibayarkan Pemprov DKI ke Formula E melalui APBD. Sedangkan biaya pelaksanaan Formula E setiap tahunnya membutuhkan Rp150 miliar. Pihak Jakpro mengklaim, Rp150 miliar per tahun itu tidak akan bersumber dari APBD. Lantas dari mana? “Kalau dapatnya Rp150 miliar, ya untuk event hari-H saja cukup, ya sudah kita selenggarakan segitu,” kata Gunung Kartiko.

 Jika Formula E digelar 3 tahun berturut-turut, dana pelaksanaan yang dibutuhkan selama penyelenggaraan Formula E Jakarta sebesar Rp450 miliar, di luar commitment fee Rp560 miliar yang sudah dibayarkan ke FEO. Uang itu, kata Dirut PT Jakpro, Widi Amanasto, akan diperuntukkan bagi penyiapan infrastruktur hingga pemeliharaan sirkuit balapan. Biayanya disebut akan didapat dari pihak ketiga atau sponsor. “Kita upayakan teknisnya, track kita lakukan pengaspalan ulang, harus rata. Itu biaya dari kita untuk masyarakat. Dari mana? Ya dari sponsor,” ujarnya.

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria pada 19 September 2021 menyebut, “Ada perbedaan commitment fee antara Asia dan Eropa. Kita ikuti ketentuan yang ada dari Formula E,” kata Riza.

Alberto Longo, Chief Championship Formula E Operations (FEO), menyatakan fee itu tidak bisa dibuka karena bersifat rahasia. Walaupun seluruh biaya pengadaan formula E tidak dapat dibuka, Alberto memastikan Jakarta tidak membayar lebih dari yang dibayarkan oleh kota-kota lain. “Kita paham bahwa Formula E adalah kejuaraan dunia dan ini harganya sangat mahal,” lanjutnya.  (Zian)

Bagikan ke: