Dari Minang untuk Swasembada Kedelai

Kebutuhan kedelai di Sumbar relatif rendah, meski masih impor. Program penanaman kedelai di lima daerah diancangkan untuk penuhi kebutuhan lokal, di samping kontribusi untuk swasembada nasional.

Swasembada kedelai nasional diancangkan terwujud 2018. Untuk itu, Sumatera Barat bertekad ambil bagian, berkontribusi. Meski terkendala lahan dan cuaca, Sumbar diplot jadi salah satu sentra kedelai. “Penanaman kedelai ini merupakan instruksi Kementerian Pertanian. Saat ini kita masih tergantung impor,” ujar Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan Sumbar, Candra.

Secara nasional, keran impor kedelai diprediksi naik dari 2,3 juta ton (2016) menjadi 2,53 juta ton. Soalnya, produksi kedelai tahun ini anjlok 15,7 persen, dari realisasi 2016 (890.000 ton) menjadi sekitar 750.000 ton. Impor kedelai selama ini berasal dari Amerika Serikat sebesar 238,8 ribu ton (US$106,4 juta); Kanada sebanyak 2.076 ton (US$970,6 ribu), Malaysia sejumlah 738,7 ton (US$387,9 ribu), dan porsi Benin 531,0 ton (US$199,6 ribu).

Hingga saat ini, Sumbar masih gunakan kedelai impor untuk bahan tahu, tempe, dan susu kedelai. “Dengan memproduksi di daerah sendiri, kebutuhan lokal bisa terpenuhi,” imbuh Candra. Gerakan tanam kedelai dimulai Oktober depan. Lokasinya di lima daerah,  yaitu Kab Pasaman Barat, Kab Agam, Kab Pesisir Selatan, Kab Dharmasraya, dan Kab Sijunjung. Lahan untuk itu disiapkan 15 ribu hektare.

Tahap awal dimulai Oktober, paling lambat Desember. Dengan masa produksi 80-100 hari, panen diperkirakan Januari-Maret 2018. Jika segalanya lancar, Sumbar bisa menghasilkan 18 ribu ton panen. Jumlah ini jauh melampaui kebutuhan masyarakat Minang (600 ton).

Sebenarnya, “Sumbar sudah lama melakukan tanam kedelai. Namun petani kedelai selalu khawatir atas ketidakpastian harga kedelai karena tidak ada jaminan dari pemerintah. Pengusaha lokal pun belum tentu mau,” kata Candra. Solusinya, setelah panen, produksi kedelai Sumbar dibeli oleh perusahaan yang telah berkerja sama dengan Kemetan dan Kemendag. “Soal harga, pemerintah pusat telah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET) sehingga petani tidak perlu khawatir,” tutur  Kepala Dinas yang low profile itu.

Secara geografis, lahan Sumbar kirang kondusif untuk kegiatan tanam kedelai. Namun, kata Candra, tetap ada daerah-daerah yang bisa dimanfaatkan untuk tanam kedelai. “Daerah kering di Sumbar bisa digunakan. Hanya saja, pola tanamnya nanti disesuaikan kondisi cuaca. Sebab, Sumbar secara keseluruhan tergolong tidak memiliki musim. Bisa turun hujan ketika kemarau, dan sebaliknya,” kata Candra.

Target swasembada kedelai nasional di tahun 2018 disokong Kementan. Caranya, dengan cara memberikan batuan benih dan sarana produksi (pupukm subsidi dan pestisida) kepada para petani. “Meskipun tidak ada program nasional, 500 ribu hektare untuk lahan kedelai di kabupaten/kota tersebut menjadikan kita optimis untuk swasembada kedelai ini,” tutur Candra.

Satu hal penting dikemukakan Ketua Umum Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo), Aip Syarifuddin. Bahwa pengembangan kedelai belum mendapat perhatian serius dari pemerintah. Lagipula, para petani kedelai adalah juga petani jagung dan padi. Ketiga komoditas itu rata-rata masa panennya 100 hari. “Karenanya, petani akan memilih tanam jagung atau padi ketimbang kedelai,” ujar Aip.●(yyn-ed)

 

Bagikan ke:

One thought on “Dari Minang untuk Swasembada Kedelai

  1. Perfect work you have done, this site is really cool with great information.

Comments are closed.