Daging Meroket, Mendag Menyerah

pasar daging

Harga daging sapi yang belakangan terus melangit bikin Departemen Perdagangan kalang kabut. Menteri Koordinator Maritim dan Sumber Daya, Rizal Ramli mengaku tak habis pikir harga daging sapi di Indonesia tergolong salah satu yang paling mahal di dunia. Meski impor sapi juga sudah dilakukan. Pada 2015 lalu, Bulog mendapatkan kuota impor sapi potong sebanyak 50 ribu ekor. BUMN ini pun memasoknya dari Australia.

Perum Badan Urusan Logistik (Bulog) diminta mengintervensi pasar, seperti tahun lalu. Namun, upaya ini diakui tidaklah mudah. “Maklum, ini pertama kali (Bulog) urus sapi. Tentu, hasilnya tidak akan optimal dan tidak akan komprehensif. Jadi, kami harus realistis. Membangun kapasitas (itu) butuh waktu,” kata Menteri Perdagangan Thomas Trikasih Lembong.

“Daging di pasar dunia hanya Rp45.000/kg. Di Malaysia saja harganya Rp60.000/kg, di Indonesia harganya Rp120.000/kg, jadi 100% harganya (lebih tinggi),” kata Rizal. Di mana letak masalahnya? Apa yang salah? Rizal menyebut, mahalnya harga daging sapi di Indonesia akibat skema penetapan impor yang salah sejak lama. Sistem kuota jadi sebab utama harga daging sapi sulit turun; meski kuota impor sapi sudah kembali dinaikkan.

Di luar persoalan peterbakan dalam negeri, penyebab konsumen membayar dua kali lebih mahal dari Malaysia sangat jelas. “Pola impor pangan di Indonesia yang selalu diatur impor dengan berbagai mekanisme cara, kuota atau semi kuota, diaturlah beberapa impor dan sebagainya. Ini mengakibatkan harga impor pangan di Indonesia lebih tinggi dari dunia internasional,” ujar Rizal Ramli yang tetap kritis meski berstatus anggota kabinet.

Bagikan ke: