Cerdas Membidik Prioritas

Di habitat bisnis skala kecil, istilah dari hulu ke hilir perlu dibalik.Kuasai dulu hilirnya, karena  duit itu ada di sana.

start

Salah satu masalah yang sering bikin mumet pikiran pebisnis pemula adalah soal penentuan prioritas. Khususnya prioritas dalam pemanfaatan waktu dan penekanan fokus. Dalam memprioritaskan waktu, kita merasa waktu yang diberikan Tuhan 24jam/hari, 7 hari/minggu, 30 hari/bulan serasa kurang. Serasa tidak cukup untuk menegerjakan PR, segudang pekerjaan bisnis, di samping berbagai urusan lain. Seakan bisnis yang kita jalanin ini memang menjadi beban.

Lebaykah ini? Tidak juga. Tidak sedikit di antara kita niscaya merasakan keadaan yang sama. Di satu pihak kita sepertinya berpacu dalam waktu, di pihak lain kita terancam oleh target yang kita bikin sendiri. Dengan dana minim dan keserbaterbatasan, bisnis apa yang paling masuk akal untuk dikerjakan? Yang mana yang hendak diutamakan antara produksi dan pemasaran. Uraian berikut coba mengemukakan argumen mana yang sebaiknya didahulukan.

Orang-orang profesional, yang membuka bisnis skala kecil menengah, pasti lebih tergoda memikirkan manajemen sebagai langkah pertama. Apalagi sarjana lulusan manajemen. Jika berpatokan pada ‘saran profesional’ kurikulum kampus, mayoritas mereka bakalan bangkrut. Sebab, di kampus tidak diajarkan merancang skala prioritas dengan SDM dan elemen pokok yang terbatas. Situasinya sangat berbeda dengan perusahaan besar, yang SDM-nya keroyokan dan tidak ada masalah dengan kebutuhan kapital yang memang sudah terskenario rapi.

Kasus seperti inilah yang sering menjebak para pengusaha pemula. Kekeliruan bersikap di awal berkecimpung ini kerap menyebabkan mereka tersungkur dan, malangnya, tanpa bisa bangkit lagi. Jika pebisnis pemula terlambat membuat analisis profit dan cashflow, cerita bangkrut akan terjadi dalam hitungan bulan. Bisnis sudah jalan, tapi cashflow masih minus. Fix cost tiap bulan ngalir terus, sedangkan kapital pas-pasan. Tak sulit membayangkan ada jadinya, bukan? Anda pernah mengalami situasi seperti ini? Mudah-mudahan tidak.

Dala sebuah kultwit di twitter dari YEA dan Echamp, dikatakan “fokus ke pemasaran yang dapet duit dulu, benahin sistem belakangan”. Itu nasihat kongkret kepada pengusaha pemula yang modal dan SDM-nya terbatas. Bahwa para pemula harus fokus ke market dulu, dapetin dulu pangsa pasarnya, ciptakan dulu tren di mata masyarakat terhadap produk. Setelah performa cashflow bersahabat alias plus, setelah market terjaring, barulah benahi sistem dan berfokus pada pengembangan.

Bicara manajemen, ada empat aspek yang harus kita ketahui dalam bisnis : Pemasaran, Keuangan, Operasional, dan SDM. Nah, urutan seperti inilah yang paling relevan buat para perintis. Tidak ada cara lain selain menempatkan prioritas pada aspek pemasaran. Setelah duit mengalir, market terbentuk, barulah fokus dialihkan ke aspek berikutnya. Kalau tidak ada uangnya, apa yang harus dimanaje? Intinya, dengan waktu yang sangat terbatas, kapital terbatas, dan SDM terbatas, pemula kudu putar otak bagaimana mengoptimalkan bisnis.

Singkat kata, untuk pengusaha pemula yang serba mepet, dari segi modal, SDM, dan lain-lain, mulailah dengan keberanian. Anda berada di jalur yang tak diajarkan dalam text book. Di habitat bisnis skala kecil, istilah dari hulu ke hilir perlu dibalik. Kuasai dulu hilirnya, karena duit itu ada di hilir. Di sini wajar muncul pertanyaan, bagaimana halnya dengan produksi? Bukankah itu juga penting?

Ya. Itu juga penting, karena kualitas produklah yang akan menetukan kuat atau tidaknya brand kita, laris atau tidaknya produk kita. Karena itu, kita perlu bekerja sama dengan produsen yang sangat fokus pada masalah ini. Artinya, untung jadi tipis, dong? Ya, memang begitu. Yang penting perputaran cepat. Kearifan bisnis pengusaha yang layak dipegang, “Get the market first, reduce the production cost later”—pasar dulu, menekan biaya produksi urusan berikut. (dd)

Bagikan ke: