Cegah Fluktuasi Harga COD, NFA Siapkan Kebijakan

foto : Istimewa

JAKARTA (Peluang): Fluktuasi pasokan dan harga day old chick (DOC), telur ayam dan daging ayam, selalu terjadi di setiap tahun. DOC adalah anak ayam yang berumur sehari yang merupakan komoditas unggulan perunggasan hasil persilangan dari jenis-jenis ayam berproduktifitas tinggi yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Tingginya risiko harga jual DOC dibandingkan risiko harga jual disebabkan karena permintaan daging ayam yang lebih berfluktuatif dibandingkan dengan permintaan telur.

Produksi dan kebutuhan telur ayam ras tahun 2022 mengindikasikan adanya potensi surplus sebanyak 615 ribu ton atau 11,5 persen dari kebutuhan nasional. Kondisi fluktuasi harga dan cenderung berada dibawah biaya pokok produksi. Salah satunya diakibatkan oleh terjadinya oversuplai dibulan-bulan tertentu karena menurunnya kebutuhan akibat rendahnya permintaan.

Selain itu, peningkatnya biaya produksi karena kenaikan harga pakan dan DOC dan belum adanya mekanisme yang dapat memotong rantai pasok telur dari daerah-daerah sentra di Pulau Jawa, langsung didistribusikan ke daerah-daerah konsumen juga menjadi faktor yang menyebabkan fluktuasi terjadi.

Kepala Badan Pangan Nasional (NFA), Arief Prasetyo Adi mengatakan, NFA telah melakukan pertemuan dengan para pemangku kepentingan terkait untuk segera menyiapkan kebijakan guna mencegah fluktuasi harga yang kerap berulang setiap tahun.

Pertemuan tersebut bertujuan untuk menjaga stabilisasi pasokan dan harga DOC, telur ayam dan daging ayam ras dalam rangka medukung penguatan ekosistem pangan nasional.“Kebijakan sangat penting karena fluktuasi harga menjadi ancaman bagi kelangsungan usaha para peternak serta meresahkan masyarakat sebagai konsumen akhir,” ujar Arief.

Dalam pertemuan tersebut jelas dia, membahas sejumlah solusi di antaranya pengaturan harga acuan produsen dan pembeli (HAP) untuk membentuk keseimbangan baru, skema penyerapan melalui penguatan peran BUMN sebagai off taker, dan optimalisasi sarana/prasarana cold chain.

Berbagai solusi harus dapat menyelesaikan permaslaahan, karena harga yang tidak terkendali salah satunya disebabkan komitmen dalam penerapan HAP. Selain itu, HAP yang ada perlu ditinjau ulang dan disesuaikan berdasarkan harga pokok produksi (HPP) di lapangan.

NFA sebelumnya juga telah menyepakati HAP jagung yang selanjutnya akan di tetapkan melalui Perbadan. Hal serupa akan dilakukan untuk DOC, telur ayam, dan daging ayam. “Upaya menurut Arief dalam rangka membentuk keseimbangan baru guna memperkuat ekosistem pangan nasional, karena stabilisasi harga terbentuk ketika ekosistemnya baik.

Arief meminta peran BUMN sebagai off taker hasil peternakan terus diperkuat melalui dukungan pendanaan dengan menggandeng Bank BUMN atau Himbara. Selain itu penguatan peran Bulog dan Holding BUMN Pangan ID Food melalui PT Berdikari juga sangat penting. “BUMN menjadi ujung tombak dalam melakukan penyerapan di daerah sentra produksi khususnya kepada peternak mikro/kecil. Harga penyerapan mengacu HAP produsen agar peternak memperoleh keuntungan yang wajar,” tukas Arief.

Terkait penjualan atau penyaluran selanjutnya ditujukan ke wilayah defisit atau yang terindikasi memiliki harga yang tinggi. Pendistribusian berupa ayam ras/karkas atau telur konsumsi dilakukan melalui PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), tol laut atau jasa logistik lainnya. “Untuk monitoring, kami minta setiap perusahaan melaporkan hasil penyerapan dan penyaluran kepada NFA,” imbuhnya.

Adapun aspek lain yang harus diamankan adalah ketersediaan sarana dan prasarana pendukung. Dalam hal ini, pihaknya akan memperkuat kolaborasi untuk mengoptimalisasi cold storage atau cold room milik NFA, BUMN, atau swasta yang tersebar di berbagai daerah.

Upaya ini menurut Arief sangat penting guna memperpanjang waktu simpan telur dan daging ayam sehingga pengaturan stok bisa dilakukan lebih leluasa. Dan tentu beberapa usulan menjadi catatan penting yang akan dituangkan ke dalam Peraturan Badan Pangan Nasional (Perbadan).

Berdasarkan data Prognosa Neraca Pangan Nasional yang diolah NFA, ketersediaan telur ayam dan daging ayam sampai dengan Desember 2022 berada di posisi aman. “Adapun, telur ayam diperkirakan surplus sebesar 191.862 ton, sedangkan daging ayam surplus 903.267 ton,” ujar Arief.

Sedangkan, untuk perkembangan harga berdasarkan data yang dilansir Panel Harga Pangan NFA, pada 5 Agustus 2022 tercatat harga daging ayam rata-rata nasional Rp 35.703 per kg. Sementara harga rata-rata nasional telur ayam Rp 27.757 per Kg. Dengan kata lain, masing-masing turun 0,83 persen dan 0,66 persen dibanding harga sehari sebelumnya.

Untuk mencegah peningkatan fluktuasi, NFA tengah gencar menyiapkan regulasi untuk membenahi tata kelola pangan nasional. Sebelumnya NFA melalui Kedeputian Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan telah mengidentifikasi dan merumuskan solusi untuk permasalah komoditas jagung dengan mengumpulkan seluruh stakeholder jagung nasional. Selanjutnya, akan dilakukan review dan evaluasi serupa untuk komoditas pangan lainnya.

“Untuk masuk ke DOC, telur ayam, dan daging ayam, itu diperlukan terobosan untuk pembenahan tata kelola masing-masing komoditas. Fokus utamanya penguatan ekosistem pangan.Ini sesuai arahan Presiden agar pemerintah fokus mengantisipasi ancaman krisis pangan, krisis energi, dan krisis keuangan global,” pungkasnya.

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.