Cara FBI & Kejaksaan Swis Memberangus Tikus

Selidiki, lacak, siapkan seluruh bukti, tangkap. Begitu logika lempeng FBI (Federal Boureau Investigation) AS yang kemudian didukung Kejaksaan Swis untuk klarifikasi isu permainan uang di tubuh FIFA. Dalam kearifan yang sangat kita maklumi: tangkap tikusnya, bukan bakar lumbungnya.

 

Hari Rabu, pagi-pagi buta, di hotel mewah Baur au Lac Hotel di Zurich, Swis. Dua hari jelang persiapan pemilihan Presiden FIFA Jumat (29/5/2015). Enam petinggi FIFA ditangkap FBI dan pihak berwenang Swis. Dipastikan, keenam pejabat FIFA yang menduduki posisi penting ditangkap Kepolisian Federal Amerika Serikat (FBI) dan Kejaksaan Swiss terkait dugaan korupsi, penyalahgunaan wewenang, kecurangan, penggelapan pajak, cuci uang (money laundering), penyuapan hingga pelanggaran pemasaran dan hak siar pertandingan.

FIFA

Penangkapan terjadi beberapa jam setelah Prince Ali Bin Al Hussein mengungkapkan praktik gelap jelang pemilihan Presiden FIFA. Menurut Prince Ali, seseorang menawarinya 47 suara demi memenangi pemilihan presiden, berikut data-data terkait aliran keuangan Sepp Blatter, kandidat terkuat calon Presiden FIFA. Prince Ali menindaklanjuti kasus tersebut ke biro penyelidikan (Quest) di Inggris dan meneruskan ke penyelidikan kepolisian.

Peristiwa itu bukan sekonyong-konyong, walau ujung ceritanya demikian. Di belakang penagkapan itu ada proses panjang. Sebagaimana dilansir New York Daily News (27/5), kasus korupsi ini sudah ditangani FBI sejak 2011. Ketika itu, Chuck Blazer, seorang anggota Komite Eksekutif FIFA asal Amerika, menjadi saksi atas sejumlah kasus suap dan korupsi di organisasi ini. Dalam pernyataan resminya, Federasi Hukum Swiss menyebut, penangkapan dilakukan terkait praktik korupsi Piala Dunia 2018 dan 2022, yang akan digelar di Rusia dan Qatar.

Empat dari enam pejabat FIFA yang digarap adalah Wakil presiden FIFA, Jeffrey Webb dan Eugenio Figueredo mantan anggota komite eksekutif, Jack Warner, dan presiden federasi Kosta Rika, Eduardo Li. Pelacakan penyidik AS atas 75 rekening, Jack Warner kembali teridikasi melakukan penggelapan uang milik FIFA. Yaitu dana bantuan dari otoritas sepak bola dunia itu dan asosiasi sepak bola Korsel untuk korban gempa di Haiti pada 2010. Namun, bantuan US $900 ribu itu dikabarkan tak pernah sampai ke tujuannya.

Pengembangan penyidikan Jaksa Agung Swiss (OAG) terhadap para terduga pelaku pidana menemukan dan menyita data elektronik dan dokumen di markas pusat FIFA, Zurich. Di sisi lain, Departemen Kehakiman AS juga mengeluarkan pernyataan adanya muara praktik korupsi yang diduga berlangsung sejak era 1990-an. “Dua generasi pejabat organisasi sepakbola tertinggi diduga terlibat skandal korupsi ratusan juta dolar dan penyuapan,” ujar Jaksa Agung Loretta Lynch.

Kasus korupsi di FIFA menjalar ke penyelenggaraan Piala Dunia 2014. Diduga ada keterlibatan eks Presiden Federasi Sepakbola Brasil (CBF), Ricardo Teixeira. FBI kini tengah menyelidiki hubungan antara Teixeira dan Sekjen FIFA, Jerome Valcke, yang belakangan diduga tersandung kasus suap US $10 juta. “Penyuapan bermula pada 2004 dan terus berlanjut hingga 2011,” kata Chuck Blazer, mantan Anggota Komite Eksekutif FIFA, kepada Hakim Raymond Dearie.

“Kami juga setuju menerima suap dari pembayaran hak siar dan lainnya pada penyelenggaraan Piala Emas 1996, 1998, 2000, 2002, dan 2003,” lanjut mantan sekretaris jenderal CONCACAF zona Amerika Utara Tengah beserta lima pejabat FIFA, yang mengaku bersalah atas tuduhan itu. Blazer bahkan mengakui menerima suap dalam pencalonan tuan rumah Piala Dunia 1998 di Prancis dan Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. FBI memperoleh fakta, Blazer menunggak pajak selama 10 tahun dan menutupi pembukuannya tersebut selama 20 tahun.

Menteri Olahraga Afrika Selatan Fikile Mbalula mengonfirmasi bahwa pihaknya membayar dana hingga US$10 juta demi membantu Piala Dunia 2010. Meski begitu, Mbalula menolak hal tersebut sebagai suap sebagaimana dituduhkan otoritas hukum Amerika Serikat. Bagi Mbalula, dana itu mungkin dianggap sebagai bentuk ungkapan terima kasih yang wajar-wajar saja.

Belakangan, pemerintah Swis juga memulai penyelidikan terkait kemungkinan adanya suap dalam proses penunjukkan tuan rumah Piala Dunia 2018 dan 2022 di Rusia dan Qatar. Ketua independen komite audit dan keuangan FIFA, Domenico Scala, yang menjadi kunci reformasi di organisasi ini menegaskan akan membatalkan hak kedua negara tersebut jika ditemukan bukti adanya penyuapan.

Besaran anggaran dalam berbagai event yang dikelola FIFA sugguh fantastis. Piala Dunia Brazil 2014 musim panas ini dipastikan telah memakan dana tertinggi dalam sejarahnya, yakni sekitar US $11,5 miliar atau setara Rp142 triliun, yang sebagian besar berasal dari kas pemerintah Brasil. Pesta bola sejagat empat tahunan ini dengan label: Beautiful Game. Banggakah rakyat Brazil? Tidak. Di tengah kemiskinan negeri itu, harga pesta ini yang terlalu mahal: £7,6 miliar/Rp140 triliun, lebih dari 3 kali APBD DKI 2013 (Rp46,27 triliun), atau 35 kali menggelar Pilpres Indonesia (Rp 4 triliun).

Piala Dunia 2006. Jerman, Biaya: €3,7 miliar (sekitar Rp59,3 triliun), Pendapatan bersih: €56,6 miliar (sekitar Rp908,2 triliun). Piala Dunia 2010, Afrika Selatan, Biaya: £3 miliar (sekitar Rp58,3 triliun), Pendapatan kotor: £234 juta (sekitar Rp4,5 triliun); Piala Dunia 2014, Brasil, Biaya: US $14,5 miliar (sekitar Rp168 triliun). Jumlah ini, menurut perkiraan Bloomberg, termasuk biaya untuk stadion yang membengkak dari US$ 1 miliar menjadi US $3,5 miliar.

Bagikan ke: