Bupati Katingan Ahmad Yantenglie, SE NASIONALISME DI PUNCAK BUKIT RAYA

Bupati Katingan Ahmad Yantenglie berkomitmen kuat menjaga bumi Borneo sebagai paru-paru dunia. Keikutsertaannya  dalam ekspedisi Jelajah Wisata Budaya bersama 1000 jurnalis jadi ajang mengenalkan Katingan sebagai objek baru wisata budaya kelas dunia.

Pulau Kalimantan selama ini dikenal sebagai paru-paru dunia. Dengan hutan alam yang terbentang luas, daerah ini menjadi andalan untuk mengurangi pemanasan global. Untuk itu, konservasi hutan menjadi pilihan yang logis agar dunia tetap hijau dan bersih. Kabupaten Katingan Provinsi Kalimantan Tengah menjadi garda depan dalam mewujudkan harapan masyarakat
dunia tersebut. Ini tidak berlebihan karena secara geografis Katingan berada tepat dijantung Borneo. Di bumi Penyang Hinje
Simpei (bahasa Ngaju) yang artinya hidup rukun dan damai untuk advertorial kesejahteraan bersama ini, kepedulian lingkungan bukan hanya sebatas jargon. Buktinya, Bupati Katingan Ahmad Yantenglie pada tahun lalu meluncurkan gerakan “Konservasi Katingan untuk Borneo” dan “Kasongan Kota Hijau”. Kota Kasongan sendiri merupakan ibukota Katingan. Langkah ini untuk mencapai visi Katingan yaitu Cerdas, Sehat, Terbuka. “Aspek lingkungan menjadi basis dari semua proses pembangunan di Katingan,” Ahmad Yantenglie. Pemkab Katingan menjadikan 37,7 persen lahan dari total luas wilayah sebesar 17.800 km2 sebagai daerah konservasi. Wilayah konservasi di bagian utara Katingan berbatasan dengan Taman Nasional Bukit Raya dan hutan pendidikan yang dikelola Universitas Palangka Raya seluas 5 ribu hektare. Hal ini menunjukkan komitmen
pada kelestarian alam bukan isapan jempol belaka. Sedangkan target menjadikan Kasongan Kota Hijau dibuktikan dengan keberadaan Kebun Raya Katingan seluas 127 hektare.

Selanjutnya sedang dipersiapkan hutan kota seluas 126 hektare yang
meliputi kiri dan kanan sungai Sala yang membelah Kasongan. Selain itu, saat ini sedang dipersiapkan peraturan daerah (Perda) tentang alokasi Ruang Terbuka Hijau (RTH).  Selain itu, diadakan kegiatan Ekspedisi Jelajah Wisata Budaya 1.000 Jurnalis. Kegiatannya antara lain pendakian Bukit Raya yang memiliki ketinggian 2.278 meter diatas permukaan laut. Dalam kegiatan ini, Bupati dan istri berhasil mencapai puncak bukit sekaligus menancapkan bendera Merah Putih saat HUT RI ke-70 tahun, Agustus lalu. Diperlukan waktu 4 hari untuk mencapai puncak bukit itu karena medan yang tidak ringan.  Sekadar
informasi, Gunung Bukit Raya merupakan gunung tertinggi di Kalimantan yang termasuk wilayah Indonesia. Letaknya berada di perbatasan Kalbar dan Kalteng dan merupakan bagian dari Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya. Konon, dari sinilah berasal seluruh air sungai besar Kalimantan seperti Barito, Mahakam, dan Kapuas. Sehingga sering dijuluki dengan
Danum Kaharingan Dehum (bahasa Dayak) yang artinya air sumber kehidupan.

arung jeram

Bukit Raya mempunyai medan cukup menarik dan menantang. Pasalnya, tidak hanya dibutuhkan stamina yang prima, namun juga harus punya nyali dan mental kuat. Kondisi track yang cukup ekstrim, sehingga harus ekstra hati-hati. “Kalau salah sedikit kita mendaki, bisa mengorbankan nyawa jatuh kejurang dari ketinggian, sebab kontur Bukit Raya bentuknya pipih,” ungkap Bupati.

Gunung Bukit Raya juga kaya  dengan keindahan flora dan fauna endemik. Salah satunya, berbagai jenis anggrek yang banyak ditemukan di lembah-lembah bukit. Selain itu, juga ada medan arung jeram dikaki bukit. Kegiatan ekspedisi yang berlangsung
mulai 8 – 23 Agustus itu bersifat umum yang diikuti jurnalis dari berbagai media dan daerah. Dibantu pula oleh kelompok mahasiswa pecinta alam (Mapala) dari banyak kampus di Tanah Air. Ekspedisi Jelajah Wisata Budaya 1.000 Jurnalis itu diisi pula dengan kegiatan Tiwah Massal. Upacara adat Dayak Tiwah itu digelar di Desa Tewang Rangas, Kecamatan Tewang Sanggalang Garing Kabupaten Katingan. Upacara Tiwah ini merupakan ritual untuk meluruskan perjalanan almarhum menuju lewu tatau (surga dalam Bahasa Sangiang). Sehingga arwah yang bersangkutan bisa menjalani dengan tenteram dan damai di alam Sang Kuasa. Selain itu, ritual adat Tiwah merupakan prosesi suku Dayak untuk melepas kesialan bagi keluarga almarhum
yang ditinggalkan. Yakni, dari pengaruh-pengaruh buruk yang menimpa. Pelaksanaan Upacara Tiwah massal ini merupakan wujud kepedulian terhadap pelestarian nilai-nilai dan kekayaan budaya khususnya yang ada di Kabupaten Katingan yang telah berlangsung sejak zaman nenek moyang.

Bagi Suku Dayak, sebuah proses kematian perlu dilanjutkan dengan ritual lanjutan (penyempurnaan) agar tidak mengganggu kenyamanan dan ketentraman orang yang masih hidup.  Selanjutnya, Tiwah juga bertujuan untuk melepas ikatan status janda atau duda bagi pasangan berkeluarga.Pasca Tiwah, secara adat mereka diperkenakan untuk menentukan pasangan hidup selanjutnya ataupun tetap memilih untuk tidak menikah lagi.

Bagikan ke: