Bupati Kabupaten Mukomuko Drs. H. Ichwan Yunus ACP, MM Saya Belum Puas Mengabdi kepada Masyarakat Bengkulu

Satu dasawarsa pengabdian di Mukomuko usai sudah. Jalan, rumah sakit, hingga lapangan terbang tertata sudah. Kluster pertanian dan perkebunan pun terbenahi. Buah kepemimpinannya dirasakan masyarakat, diapresiasi di tingkat Pusat. Dengan semangat dan stamina yang begitu besar, tekad Ichwan Yunus bulat untuk lanjut mengabdi bagi kemajuan provinsi ‘kapuang sakti rantau bertuah’.

 

MUKOMUKO pada usia ke-12 bolehlah bertepuk dada. Kinerja positifnya berada di atas rata-rata 9 kabupaten lain di lingkungan Provinsi Bengkulu. Mengapa bisa secepat itu? Kata kuncinya adalah konsep yang pas disertai kerja keras semua pihak di lingkungan pemerintah Kabupaten Mukomuko di bawah kepemimpinan Drs. H. Ichwan Yunus, CPA, MM. Bupati senior ini adalah sosok pemimpin kharismatik, energik, dan berdaya guna. Totalitas bakti Ichwan selama dua periode mengantarkan Mukomuko jadi kabupaten yang pantas dijadikan percontohan.

“Saya masih mempunyai semangat yang tinggi. Untuk itu, alangkah baiknya semangat ini saya gunakan untuk menunjukkan sesuatu yang berharga bagi masyarakat,” ujar Ichwan ketika dihubungi PELUANG pekan lalu. Yang dimaksud, tak lain tak bukan, adalah kesiapan dirinya sebagai kontestan dalam Pilkada simultan gelombang pertama, Desember 2015.

Pascamoratorium di pengujung 2014, penyelenggaraan pilkadasung memang digelar secara serentak. Gelombang pertama (dari 7 gelombang yang dijadualkan s/d 2023) akan digelar Desember 2015 untuk kepala daerah yang masa jabatannya berakhir pada 2015. Di Provinsi Bengkulu, selain Pilgub, juga dipentasan Pilbup di enam kab/kota, yakni Kab Mukomuko (15/08), Kab Seluma (16/08), Kab Kepahiang (30/08), Kab Lebong (30/08), Kab Bengkulu Selatan (16/09), dan Kab Rejang Lebong (17/09).

mukomuko

Mendahului yang lain-lain, H. Ichwan Yunus mendeklarasikan kesiapannya bersaing dalam Pemilihan Gubernur Bengkulu periode 2015-2020. Tekad Ichwan Yunus untuk menjadi orang nomor satu di Provinsi Bengkulu bulat sudah. “Saya merasa belum puas mengabdi kepada masyarakat Bengkulu. Saya masih ingin berbuat lebih banyak untuk Provinsi Bengkulu yang kita cintai ini. Untuk itu, saya mohon dukungannya dalam Pilgub 2015 mendatang,” ujarnya, beberapa waktu lalu.

Prinsip istiqomah sangat dipelihara Ichwan dalam menjalankan tugasnya. Yakni bekerja sungguh-sungguh, dengan target yang ketat, dan di atas segalanya: ikhlas. “Kita bekerja tanpa konflik kepentingan. Segala daya dan upaya tercurah untuk kepentingan masyarakat. Dalam hidup ini, kita harus selalu menumbuhkan harapan. Apa pun hambatan dan tantangan akan dapat diatasi, dengan modal percaya diri yang kuat. Umur boleh tua tapi spirit harus selalu berkobar. Jika kita menetapkan harus ada (sesuatu yang besar dan bermakna) yang ingin dicapai. Dan itu biasanya terjadi.”

Tantangan yang bagi Ichwan sangat jelas di depan mata adalah, “Provinsi Bengkulu membutuhkan banyak pembenahan, baik dalam pembangunan infrastruktur maupun tatanan birokrasi, di samping menopang kemampuan ekonomi masyarakat. Mengacu pada Mukomuko, Ichwan melihat Argo Makmur, daerah selatan, perlu digarap intens untuk produksi pertanian. “Jika saya jadi Bengkulu-1, maka Argo Makmur akan saya sisir dan kaji. Kita duduk bersama, dengan serius menghitung produksi, potensi, hasil dan lain-lain. Saya bentuk tim pakar. Ada kelemahan kita yang agak umum dalam memulai suatu pekerjaan. Padahal, perencanaan tanpa data pasti ngawur.”

Enam tahun Ichwan Yunus menolak jatah beras miskin (Raskin) dari Pemerintah Pusat untuk warganya bukan tanpa alasan. Selain kualitas beras itu kerap tidak bagus, subsidi cenderung menimbulkan sikap malas dan ketergantungan, produksi pertanian padi Mukomuko pun relatif maju. Masa tanam-panen yang tiga kali setahun ditopang oleh penggunaan mesin pemanen. Untuk 1 ha areal persawahan hanya membutuhkan waktu 2 jam. Penerapan itu, tambah Ichwan, memang baru diterapkan di Kecamatan Air Majunto.

“Sistem panen menggunakan mesin itu sudah kita lakukan 2 tahun terakhir, kecamatan lain menyusul. Tahun ini mesin pemanen akan kita tambah empat unit lagi.” Ichwan yakin, Mukomuko dengan moto ‘Kapuang Sakti Ratau Batuah’ ini akan dapat menjadi lumbung padi. Sebab, secara bertahap pembenahan sarana dan prasarana penunjang untuk menggalakkan penanaman padi mulai berangsur diperbaiki. “Sarana penunjang mulai dibangun, seperti irigasi dan lainnya. Kebutuhan pupuk, bibit padi berkualitas terus kita berikan dengan warga.”

Dalam dua tiga kali percakapan langsung dan via telepon dengan PELUANG, Ichwan tak lupa menyebut lemahnya entrepreneurship di kalangan birokrat. Rekam jejaknya sebagai eksekutif puncak di Kabupaten Mukomuko 10 tahun terakhir telah lebih dari bicara tentang kapasitas dirinya. Jika ditarik nun jauh ke belakang, terobosan manajerial Ichwan Yunus 31 tahun silam, dalam posisinya sebagai Direktur Muda Akutansi di PLN, menghasilkan blue print yang dimanfaatkan PLN hingga hari ini.

Ketika itu dia menjabat Kepala Sub Direktorat Pemeriksaan Kas Negara di Departemen Keuangan. PLN tengah dililit masalah kontrol keuangan. Persoalannya, kewenangan pembayaran BBM kepada pihak Pertamina ada di wilayah masing-masing dimana terdapat PLTD. Akibatnya, sebagian besar uang PLN mengendap di wilayah, sedangkan kas PLN Pusat kosong melompong. Direktur Keungan PLN Pusat nyaris tidak memegang uang sama sekali.

Ichwan muncul dengan pendapat/saran kepada Direktur Keuangan PLN Pusat supaya pembayaran BBM dilakukan tersentralisasi. Pihak Pertamina setuju dengan ide itu. Syaratnya hanya satu, PLN harus deposit sebesar Rp25.000.000.000 (dua puluh lima miliar rupiah). Tanpa pikir panjang, Ichwan menyatakan deal. Keputusan tersebut tergolong berani, untuk tidak menyebut nekad. Sebab, di samping uang Rp25 miliar saat itu (tahun 1984) adalah jumlah yang sangat besar; Ichwan sendiri sadar persetujuan kesanggupan tersebut melampaui kapasitas kewenangannya.

Keyakinan kuat Ichwan bahwa atasannya akan menyetujui persyaratan yang diberikan Pertamina. Dimulai dari deposit Rp25 miliar kepada Pertamina, pada waktu yang sama, penarikan uang dari wilayah-wilayah PLN ke rekening PLN pusat untuk pembayaran BBM ke Pertamina mulai dilakukan. Dalam tempo kurang dari satu minggu, saldo di rekening PLN pusat mencapai Rp400 miliar, dari yang tadinya nihil. Atas langkah besar seperti itu, wajar saja Ichwan diganjar dengan ­ yang setimpal, uang tunai Rp2,5 miliar plus sebuah Mercy anyar.

Berbekal jam terbang dan sederet pencapaiannya selama menjadi imam di Mukomuko, dia menawarkan diri untuk menjadi solusi bagi Bengkulu—jika rakyat memberinya mandat. “Provinsi ini perlu pembenahan infrastruktur. Hampir 60% jalan provinsi rusak. Pengelolaannya selama ini tidak sinkron dengan pembangunan infrastruktur di kabupaten-kabupaten, Hal penting lainnya, kemampuan dan kekuatan ekonomi masyarakat perlu ditopang.” Dengan kepercayaan diri yang tinggi dan dalam nada berseloroh Ichwan Yunus bilang, “Umur saya masih muda, ‘baru’ 75 tahun. Semangat saya tidak kalah dengan anak muda, Mas…”

Arena kontestasi politik Provinsi Bengkulu di pengujung tahun ini bakalan ketat. Di daftar bursa sementara, santer disebut-sebut sembilan nama yang bakal berkompetisi bersama Ichwan Yunus. Mereka adalah Junaidi Hamsyah (gubernur incumbent), Sultan Bachtiar Nadjamuddin (Wagub), Ridwan Mukti (Bupati Musirawas/Partai Golkar), Bando Amin C. Kader (Bupati Kepahiang), Imron Rosyadi (Bupati Bengkulu Utara), Suheman (Bupati Rejang Lebong), Mishal Yoftai Suud (PDIP), dan Dwi Anggraini (advokat). Pada saatnya, bukan tak mungkin muncul kuda hitam. Jika benar itu yang terjadi, Pilkada dua putaran menjadi sulit terhindarkan.

Perburuan kandidat mendapatkan perahu politik telah berlangsung sedikitnya sepanjang 7-8 bulan belakangan. Sebagaimana diketahui, dari ajang Pemilu 2014, Partai NasDem di Bengkulu memperoleh 130.767 suara (mengungguli PDIP 11.543 suara). Satu-satunya provinsi yang dimenangi NasDem, sebagaimana Gerindra di NAD—selebihnya Golkar, PDIP, PAN, Demokrat. Angka partisipasi pemilih di Bengkulu pada Pemilu 2014 tercatat 79,07% dari total DPT sebanyak 1.395.535 pemilih, dengan suara tidak sah 182.578 (16,5%).

Seakan tak berharap banyak dari ‘restu’ partai baik sebagai pengusung maupun pendukung, Ichwan memastikan pilihan paling logis baginya adalah maju melalui jalur independen. “Kalau nantinya berkoalisi, wakilnya tentu berdasarkan kesepakatan partai pengusung dalam koalisi. Yang pasti, balon wagub yang akan mendampingi saya nanti berusia lebih muda. Dia dari Kabupaten Bengkulu Selatan. Tapi tidak etis kalau saya mengatakan namanya sekarang.”

Berangkat dari sukses mengelola Kabupaten Mukomuko bermodalkan, “Kerja keras, peduli, menyentuh kepentingan masyarakat, mau dan yakin, dalam 5 tahun pertama, apa yang saya targetkan sudah dirasakan masyarakat. Saya merasa sudah on the right track.” Pencapaian tersebut, menurut Ichwan, “Dulu saya tidak menceritakannya, tapi masyarakat yang bercerita ke mana-mana tentang kemajuan Mukomuko.”

Medan politik terjal di era pencitraan dan tingginya political cost, yang kian sulit dibedakan dari praktik money politics, disongsong Ichwan Yunus dengan tegar. “Saya tetap akan memilih jalur independen. Saya tidak membentuk Tim Sukses karena hal itu (tak terhindarkannya konsekuensi financial supporting di sana) dapat memicu kecemburuan yang lain. Saya hanya mengandalkan relawan. Jualan politik saya pun normatif saja, ‘menyejahterakan masyarakat’ sebagaimana telah saya buktikan di Kabupaten Mukomuko,” pungkasnya

Bagikan ke: