Bunga Pinjaman LPDB  turun satu persen 

 

Lembaga Pengelola Dana Bergulir mempertegas komitmennya sebagai  stimulus permodalan koperasi usaha mikro kecil dan menengah yang tak mengedepankan profit. Memasuki tahun 2017 bunga pinjaman kembali dipangkas dari semula 8% menjadi 7% per tahun.

indonesia-gift-expo

Gagasan AAGN Puspayoga mereformasi  perkoperasian di tanah air terbukti mampu membuat kinerja  koperasi membaik. Selain menguatnya tingkat kepercayaan  lantaran dikeluarkannya daftar koperasi non-aktif dari data base pemerintah, kontribusi koperasi terhadap  produk domestik bruto (PDB)  tumbuh amat signifikan, yakni sebesar 23,12 persen atau Rp 2.667 triliun dari total PDB 2015.  Bandingkan dengan pernyataan pemerintah di depan rapat dengar pendapat dengan DPR-RI awal tahun lalu, dimana kontribusi koperasi terhadap PDB hanya 1,7%.

Untuk lebih menggerakkan ekonomi koperasi, pemerintah memberikan stimulus berupa penyediaan pinjaman dengan bunga murah, yaitu Kredit Usaha Rakyat (KUR)  dan Dana Bergulir Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB).

“Bunga LPDB maupun KUR akan terus kami turunkan agar  KUKM bisa naik kelas, bahkan memasuki tahun 2017 ini bunga  pinjaman LPDB untuk Koperasi Simpan Pinjam (KSP) turun dari 8% menjadi 7%,” kata  Menteri Kopeasi UKM, AAGN Puspayoga, saat menggelar Konferensi Akhir Tahun, Kamis 29/12/16 di Jakarta.

Jika dengan suku bunga yang semakin rendah ini, tapi pengembaliannya masih juga macet, itu namanya sudah moral hazard,” tegasnya.

Komitmen  LPDB  sejak didirikan memang untuk membantu perkembangan  koperasi dan UKM.  Ini terkait dengan kesulitan  mendapatkan akses permodalan dari perbankan (unbankable). Padahal sektor perekonomian paling menggeliat justru berada di lapisan usaha mikro kecil dan menengah.  Kontribusi UKM terhadap PDB nasional tercatat sebesar 61,41% atau Rp 6.228 triliun.

Sebelumnya, dalam acara Temu Mitra LPDB Nasional 2016,

Dirut LPDB Kemas Danial memang sudah mengisyaratkan bakal adanya penurunan suku bunga pinjaman dana bergulir LPDB. Kebijakan itu seiring dengan rencana pemerintah yang segera akan menurunkan suku bunga KUR dari 9% menjadi 7%.

Kemas mengatakan, penurunan suku bunga LPDB  dilakukan  untuk membantu kebutuhan permodalan para pelaku koperasi dan UKM dan akan efektif diterapkan mulai tahun 2017.

Selama ini, LPDB memberlakukan dua jenis tarif layanan kepada para pelaku koperasi dan UKM. Pertama, untuk skim sektor riil, dengan bunga 4,5% per tahun (sliding), dan kedua, untuk skim simpan pinjam dengan bunga 8% per tahun (sliding).

Selain penurunan suku bunga,  LPDB  akan membatasi besaran suku bunga dari Koperasi kepada para anggotanya (end user) sebesar 18% per tahun (sliding) atau sebesar 9,19% per tahun (flat) atau kira-kira hanya sebesar 0,77% per bulan.

Hingga Desember 2016,  LPDB telah menyalurkan dana bergulir sebesar Rp 8,07 triliun kepada 964.353 UMKM melalui 4.248 mitra di seluruh Indonesia. Realisasi penyaluran dana bergulir sepanjang tahun 2016 sebesar Rp 1,2 triliun yang disalurkan kepada 148.251 UMKM, melalui 175 mitra. LPDB berhasil menekan tingkat kredit bermasalah (non-performing loan-NPL)  sejak dua tahun terakhir yang  terakumulasi sebesar 0,47%.

Selain menyalurkan pinjaman, lembaga ini juga punya tugas tidak ringan yaitu menghimpun kembali dana bergulir Program Kemenkop UKM  tahun 2000-2007 sebesar Rp 3,085 triliun. Hingga per Juni 2016, dana yang terserak di sejumlah rekening koperasi penerima program itu berhasil ditarik ke rekening LPDB sebesar Rp 853 miliar. Menghimpun kembali dana yang sudah lama mengendap di koperasi bukan pekerjaan mudah. Fakta di lapangan menunjukan adanya diskontinuitas antara pengelola koperasi penerima program dengan aparat dinas koperasi setempat.  Namun demikian, LPDB tetap melakukan pelacakan dana tersebut  melalui  pertemuan  rutin dengan dinas koperasi di daerah, pengurus koperasi, bank pelaksana program dan terutama dengan deputi di lingkungan Kemenkop UKM yang di masa lalu (2000-2007) menjadi penggerak utama  penyaluran dana bergulir. Sepanjang 2016, LPDB mengadakan Rapat Koordinasi Pelaksanaan Pengalihan  Dana Bergulir di berbagai daerah antara lain Samarinda, Solo, Kendari, Bukiittinggi, Batam, Malang, Gorontalo  dan Semarang.

rakor-lpdb

 

BENTUK TASK FORCE DAERAH

Kendala dihadapi Badan Layanan Umum (BLU) yang sudah beroperasi selama 10 tahun  ini, masih tetap sama, yaitu jangkauan operasional yang terbatas. Padahal mitra usaha dilayani  tersebar di berbagai pelosok tanah air.

Masalahnya adalah status lembaga ini yang hanya satuan kerja dari Kemenkop UKM.  Berdasarkan UU No. 39/2008 tentang Kementerian Negara, Kemenkop UKM termasuk  dalam kementerian yang mengurusi pemerintahan dalam rangka penajaman, koordinasi dan sinkronisasi program pemerintah sehingga tidak memiliki kantor wilayah di daerah. Hal ini menyebabkan LPDB sebagai satuan kerja dari Kementerian Koperasi dan UKM, tidak diperkenankan untuk membuka kantor cabang di daerah.

Untuk menyiasati permintaan dan penyebaran dana bergulir ke pelosk daerah, LPDB menjalin kerja sama dengan lembaga terkait, seperti dinas koperasi di tingkat provinsi, kabupaten dan kota,  organisasi berbasis pengusaha seperti Kadin, Hipmi, Iwapi serta lembaga strategis lainnya.

Sejak tahun lalu, lembaga ini mendapat kelonggaran operasional dengan dizinkannya membuka tim task force atau satuan tugas (satgas) di daerah. Satgas yang sudah terbentuk adalah di Solo (Jawa Tengah ) dan Makassar (Sulawesi Selatan). Kedua daerah ini mendapat prioritas, karena Jateng merupakan provinsi penyerap dana bergulir terbesar (Rp 2011 triliun), sedangkan Sulsel mendapat perhatian khusus karena tingkat kredit bermasalah relatif tinggi.  Tahun ini LPDB akan membuka tiga lagi unit satgas, yaitu di Balikpapan (Kalimantan Timur), Denpasar (Bali) dan Medan (Sumatera Utara).

Tingkat kepercayaan terhadap pengelolaan manajemen di lembaga ini, untuk  tahun 2017 pemerintah menambah pagu pembiayaan sebesar Rp 1,5 triliun, sebesar Rp 500 miliarnya berasal dana tambahan dari Anggaran Belanja dan Pendapatan Negara.

 

 

Bagikan ke:

One thought on “Bunga Pinjaman LPDB  turun satu persen 

  1. Sin Fantino las transmisiones de Top Race mejoraron, aunque Cali grita como si estuviera en la radio y los que miramos la carrera no la estuvieramos viendo. ahora che, ¿como puede ser que no tengan camaras en los autos?

Comments are closed.