Bulog Sebut Impor Jagung Tidak Wajib Dijalankan

Ilustrasi-Foto; Jitu News.

JAKARTA—-Meskipun keputusan Rakortas awal Januari 2019, di mana Kementerian Perdagangan (Kemendag) kembali mengeluarkan izin impor jagung tambahan sebesar 30 ribu ton, namun menurut Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso izin impor jagung sebesar 30 ribu ton itu  tidak wajib dijalankan, jika kebutuhan tersebut bisa dipenuhi oleh jagung produksi dalam negeri.

“Tidak harus dilaksanakan. Kalau dapat dipenuhi dalam negeri, mengapa harus impor?” cetus Buwas saat ditemui usai rapat koordinasi terbatas (rakortas) pembahasan jagung di Kemenko Perekonomian Jakarta, Selasa (22/1).

Menurut pria yang karib disapa Buwas itu  Bulog mendapat impor jagung 99 ribu ton dari total yang dipesan 100 ribu ton.  Hal itu pas dengan izin impor jagung yang dikeluarkan Kementerian Perdagangan pada Desember 2018.

Seluruh jagung yang sudah masuk sebesar 99 ribu ton tersebut sudah didistribusikan langsung sesuai kebutuhan peternak. Pendistribusian langsung tersebut dilakukan,   karena Bulog tidak memiliki gudang khusus untuk jagung.

Namun  dia mengakui sebaran distribusi jagung impor tidak merata. Masalah distribusi ini wajar karena pemerintah memutuskan kuota impor jagung sesuai kebutuhan yang dilaporkan pada rakortas.

“Kita ini mengimpor berdasarkan kebutuhan kelompok peternak yang dilaporkan pada kita, maka kita angkat dalam rakortas. Setelah kita putuskan, ternyata banyak peternak lain yang minta,” ungkap Buwas seperti dilansir Antara.

Hingga saat  ini Bulog belum membuka lelang untuk impor jagung tambahan sebesar 30.000 ton. Dengan kondisi lahan jagung Indonesia yang memasuki panen raya mulai Februari, Maret hingga April mendatang, Buwas mempertimbangkan kebutuhan jagung pakan ternak tersebut bisa dipenuhi dari produksi dalam negeri.

“Kita lihat perkembangannya, ini kan harus dilihat soal panen, kita akan hitung ulang. Kalau nanti ternyata bisa dipenuhi dalam negeri, kita tidak perlu (impor),” tutup dia.

 

 

Bagikan ke: