Budidaya Kerapu

Setelah empat  tahun, jatuh bangun mengembangkan budidaya ikan kerapu,  Herman Halim, tetap ngotot tidak mau menyerah.  Keyakinannya beralasan karena pasar ekspor Kerapu memang sangat menjanjikan. 

Budidaya Krapu

Dibukannya kembali izin kapal asing pengangkut ikan hasil budidaya memberi angin segar bagi pebisnis budidaya ikan kerapu.  Sejumlah daerah yang selama ini dikenal sebagai sentra budidaya kerapu, seperti Natuna Kepri, Belitung, Lampung, Situbundo Jatim sontak bergairah, karena ekspor ikan bernilai ekonomis tinggi itu kembali menggeliat.

Kebijakan Menteri Kelautan itu bagi petambak dan nelayan di Pantai Mandeh Sumatera Barat sama artinya menghidupkan kembali roda ekonomi yang hampir lima bulan lesu. “Terima kasih kepada Ibu Menteri yang telah mengijinkan kembali izin kapal asing pengangkut ikan, saya gak bisa bayangkan ikan kerapu yang sudah panen mau dijual kemana, kata petambak kerapu Herman Halim (52).

Saat ditemui di area tambak ikannya di  kawasan Mandeh Pesisir Selatan, dengan bangga dia menunjukkan ribuan ekor ikan kerapu yang siap ekspor.  Di bawah bendera usahanya, CV Andalas Samudera Sejati,  setiap dua bulan Herman  melakukan ekspor sekitar 15 ton hingga 20 ton kerapu ke Hongkong dengan nilai mencapai Rp 3 miliar.  Pasokan ikan sebanyak itu, selain bersumber dari 400 petak keramba miliknya,  pria kelahiran Padang 1964 ini bermitra dengan penduduk setempat yang juga membudidayakan kerapu.  “ Ada 15 petambak yang bermitra dengan saya dengan pola plasma inti.  Kebutuhan produksi mereka  saya suplai secara rutin dan hasilnya dipool  di tambak saya, lalu  kita ekspor,” ujar Herman pengusaha tahan banting yang juga pernah menekuni bisnis batubara.

Bisnis  ikan kerapu, baru ditekuninya pada tahun 2011 seusai konsesi   batubara selesai.  Waktu itu ayah empat anak ini mengunjungi teman lamanya di Kepulauan Nias yang petambak ikan kerapu. “Kawan saya menjalani bisnis kerapu selama 25 tahun ke Hongkong, prospek dan untungnya saya lihat sangat bagus. Maka, sayapun langsung ikut-ikutan bisnis ikan kerapu,” kenang Herman.

Tergiur  untung  cukup besar, Herman pun ancang-ancang membuka area tambak ikan di perairan Mandeh. Kawasan wisata berair jernih ini memang cocok untuk lokasi tambak ikan kerapu. Untuk keperluan tersebut Herman menanam modal hingga Rp 3 miliar. Selain itu ia menyewa sebuah pulau kosong dengan jangka 20 tahun yang akan digunakan untuk membangun genset, lampu penerang lokasi tambaknya.  “Tahun pertama, saya rugi, karena ikan yang saya pelihara banyak yang mati . Tahun berikutnya, 2012 saya bisa ekspor 7 ton sebanyak dua kali ke Hongkong,” tutunya . Ia memang tak ingin menyerah lantaran pasarnya sudah ada, yaitu Hongkong.  “Tugas saya hanya mempelajari lebih serius budidaya ikan kerapu, sedangkan pembelinya setiap dua bulan sudah datang langsung dengan kapalnya ke Mandeh untuk mengangkut hasil panen,” ujarnya lagi.  Untuk saat ini pasar krapu Herman  baru Hongkong   dengan penjualan  free on board, artinya penyerahan barang di atas kapal pembeli.  Jenis Kerapu yang diekspor antara lain  kerapu cantik, kerapu cantrang, kerapu bebek, dan kerapu sunu.  Harga jual sekitar USD30 hingga USD35 per kg.

Tahun 2013, tambak kerapu Herman mulai menampakkan hasil, namun ia juga harus menambah sarana dan prasarana, seperti Jaring Apung (life fish) agar produk ikannya lebih berkualitas.  Untuk pengadaan bibit misalnya, Herman membeli langsung dari Bali yang didatangkan khusus dengan pesawat Garuda.

Di tengah usahanya yang jatuh bangun, Heman beruntung bisa memperoleh sumber pembiayaan berbunga murah dari  instansi pemerintah. Usahanya merupakan terobosan baru bagi kawasan Mandeh yang dapat meningkatkan angkatan kerja.  Lantaran itu , Pemprov Sumbar melalui DInas Koperasi UKM merekomendasikan Herman ke Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB) untuk mendapatkan pinjaman berbunga rendah.

Pada tahun 2014, untuk pertama kalinya CV Andalas Sumatera Sejati dengan tenaga kerja sebanyak 50 orang mendapat pinjaman pembiayaan sebesar Rp 3 miliar dari LPDB dengan tingkat bunga  6% setahun. (Irsyad Muchtar)

Bagikan ke: