BMI Gali Potensi Ekonomi Produktif

Sukses menjadi koperasi pertama di Tanah Air yang menyediakan Rumah Layak Huni gratis bagi masyarakat berpenghasilan rendah, Kopsyah BMI kini menyasar program sosial bernuansa agamis, revitalisasi pesantren di perkampungan. Bagian pokok dari program Sanimesra (Sanitasi, Musholla dan Pesantren).

Rumah Layak Huni

Berkhidmat di sektor pemberdayaan masyarakat kelas bawah (grassroots) melalui peningkatan ekonomi, adalah dua sisi mata uang dari visi dan misi Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI).  Sejak dirintis pada tahun 2002, awalnya adalah lembaga pembiayaan pengembangan usaha mikro kecil menengah atau dikenal LPP-KUKM. Dibidani oleh Dr Mat Syukur dari Institut Pertanian Bogor, Lembaga Sumberdaya Informasi IPB ini berkolaborasi dengan Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Kabupaten Tangerang. Hasilnya, dalam tempo 10 tahun, lembaga yang mengadopsi pola pembiayaan kredit Grameen Bank Bangladesh ini memiliki 17 kantor pelayanan tersebar di 24 kecamatan di Kabupaten Tangerang.

Pada Juli 2013, lembaga ini  mengadopsi pola koperasi dan berganti nama  dengan KPP-UMKM. Nomenklatur koperasi diyakini dapat meningkatkan peran aktif masyarakat dalam menata perekonomiannya. Hal itu dimungkinkan karena implikasi koperasi adalah partisipasi anggota yang tidak hanya sekadar jadi pelanggan, juga sekaligus bagian dari kepemilikan. Lantaran itu pula, pada November 2015, pengelola KPP-KUKM berbasis koperasi syariah ini secara formal memproklamirkan identitas baru, yaitu Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia

 

dengan Akte Pendirian Nomor : 01 Tanggal 14 September 2015; Badan Hukum Tanggal 04 Nopember 2015 Nomor : 213/PAD/M.KUMKM.2/XI/2015.

Kendati berusia relatif dini, perjalanan Kopsyah BMI sebenarnya telah berlangsung hampir 15 tahun dengan visi dan misi awal yang tidak berubah, yaitu pemberdayaan ekonomi masyarakat agar mampu mandiri, produktif dan berdaya saing. Maka beralasan jika dalam perjalanannya, Kopsyah BMI tak sekadar menghimpun dan menyalurkan dana dari masyarakat, juga tak abai melakukan pemberdayaan masyarakat.

Program sosial paling fenomenal adalah Rumah Layak Huni (RLH) Gratis senilai Rp 30 juta untuk masyarakat berpenghasilan rendah. Hingga Desember 2016 lalu, Kopsyah BMI telah merenovasi 24 RLH, dan tahun 2017 ini ditarget sebanyak 31 unit RLH. Dilihat dari jumlah rumah tak layak huni di Kabupaten Tangerang yang mencapai 18 ribuan unit, 5.000 di antaranya dalam kondisi sangat parah, jumlah RLH yang berhasil dibangun Kopsyah BMI tentu masih sangat minim. Seperti dikatakan Presiden Direktur Kopsyah BMI Kamaruddin Batubara,  program RLH bisa menjadi stimulus bagi lembaga lainnya agar dapat bersama-sama menyelesaikan 18 ribu rumah tak layak huni di Kabupaten Tangerang. “Jika kalangan perbankan mau bekerjasama dengan Kopsyah BMI, tentu akan lebih banyak lagi RLH bisa kita ujudkan,”ujarnya seraya menambahkan, saat ini baru Bank DKI Syariah yang telah bekerjasama dengan Kopsyah BMI.

 

Motif Pemberdayaan

Dilihat dari sejarah kelahirannya sebagai lembaga pemberdayaan ekonomi masyarakat di lapis grassroot, kiprah Kopsyah BMI memang berbeda dengan koperasi sejenis yang umumnya menggenjot pemupukan modal. Koperasi yang sarat dengan aktivitas sosial ini  justru mengawali kiprahnya dengan mengembangkan berbagai pelatihan masyarakat, antara lain pelatihan budidaya tanaman cabai, rambutan, pembukuan keuangan bagi anggota yang ingin mengajukan pembiayaan produktif dan program paket C. Aktivitas sosial yang rutin diadakan setiap tahun antara lain  santunan 500-1000 yatim, Sunatan Massal untuk 100-300, Santunan Pendidikan, Beasiswa Hingga Perguruan Tinggi, Santunan Bencana Alam, Santunan Sakit Permanen dan Santunan Kematian. Sedangkan pelatihan produktif dilakukan bekerjasama dengan lembaga terkait, terutama dengan IPB Bogor, Pemkab Tangerang hingga Lembaga Swadaya luar negeri, seperti Water.org, IUWASH dan KIVA.

“Semua pelatihan tersebut gratis, karena upaya mencerdaskan masyarakat di lapis akar rumput agar tumbuh cerdas dan produktif adalah kewajiban kita bersama,” kata Kamaruddin Batubara. Saat menggelar Rapat Anggota Tahunan Tahun Buku 2016 akhir Januari lalu, Kopsyah BMI meluncurkan dua program terbarunya yaitu Kredit kepemilikan rumah tanpa uang muka (KPR tanpa DP) dan pembangunan sanitasi musholla dan pesantren (Sanimesra).

Kesulitan masyarakat berpenghasilan rendah dalam mendapatkan rumah, kata Kamaruddin adalah sulitnya membayar uang muka yang rata-rata 30% dari harga rumah. Lewat program KPR tanpa DP itu, anggota Kopsyah BMI diharapkan tidak lagi punya keluhan untuk mendapatkan rumah yang layak.   (Irsyad Muchtar)

 

Bagikan ke: