Berkhidmat di Haribaan Keluarga

Kita menggamit konsep keluarga luas (extended family). Tak hanya ayah, ibu, dan anak-anak (keluarga batih). Keluarga kita berunsur begitu banyak orang (saudara ayah/ibu ke atas dan ke samping). Semuanya berandil mengejawantahkan pola asuh.

MANUSIAWI sekali jika para orangtua mendambakan anak yang sukses. Kelak, mereka mandiri dalam arti luas. Cerdas, berbudi, taat, mengabdi, dan tahu diri. Dalam banyak hal, anak diharapkan melampaui maqam orangtuanya. Paling sedikit sama. Itulah jenis kearifan klasikal, yang dihayati ajeg baik di perkampungan maupun di perkotaan. Obsesi ekok ini sejatinya berdimensi futuristik: mengantar (hadirnya) generasi yang lebih baik.

Siapa anak Indonesia? Sebuah studi melaporkan, (sebagian) mereka yang menghabiskan 60-80% waktunya bersama keluarga hingga 18 tahun. Slamet Iman Santoso menyebut rentang pendampingan itu sampai usia 15. Batasan ini senapas dengan kriteria WHO tentang anak-anak di bawah umur (0–17 tahun); meski empat kategori selanjutnya tidak realistis. Yakni, pemuda (18–65 tahun), setengah baya (66–79), orang tua (80–99), dan orang tua berusia panjang (≥100). Padahal, angka harapan hidup warga Jepang 83,6 tahun (tertinggi), Singapura (82,6), Korsel (81,4), dan Amerika Serikat (78,9).

Proses pembentukan kepribadian dan karakter seorang anak berawal dari keluarga. Sebagai kualitas moral dan mental seseorang, karakter dipengaruhi oleh faktor bawaan (fitrah-nature) dan faktor lingkungan (sosialisasi atau pendidikan–nurture). Potensi karakter yang baik dimiliki manusia sedari rahim ibunya. Namun, potensi tersebut harus terus-menerus dibina melalui sosialisasi dan pendidikan sejak usia dini. Pola asuh dan interaksi yang hangat lagi guyub di tengah keluarga menjadi elemen paling menentukan.

Sudah cukup lama para psikolog mempelajari korelasi antara pikiran, sikap, dan perilaku. Pendidikan karakter berkaitan dengan muatan nilai-nilai mulia. Perkembangan psikologi kognitif dewasa ini menunjukkan, ranah kecerdasan—yang sebelumnya sebatas inteligensi (intelligence quotient/IQ)—meluas ke kecerdasan emosional (emotional quotient/EQ), kecerdasan spiritual (spiritual quotient/SQ), dan yang termutakhir kecerdasan majemuk. Atas pengembangan yang mengagungkan aspek kognitif, kerap muncul sinisme: “Untuk apa pintar jika keblinger?”

Istilah “mencerdaskan” itu sejatinya komprehensif. Meliputi penyempurnaan akal budi, nalar, watak, dan bahkan fisik. Maka, wajar jika muncul kritik yang menyoal strategi pendidikan kita—di berbagai tingkatannya—yang abai pada pengembangan nalar sebagai basis sikap dan perilaku. Toh di tataran output, pandai secara teoritis belum tentu pandai mengemban peran problem solving. Ciri orang pandai itu teliti, tepat dan jelas. Mereka, kata Prof. Slamet, bisa menyederhanakan hal yang ruwet; sebaliknya orang bodoh justru meruwetkan soal sederhana.

***

PENDIDIKAN bertali temali dengan proses bertahan hidup, dalam segala sendinya, sepanjang masa. Persepsi dan preferensi umum tentang pendidikan merujuk pada domain pendidikan formal; meski publik juga agak mengenal pendidikan informal (keluarga) dan pendidikan nonformal (selain jalur formal). Kategori  semacam ini—yang menempatkan pendidikan keluarga dalam posisi anak bawang—baiklah diamini saja sebagai kodifikasi ‘baku’ paradigma pedagogis.

Masalahnya, berharap banyak dari jalur formal adalah sebuah kekeliruan. Sama kelirunya dengan memasrahkan pengasuhan anak (di rumah) kepada baby sitter. Sampai dengan tahun 60-an dan 70-an awal, guru adalah pengajar yang mendidik. Kini hanya sebatas pengajar, pelaku transfer of knowledge. Penyelenggaraan 2-3 shift belajar di sekolah-sekolah sangat berperan mengamputasi kiprah guru. Keadaan itu diperburuk dengan menguatnya orientasi pragmatisme kehidupan di tengah masyarakat.

Eksperimen gonta ganti tujuh kurikulum sepanjang 72 tahun negeri ini merdeka membuahkan apa? Ada Kurikulum 1968; Kurikulum 1975; Kurikulum 1984; Kurikulum 1994; Kurikulum 2004; Kurikulum 2006; Kurikulum 2013. Sebegitu jauh, tak pernah dilakukan evaluasi kritis dan radikal terhadap itu semua. Jangan-jangan benar sebuah kesimpulan sinis yang menyebut: “Sejarah pendidikan di negeri ini adalah sejarah tentang niat baik dan hasil yang melenceng”

Dari sekian negara dengan sistem pendidikan terbaik, mengapa kita enggan mencangkoknya dengan penyesuaian institusional dan budaya di sana sini? Sebutlah itu Korea Selatan; Hongkong; Jepang; Singapura; Belanda; Kanada. Tapi, lebih cerdas menunjuk yang terbaik di antara yang terbaik: Finlandia. Negara Nordik di Eropa Utara berpenduduk tak sampai 6 juta jiwa itu merdeka 1917. Mereka tuntas mereformasi sistem pendidikannya tahun 70-an dengan hasil fantastis.

Di Finlandia anak-anak boleh bersekolah setelah berusia 7 tahun. Tak ada penilaian tugas hingga kelas 4. Belajar 45 menit, 15 menit istirahat. Siswa SD-SMP cuma sekolah 4-5 jam/hari. Sistem di SMP dan SMA sudah seperti di bangku kuliah. Mereka hanya datang pada jadwal pelajaran yang mereka pilih.

Dari jenjang SD ataupun SMA, semua guru wajib bergelar master yang disubsidi penuh oleh pemerintah, dengan tesis terpublikasi. Rasio 1 guru untuk 12 siswa tercatat sebagai rekor dunia. Gurulah yang paling tahu cara mengevaluasi murid, karenanya tidak dikenal UN. Sekolah bebas dari biaya. Swasta pun diatur agar tetap terjangkau. Tak ada sistem ranking karena, buat mereka, semua murid seharusnya ranking satu. Juga tidak ada program akselerasi.

***

KITA entitas sosial yang menggamit konsep keluarga luas (extended family). Tak hanya ayah, ibu, dan anak-anak (keluarga batih). Keluarga kita berunsur begitu banyak orang (saudara ayah/ibu ke atas dan ke samping). Semuanya berandil mengejawantahkan pola asuh terhadap anak dan balita. Kontribusi ayah dan ibu bahkan sejak prenatal—dengan minta dijauhkan dari campur tangan dan keberadaan syaitan dalam kesucian prokreasi (Bismillaahi Allaahumma jannibnasy-syaithaana wajannibisy-syaithaana maa razaqtanaa).

Dari interaksi keseharian yang tampaknya mungkin sederhana, keluarga mengemban fungsi yang sublim dan kompleks. Bermula dari sebagai pendorong, panutan, pengawas, teman, konselor untuk input nilai-nilai positif/negatif, komunikator aneka topik dengan terbuka tapi arif. Keluarga juga agen sosialisasi pendidikan, wahana pengenalan dengan orang-orang di sekitar, bekal anak untuk memasuki lingkungan sosial yang lebih luas.

Lebih jauh, keluarga adalah pondasi pendidikan agama; sosial budaya, dan reproduksi. Di sinilah tempatnya menumbuhkembangkan rasa kasih sayang; tempat memenuhi kebutuhan fisik dan emosional; dan juga tempat berlindung dari ancaman kontemporer: kekerasan, radikalime, peredaran narkoba, pornografi, dan LGBT.

Tipisnya kesadaran mengaplikasikan paket fungsi ideal yang terangkum utuh dalam institusi keluarga berbuntut miris. Survei terhadap 930 keluarga di 16 kab/kota di lima provinsi—Banten, Jabar, Jateng, DIY, dan Jatim, mencatat, 61 persen orang tua kurang/tidak mengajarkan anaknya shalat dan mengaji. Forum Seminar Internasional Ulama Perempuan di IAIN Syekh Nurjati Cirebon, (25/4/17) itu menengarai kemungkinan orang tua memasrahkan putra/putrinya belajar mengaji kepada lembaga TPA/TPQ dan ustadz.

Dari Pemilu 2014 lalu, misalnya, terungkap 222 calon legislatif di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam gagal tes membaca

Al-Qur’an, 1.085 lainnya dinyatakan lulus. Ditarik lebih ke belakang, akhir 80-an, tak sedikit pelajar SMP-SMA di beberapa kota di Sumatera Barat tergagap-gagap ketika diuji membaca Al-Qur’an. Naasnya, di saat yang sama, di ranah Minangkabau yang masyarakatnya Islami sebagaimana di Aceh, juga terjadi defisit guru agama.

Lalu, bagaimana keluarga mestinya berkhidmat? Pesan penting penyair Dorothy Law Nolte, “Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi. Dibesarkan dengan kelembutan, ia belajar menghargai. Dibesarkan dengan dukungan, ia belajar menghargai diri sendiri.” Sunnah Rasulullah SAW menuntun, “Didiklah anak-anakmu karena mereka dijadikan untuk menghadapi masa yang bukan masamu (yakni masa depan) sebagai generasi pengganti”. Dalam nash firman, Dia YMK membahasakan fitrah eksistensial anak-anak (dan harta) sebagai “perhiasan kehidupan dunia”  [QS, Al-Kahfi (18): 46].   (Dody Mardanus)

Bagikan ke: