Berkah Usaha Kue Cucur, Acang dan Samah Berangkat Umrah

Acang dan Samah berfoto di depan Kabah saat ibadah umrah bersama 75 jamaah Tour and Travel Kopjas BMI, pada Sabtu (20/8/2022). Foto : Istimewa.

Jakarta (Peluang) : Berkat bantuan modal usaha dari Koperasi Jasa Benteng Mandiri Indonesia (Kopjas BMI), Acang dan Samah bisa memperkerjakan 60 pedagang keliling kue cucur buatanya. Mereka pun telah menunaikan ibadah umrah ke Tanah Suci.  

Bagi Acang, panggilan dari Allah SWT untuk ibadah ke Tanah Sucii sudah muncul sejak ia bekerja sebagai pengojek sepeda, 30 tahun silam. Lama beradu peluh di jalanan, pekerjaan itu ia tinggalkan. Acang bersama istrinya Samah banting setir menjadi pengusaha kue cucur.

Tepat di Hari Kemerdekaan RI ke 77, Acang dan Samah menunaikan umrah, bersama 75 jamaah dari Divisi Tour and Travel Kopjas BMI, pada Rabu 17 Agustus 2022 lalu.

”Semua doa saya kepada Allah SWT, saya tumpahkan di depan kabah. Alhamdulillah saya dan istri berangkat umroh,” kata Acang.

Ketekunan warga Kampung Jambatan Papan, Desa Kiara Payung, Kecamatan Pakuhaji, Tangerang ini patut diteladani. Karena dengan usaha kue cucur, Samah yang juga anggota BMI Rembug Pusat Suwarnabhumi bisa membangun rumah bagi anaknya dan berangkat ibadah umroh ke Tanah Suci. Semua berawal dari pembiayaan modal dari BMI Rp 400 ribu, pada 16 tahun silam.

Samah banyak termenung saat mengenang bagaimana perjuangan bersama suaminya, Acang hingga sekarang. Acang hanyalah seorang ojek sepeda di Desa Kiarapayung, saat mempersuntingnya 36 tahun silam. Hingga dikaruniai tiga anak pun kehidupan mereka tak banyak berubah.

Beban semakin berat saat putri keempat mereka lahir awal 1992. Ojek sepedanya sepi mendapatan pun menurun. Kemudian Acang  banting setir menjadi pedagang kue tradisional khas Betawi.

Setelah salat subuh, ia telah menjajakan kue hasil buatan kerabatnya mulai dari Pakuhaji hingga Sepatan. Dalam perkembangannya, Acang dan Samah belajar untuk membuat kue cucur khas Betawi. Hingga kemudian mereka mahir membuatnya dengan modal seadanya.

“Anak ke empat masih bayi, kami sudah jualan kue. Tapi ya hasilnya tidak memadai, karena kan modalnya nggak cukup,” terang Samah.

Hingga tahun 2004, Samah akhirnya dipertemukan dengan Kopsyah BMI yang saat itu membuka Rembug Pusat di desanya. Dari Kopjas BMI, Samah mendapatkan kucuran modal berdagang sebesar Rp 400 ribu. Modal itu ia gunakan untuk membeli bahan kue cucur.

 “Dari modal pembiayaan Rp 400 ribu dari BMI, kami bisa seperti ini,” ujar Samah.

Selain kue cucur, Samah dan Acang juga membuat 30 varian kue sesuai pesanan. Ia pun dibantu oleh lima orang anaknya. Seiring waktu, anak-anak mereka beranjak dewasa.Dua putrinya sudah menikah dan tinggal bersama suaminya.

Kini Samah dan Acang tinggal bersama dua anaknya. Yakni si bungsu Ahmad Syaifruddin (23), dan putri ketiganya Siti Laila (32) bersama suami.

Mereka berbagi tugas, Ahmad membeli bahan kue dan mengantar kue cucur  ke pengecer. Sementara, Laila membantu Samah dan Acang membuat kue cucur di rumah.

Selama 29 tahun usaha kuenya berjalan, pembiayaan BMI terakhir yang mereka akses mencapai Rp 20 juta. Samah dan Acang tetap semangat membangun usahanya hingga bisa berangkat umroh berdua.

”Saya ajak saudara dan tetangga untuk kerja dengan saya usaha kue cucur. Alhamdulillah dari jualan kue cucur, kami juga bisa ngasih rezeki ke saudara dan tetangga sekitarnya,” kata Samah.

Acang dan Samah telah mempekerjakan 60 orang pendagang kue cucur keliling. Kesemuanya adalah ibu-ibu, dan kebanyakan dari mereka itu merupakan anggota Kopjas BMI.

Kendati pandemi Covid-19 melanda, tetapi Samah dan Acang bisa menjual 3.000 kue setiap harinya dengan keuntungan bersih Rp 1,5 juta per hari.

 “3000 kue cucur itu hanya untuk jualan keliling saja. Kalau ada hajatan, pesanan bisa 3 kali lipat. Kami sampai nggak tidur,” ujar Samah.

Acang memegang piring berisi kue cucur, usaha panganan yang dirintis bersama istrinya, Samah. Foto: Istimewa.

Menurut Samah, modal usaha dari Kopjas BMI membuat mereka makin mandiri dan bisa membantu orang banyak. Kopjas BMI telah membangkitkan mereka hidup lebih baik.

Keuntungan hasil usahanya digunakan Samah dan Acang untuk membangun dua rumah.  Satu rumah untuk mereka, dan satu lagi diberikan kepada anak pertamanya.

Sebelum pandemi, Acang dan Samah mengakses simpanan umrah BMI. Jika pandemi tak terjadi, mungkin Samah dan Acang sudah berangkat di Tanah Suci awal 2021.

 “Saya cuma menabung dan dapat pembiayaan dari BMI. Nggak pernah di tempat lain. Alhamdulillah di BMI, semua kebutuhan saya dari modal usaha sampai umrah bisa terpenuhi. Saya mengucapkan terima kasih kepada Kopjas BMI yang sudah bantu kami dari 2004 sampai sekarang,” ujar Samah.

Presiden Direktur Koperasi BMI, Kamaruddin Batubara menyatakan bahwa model BMI syariah memang tangguh menghadapi pandemi. Model BMI Syariah yang di dalamnya ada model pertemuan Rembug Pusat salah satunya, diciptakan sesuai dengan karakteristik masyarakat Indonesia, yaitu bergotong royong dan ta’awun, saling tolong-menolong satu sama lain. Dalam hal ini tentu tolong menolong dalam kebaikan, seperti tercantum dalam QS Al Maidah ayat 2.

 “BMI bangga memiliki anggota semilitan Samah dan Acang. Yang tetap semangat membangun ekonomi yang lebih baik. Turut membantu anggota lewat usahanya. Itulah koperasi, membangun jiwa gotong royong demi kebaikan dan kesejahteraan bersama,” kata Kamaruddin.

Ia menegaskan melalui BMI menunjukkan bahwa koperasi ada untuk anggota memberikan pelayanan terbaik untuk meningkatkan kesejahteraan. “Kita ciptakan produk-produk BMI baik simpanan, pembiayaan dan pemberdayaan yang memang untuk mereka. Sudah pasti jika kita lakukan itu dan kita berdoa agar Allah SWT membuka jalan untuk berjuang bersama sama,” tandasnya.

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.