Benarkah Holding Ultra Mikro untuk Kesejahteraan Rakyat?

RENCANA pembentukan holding ultra mikro, yang ingin menggabungkan tiga BUMN yaitu PT Permodalan Nasional Madani (PNM), PT Pegadaian, dan PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), tidak ada kaitannya dengan kesejahteraan rakyat. Rencana BRI mengakuisisi Pegadaian dan PNM, kata ekonom Faisal Basri hanya untuk memenuhi ambisi masuk dalam jajaran ‘Fortune Global 500’.

“Tidak hubungannya dengan peningkatan kesehjateraan rakyat. Sebelumnya, BRI ingin mengambilalih Danareksa, Bank Century, dan Bank Bukopin,” ujar Faisal. Ditegaskan bahwa tidak ada hubungan langsung antara tata kelola perbankan yang baik dengan rencana merger. Hal ini bisa dibuktikan, BRI pernah memberikan kredit kepada kalangan konglomerat.

Alasan pemerintah terkait Holding Ultra Mikro yang dapat memperkuat sektor UMKM juga disebutnya tidak tepat. Sebab, seharusnya pemerintah melakukan konsolidasi di sektor keuangan dengan memperkuat sektor perbankan. Kenyataannya, pemerintah terkesan enggan melakukan konsolidasi bank-bank miliknya. Sejauh ini perbankan hanya mampu menyalurkan kredit tidak sampai 50 persen dari PDB. Angka ini lebih kecil dibanding dengan negara-negara lain di Asia.

Pendiri Institute for Development of Economics and Finance (Indef) ini mengungkapkan, tanpa adanya akuisisi, Pegadaian pun bisa bersinergi dengan BUMN lainnya. Sebab, jika proses merger ini terjadi, akan berdampak terhadap pegawai Pegadaian yang cenderung menjadi ‘anak tiri’.  “Lazimnya, perusahaan besarlah yang akan memegang kendali. Aksi ini juga tidak serta merta bisa menyehatkan BUMN. Akuisisi ini juga akan berdampak pada akses layanan kepada nasabah, khususnya di Pegadaian,” ujarnya.

Bagi Faisal, holdingnisasi akan lebih cocok mengarah pada klaster keuangan bukan klaster UMKM. Jika ingin membesarkan UMKM, bukan dengan cara holding, tapi yang paling penting adalah apa bentuk yang akan dilakukan oleh pemerintah untuk menggabung ketiganya. Selain itu, jika Pegadaian menerbitkan obligasi atau surat utang ratingnya Triple AAA, artinya obligasi milik Pegadaian lebih murah daripada pinjaman BRI. Jika ratingnya bagus, barangkali bisa dapat 5%. “Bahkan jika Pegadaian go global bonds, ini bisa menunjukan bahwa Pegadaian tidak punya masalah modal kerja,” kata Faisal.●

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *