Benahi Ekonomi Ummat Dari Hulu

Membangkitkan potensi ekonomi ummat melalui penyehatan sanitasi musholla dan pondok pesantren, itulah tahapan pemberdayaan yang tengah digagas Kopsyah BMI.

Rumah Desa

Dengan wajah sumringah Rohimuddin (38) menyambut kedatangan kami siang itu di pondok pesantren (ponpes) nya Darul Ibtida Desa Blukbuk Kecamatan Kronjo Kabupaten Tangerang. Beberapa santri tampak tengah bersenda gurau di kobong (pondok) nya tak jauh dari ruang utama  yang serba guna, ya tempat belajar sekaligus menerima tamu. Sejak dua tahun lalu, Rohimuddin bersama saudaranya, Sauddin, membuka ponpes tersebut di atas tanah seluas 1000 meter2 warisan orang tuanya.

“Ini amanah dari orang tua saya, yang mewakafkan tanah untuk bangun pesantren, tapi baru dua tahun ini dapat kami laksanakan,” ujarnya kepada Majalah PELUANG. Upaya Rohimuddin mewujudkan ponpes yang memadai ternyata tidak mudah. Faktor utamanya  keterbatasan biaya. Sementara mereka pun tidak mudah menerima bantuan yang diembel-embeli kepentingan tertentu. Dengan sarana yang apa adanya berdirilah Pondok Pesantren Darul Ibtida yang kini dihuni  sebanyak 30 santri remaja.  Ada santri yang pulang pergi setiap hari dan sebagian lainnya tinggal di kobong-kobong.  Umumnya terbuat dari bilik-bilik, disekat kecil-kecil dihuni dua atau tiga orang santri. Rohimuddin tidak pernah memungut biaya dari santri yang belajar di ponpesnya, namun tidak menolak jika mereka membantu iuran listrik serta keperluan belajarnya.

Di tengah gemuruh pembangunan industri di Banten, khususnya di Tangerang, pertumbuhan ponpes memang tidak berjalan seiring. Berdasarkan data di Kementerian Agama Banten, jumlah ponpes cenderung naik dari tahun ke tahun dengan beragam kategori. Darul Ibtida adalah salah satu, ponpes yang tumbuh dengan semangat pengabdian yang tinggi dari pengelolanya namun minim akses dan sumber pendanaan.

Ketika tahun ini Kopsyah BMI meluncurkan Program Sanimesra, ponpes ini dipilih jadi pilot percontohan revitalisasi ponpes yang dibiayai dana Ziswaf (Zakat, Infaq, Shodaqoh, dan Wakaf). “Dana tersebut kami kumpulkan dari anggota Rp1000 dan dari karyawan Rp10.000 yang kami pungut perbulan. Selain itu, juga kami pungut dari zakat penghasilan karyawan yang dipotong dari gaji sebesar 2,5% per bulan. Alhamdulillah  sudah terkumpul sebesar Rp660 juta,” kata Presiden Direktur  Kopsyah BMI Kamaruddin Batubara. Dia menjelaskan revitalisasi kobong adalah untuk kemandirian pesantren, dimana pihaknya memadukan unsur sosial dan bisnis. “Pesantren direvitalisasi sebesar Rp 50 juta,  pengelola pesantren mendapat  pembiayaan Musyarakah untuk budidaya lele dan cabai sebesar Rp20 juta dengan nisbah bagi hasil 65%-35%,” ujarnya. Dengan dana  Ziswaf itu, Kopsyah BMI sedikitnya akan merevitalisasi 15 musholla, menyantuni sebanyak 20 kaum dhuafa dan perbaikan failitas wudhu dan sanitasi. “Kita ingin membangun ekonomi ummat dari hal yang paling dasar dahulu, yaitu kebersihan dan kenyamanan mereka dalam beribadah, ”pungkas Kamaruddin..

Revitalisasi musholla dan pesantren oleh Kopsyah BMI, agaknya yang pertama dan satu-satunya di Tanah Air. Upaya ini hanya dapat terlaksana jika motivasi pemberdayaan lebih utama ketimbang upaya pemupukan dana masyarakat. Mindset-nya, mewujudkan pemerataan ekonomi sebagai esensi penerapan ekonomi Islam yang berkeadilan. Itu pula yang membedakan Kopsyah BMI dengan koperasi sejenis lainnya.   (Ira)

Bagikan ke: