BARU BERDIRI LANGSUNG CETAK PRESTASI

Satu lagi koperasi sekunder nasional lahir. Namun tidak sekedar latah karena belum genap setahun koperasi di lingkungan perbankan ini membukukan aset hingga Rp 53,51 miliar.

kkb selindo

Tidak banyak koperasi sekunder nasional sukses menggalang sinergi dengan anggotanya yang tersebar di berbagai pelosok tanah air.  Satu persatu mulai bertumbangan lantaran tak mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan pasar.  Sejumlah koperasi sekunder kini bahkan hanya tinggal papan nama.

Di tengah iklim penumbuhan sekunder koperasi yang kurang kondusif itulah sekunder koperasi karyawan Bank Bukopin lahir. Koperasi yang diprakarsai oleh 38 primer Koperasi Karyawan Bank Bukopin (KKB) ini digagas sejak tahun lalu, tepatnya 8 Juli 2015 dengan nama Koperasi Sekunder Jasa Bukopin Seluruh Indonesia atau disingkat KKB Selindo lahir.  Berlatar belakang para anggota yang sebagian besar kalangan bankir,  tidak sulit bagi KKB Selindo mengembangkan usahanya yang memang bergerak di sektor pembiayaan (Simpan Pinjam).

Saat berdiri asetnya tercatat Rp 4,6 miliar, namun dalam tempo singkat melonjak hingga mencapai Rp 53,51 miliar per tahun buku 2015.   Peningkatan Aset tersebut berasal dari simpanan anggota sebesar Rp 445 juta dan  pinjaman dari KKB Jakarta sebesar Rp.48,03 miliar. Sementara pinjaman yang disalurkan mencapai angka sebesar Rp.45,51 miliar. Dalam Rapat Anggota Tahunan (RAT) pertamanya pada 2 Juni lalu di Jakarta, Ketua KKB Selindo Yanuedi Melayanto mengatakan KKB Selindo didirikan atas inisiasi bersama anggota koperasi karyawan Bukopin.  Tujuannya untuk terus memberikan kesejahteraan bagi anggota. Apalagi keanggotaan mereka tidak hanya karyawan aktif tetapi pensiun juga tetap sebagai anggota.  Sebab setelah karyawan pensiun pasti penghasilan berkurang tetapi dengan memiliki koperasi tetap mendapatkan kesejahteraan. Dalam RAT yang dihadiri 42 primer KKB dari berbagai cabang itu, anggota sepakat menyetujui  proyeksi dan program KKB Selindo tahun 2016.  Antara lain peningkatan aset sebesar Rp 99,59 miliar atau naik 186,10% dibanding tahun 2015 sebesar Rp 53,51 miliar. Proyeksi terhadap kewajiban jangka pendek pada 2016 akan tumbuh jadi Rp 98,64 miliar naik 186,11% dibanding 2015 sebesar Rp 53,05 miliar. Peningkatan ini diproyeksi dari pinjaman dan dukungan Bank Bukopin, dan Bank Bukopin Syariah. Sedangkan pertumbuhan modal diproyeksikan jadi Rp 956,69 juta atau naik 203,65% dibanding tahun 2015 sebesar Rp 469,78 juta.

 

Ketua Masyarakat Perkoperasian Indonesia Deddy SA Kodir dalam sambutannya mengatakan pemerintah sesuai UUD berkewajiban mengembangkan dan memberikan iklim usaha yang baik terhadap koperasi. Tapi sayang hingga kini perkembangannya  masih jauh dari swasta dan BUMN.  “Tak satupun koperasi yang melisting sahamnya di lantai bursa. Demikian untuk pembangunan infrastruktur juga koperasi belum ada, semua dilakukan oleh swasta dan BUMN,” kata Deddy  SA Kodir yang juga Komisaris Bank Bukopin.

Kemajuan usaha koperasi di lingkungan Bank Bukopin lanjut dia, menunjukan bahwa bank ini masih tetap mengemban misi awalnya sebagai lembaga keuangan yang menjadi garda terdepan pembiayaan usaha kecil menengah utamanya koperasi. Hal ini diaminkan oleh Irlan Suud selaku Pembina Koperasi Bank Bukopin, dimana Manajemen Bukopin berkomitmen bahwa koperasi sebagai partner untuk mencapai kesejahteraan karyawan, namun dengan tetap mempertahankan GCG, comply dengan aturan yang ada. (Saw)

Bagikan ke: