Bappenas Nilai Perpindahan Pekerja ke Pertanian Berimbas Negatif Jangka Panjang

Ilustrasi-Foto:Kumparan.

JAKARTA—Pandemi Covic-19 mendorong banyak pekerja di Indonesia yang beralih profesi, terutama ke sektor pertanian.

Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas menilai kondisi ini justru berimbas buruk kepada prospek pertumbuhan ekonomi nasional dalam jangka panjang untuk target menjadi negara maju.

Menuurut Deputi Bidang Ekonomi Bappenas Amalia A Widyasanti migrasi pekerja ke sektor dengan produktivitas rendah adalah hal yang tidak baik.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah tenaga kerja di sektor pertanian, kehutaan dan perikanan pada Agustus 2021 sebanyak 37,13 juta orang.

Jumlah itu turun lebih dari 1 juta orang dari periode sama tahun sebelumnya. Meski demikian jumlah ini masih lebih tinggi dibanding  2019 yaitu 35,45 juta orang.

Jika membandingkan data 2020 dengan 2019 atau tahun pertama pandemi, sedikitnya 2,7 juta orang beralih ke sektor pertanian.

“Sektor pertanian memiliki produktivitas dan pendapatan rendah. Butuh waktu lama untuk mengembalikan para pekerja ke sektor yang lebih produktif,” kata Amalia dalam diskusi virtual, Selasa (11/1/22).

Jika belajar dari krisis keuangan Asia, selama krisis tersebut ada 4.6 juta pekerja kembali ke sektor agrikultural dan untuk Indonesia butuh waktu 10 tahun untuk kembali ke  level sebelum krisis. 

Kondisi ini, dinilainya tidak menguntungkan jika Indonesia ingin mencapai visi emas 2045 menjadi negara berpenghasilan tinggi atau kategori negara kaya.

Indonesia perlu mendorong partisipasi tenaga kerja dalam jumlah besar di sektor produktif untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi.  

“Kita perlu mengembalikannya ke level sebelum pandemi secepat mungkin, kita punya visi 2045 yang harus dicapai,” katanya. 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia stagnan di rata-rata 5% dalam beberapa tahun terakhir. Padahal dalam kajian Bappenas, Indonesia perlu tumbuh rata-rata 6% per tahun untuk bisa mencapai target high income country pada 2045. 

Bappenas juga menyoroti banyaknya jumlah tenaga kerja beralih ke sektor informal sepanjang pandemi. Berdasarkan data Agustus 2021, jumlah pekerja informal mencapai 59,45% dari penduduk bekerja di Indonesia.

Jumlahnya memang sudah turun dari presentase tahun lalu yang sebesar 60,47%, namun masih jauh di atas level sebelum pandemi yaitu 55,72%.

Mengacu pada saat krisis keuangan Asia 1997-1998, terdapat 3,7 juta pekerja yang saat itu beralih ke sektor informal. Sementara itu Indonesia membutuhkan 13 tahun untuk bisa kembali ke level sebelum krisis. 

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *