Bank Kecil, Sahabat si Kecil

Bank Sampoerna mengucurkan kredit bagi UMKM sebesar 79% atau Rp4,8 triliun dari total kredit pada kuartal III 2017. BRI yang mestinya men-trigger bank-bak lain, sayangnya, belum mampu menempatkan diri sebagai ikon dan inspirator.

WAJAR jika bank-bank makin melirik Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Jumlah mereka yang begitu besar, 59 juta, merupakan pangsa pasar yang menggiurkan. Wajar pula jika populasi raksasa ini tak hanya jadi incaran lembaga keuangan besar. Lembaga-lembaga keuangan kecil pun ikut memperebutkan kue potensial ini.

Dikalkulasi secara awam sekalipun, pemberian kredit kepada UMKM bakal menguntungan pihak pemberi pinjaman dana. Benar bahwa porsi keuntungan tersebut ‘recehan’ (tidak ratusan juta), tetapi jangan lupa jumlah mereka ‘bejibun’ (menggunung). Bayangkan, apabila setengah saja dari 59 juta UMKM mengambil kredit rata-rata Rp10 juta, sungguh besar bunga yang dihasilkan dari dana Rp30 miliar yang mereka putar, bukan?

Tentu saja perlu kiat dan adaptasi khusus untuk memasuki bisnis kredit di sektor UMKM. Dibutuhkan kejelian dan kemampuan berbeda (lebih sensitif) dibanding ketika berurusan dengan korporasi yang simpel tekstual. Pasalnya, sebagian usaha ini tidak memiliki ‘rekam jejak’ keuangan. Tidak mudah melihat kemampuan mereka, diukur dari pendapatan dan pengeluaran yang umumnya tercatat secara ala kadar.

Sebaran lokasi demografis mereka pun terbentang luas. Mayoritas pelaku UMKM tersebar di luar daerah ibu kota kabupaten, bahkan di wilayah terpencil. Sebagian mereka masih enggan datang ke kantor perbankan. Mungkin karena sibuk atau alasan lain. Tidak sedikit pelaku UMKM enggan menyatroni lembaga keuangan karena malu, minder. Khawatir mereka dianggap tidak sepadan dengan para staf layanan nasabah. Untuk itu, lembaga keuangan perlu menerapkan strategi jemput bola. Staf layanan yang justru aktif mendatangi mereka. Kasarnya, ya seperti yang dilakukan para rentenir dan inang-inang itulah.

Jika cara ini tidak mungkin dilakukan para staf layanan nasabah, manfaatkan saja jasa agen-agen bank. Langkah ini, selain simpatik, juga membuat layanan seakan menggunakan sistem online; bisa 24 jam sehari, tujuh hari seminggu. Rekrutmen agen sebaiknya berasal tenaga lokal, yakni mereka yang berasal dari wilayah basis UMKM. Bagaimanapun, berhubungan dengan orang yang mereka kenal, mereka tidak risi/canggung untuk meminjam atau menabung.

Salah satu bank yang secara khusus menggarap dan teruji mampu menghidupkan bisnis kredit UMKM adalah Bank Rakyat Indonesia (BRI). Tahun lalu, 80% dari total kredit yang ada dipatok untuk UMKM. Dari target itu, sebesar 75,8% kredit atau ekuivalen Rp526,5 triliun telah dicapai sampai triwulan III 2017. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, terdapat kenaikan sebesar 14,2%. Di akhir tahun, sayangnya angka 100% tak tercapai

Dengan capaian tersebut, kinerja BRI dinilai sesuai dengan target BI. Namun, bank ini tampaknya akan terus memoles dan meningkatkan keunggulan komparatif yang sudah dicapai. Bukan hanya karena ini bisnis utamanya, melainkan kompetensinya. “BRI ingin memberikan multiplier-effect terhadap perekonomian nasional,” kata Suprajarto, Direktur Utama  PT BRI (Persero) Tbk. BRI meraih total kredit Rp694,2 triliun hingga September 2017. Angka ini tumbuh 10,03% ketimbang waktu yang sama tahun lalu.

Namun, lantaran tidak memenuhi target capaian porsi kredit bagi UMKM, BRI tidak diwajibkan memberi pelatihan bagi UMKM. Kompensasi diberikan karena BRI secara serius berusaha menaikkan kelas UMKM dengan digitalisasi; baik berupa electronic market (e-market) maupun electrinic UMKM (e-UMKM).

“Kita digitalisasi penyaluran kredit serta memberikan sistem yang mudah untuk account officer atau mantri dari tiga hari jadi satu hari. Hingga, waktu yang dibutuhkan untuk ekspansi lebih pendek,” ujar Haru Koesmahargyo, Direktur Strategi Bisnis dan Keuangan PT BRI Tbk. Upaya menaikan kelas UMKM dilakukan BRI bagi UMKM sektor perdagangan di pasar tradisional yang berada di 19 lokasi. Untuk ini dialokasikan dana Rp5,89 miliar.

Kurangi Segmen Industri

Kemampuan menggamit UMKM secara signifikan juga ditunjukkan Bank Sahabat Sampoerna (Bank Sampoerna). Sebesar 79% dari total portofolio kreditnya berasal dari usaha tersebut telah digapainya. “Sektor mikro kecil dan menengah masih menjadi penyumbang terbesar penyaluran kredit Bank Sampoerna,” ucap Ong Tek Tjan, Direktur UKM, Funding, FI dan Jaringan Kantor PT Bank Sahabat Sampoerna.

Tak kurang dari 79%, atau Rp4,8 triliun dari total kredit pada kuartal III 2017, Bank Sampoerna mengucurkan kredit bagi UMKM. Angka ini tumbuh 23% dibandingkan kuartal yang sama tahun lalu. Pencapaian ini hanya didukung 20 kantor cabang di 15 kota-kota besar Indonesia. Kok bisa? Soalnya, Bank Sampoerna mengucurkan kredit dibantu Koperasi Simpan Pinjam (KSP) Sahabat Mitra Sejari, unit usaha binaannya.

Bank Sampoerna juga menilai perlu menduplikasi langkah BRI pada tahun yang sama. Yakni mengurangi porsi kredit dari segmen industri secara bertahap. Separuh lebih kemampuan ini dicapai Bank Pan Indonesia (Bank Panin), yakni sebesar 40,45% dari total kredit sebesar 138,65 triliun pada kuartal III 2017. Meskipun ini gabungan dengan kredit komersial, komposisi antara UMKM dan Komersial tidak disebutkan secara rinci.

Tidak berlebihan Bank Harda Internasional ingin diakuisisi BCA untuk sungguh-sungguh masuk kredit UMKM. Karena, telah bisa menggelontorkan 39% dari total kreditnya untuk pelaku tadi yang terdiri dari kredit untuk menengah sebesar 32% dan kecil sebesar 7%. Kinerja ini tidak berbeda dengan pencapaian Bank Ina yang mencapai 34% atau Rp583,44 miliar. Ini bisa diperoleh lantaran bank memang menggarap kredit produktif.

Bank Syariah Mandiri (BSM) juga telah memenuhi ketentuan PBI Nomor Nomor 17/12/PBI/2015. Malahan, ini sedikit melewati hingga menggapai 25,09% atau setara Rp14,5 triliun hingga Agustus 2017. Angka tersebut bagian dari target kredit UMKM sampai akhir 2017 yakni sebesar Rp57,86 triliun. Belum ada pengumuman resmi apakah ini telah tercapai pada tahun lalu.

Pencapaian porsi kredit ini tidak berbeda jauh dengan Bank Dinar yang mendapat 25% dari total kreditnya untuk UMKM. Sebelumnya, posisi 24,9% atau Rp325 miliar telah diperoleh pada April 2017.●(Mochamad Ade Maulidin-ed)

Bagikan ke: