Badan Pangan Kaji Kebijakan Tarif Kedelai Impor

Foto : Istimewa.

Jakarta (Peluang) : Tingkatkan  daya saing produksi kedelai dalam negeri diperlukan pemberlakuan kebijakan tarif impor.

Kepala Badan Pangan Nasional atau National Food Agency (NFA), Arief Prasetyo Adi mengatakan, pihaknya tengah mengkaji kebijakan tarif untuk kedelai impor. Melalui kebijakan itu, harga kedelai impor yang selama ini lebih murah dari produksi lokal diupayakan setara.

Sehingga kedelai lokal yang dihasilkan petani dapat bersaing dengan impor. “Kita akan coba terapkan semacam tarif impor. Jadi kalau dibebani tarif, nanti angkanya lebih bersaing dengan lokal. Kita akan kaji, pelajari,” ujar Arief.

Ia menjelaskan, saat ini rata-rata harga kedelai impor berdasarkan Chicago Board of Trade (CBOT) tercatat pada kisaran Rp 7.700 per kilogram (kg). Sementara, pemerintah tengah mengkaji kebijakan harga acuan pembelian untuk kedelai lokal di kisaran Rp 10.000 ribu per kg.

Arief menyebut kisaran harga acuan kedelai sekitar Rp10.000 per kg. harga ini tdapat memberikan keuntungan bagi petani. Namun demikian, penetapan harga tersebut harus beriringan dengan peningkatan produktivitas kedelai yang dihasilkan

Harga kedelai lokal selama ini memang jauh lebih mahal, karena biaya produksi yang tinggi berdampak rendahnya produktivitas. Tercatat, rerata produktivitas kedelai lokal hanya 1-1,5 ton per hektar (ha), lebih rendah dari tingkat produktivitas kedelai di negara-negara produsen dunia sekitar 3-4 ton per ha.

“Kita mau angkanya sekitar Rp 10 ribu per kg, kita beli di petani. Ini harus segera karena kita mau mendorong produksi kedelai di dalam negeri,” kata Arief.

Arief berharap adanya kebijakan harga lokal dan kebijakan tarif untuk kedelai impor dapat meningkatkan daya saing produksi lokal. Petani juga mendapat kepastian sehingga tidak perlu khawatir harga akan jatuh dengan adanya kedelai impor.

“Kalau menanam kedelai untung, tidak usah diminta, para petani pasti mau menanam. Tapi kalau menanam harganya jatuh, ini akan sulit,” imbuhnya.

NFA mencatat, dari kebutuhan kedelai nasional sekitar 3 juta ton untuk konsumsi tahu dan tempe, produksi lokal hanya sekitar 250 ribu ton. Kedelai lokal juga tidak bisa bersaing secara langsung dengan impor karena produktivitas yang rendah dan harga yang tinggi.

Ia menyampaikan bahwa presiden dalam arahannya menekankan agar kebutuhan kedelai di Indonesia tidak bergantung pada impor. 

Karena itu, Kementerian Pertanian (Kementan) diminta untuk meningkatkan produksi kedelai dalam negeri. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menanam bibit varietas unggul, dan bila diperlukan menggunakan bibit produk rekayasa genetik (genetically modified organism/GMO).

“Dengan menggunakan bibit GMO diharapkan produksi kedelai per hektar dapat meningkat dari 1,6 sampai 2 ton per hektare menjadi sekitar 3,5 sampai 4 ton per hektare,” ujarnya.

Untuk mendorong peningkatan produksi kedelai, pemerintah melalui Kementan tengah menyiapkan perluasan lahan tanam kedelai dengan target 600 ribu hektare (ha) produksi secara bertahap. 

Salah satunya melalui optimalisasi lahan di Konawe, provinsi Sulawesi Tenggara, sekitar 30 ribu ha.

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.