Aset Batavia Air Bahkan Dinilai Rongsokan

PT METRO Batavia pailit dan mengumumkan resmi ditutup, 2003. Utangnya hampir Rp2,5 triliun. Di antaranya karena Batavia Air menyewa Airbus dari International Lease Finance Corporation (ILFC). Diprogram untuk angkutan haji, tapi maskapai yang resmi beroperasi 5 Januari tahun 2002 gagal mengkuti tender.

Pihak ILFC mengugat US$4,68 juta, yang jatuh tempo 13 Desember 2012. Batavia Air gagal bayar. Pesawat yang sudah disewa pun menganggur. Kegiatan operasional dialihkan ke kurator. Ironisnya, lelang aset Batavia hanya menghasilkan Rp40 miliar, sangat jauh dari total utang.

Ditutupnya kepailitan lantaran debitur sudah tidak memiliki aset apa pun untuk dijual. Aset-asetnya sudah menyusut 60% lebih akibat lama telantar hingga banyak yang dijual murah oleh pihak kurator. Total utang Batavia Air saat pailit Rp1,2 triliun. Meliputi utang pada karyawan, kantor pajak, bank, lessor, hingga operator bandara.

Beberapa aset seperti pesawat dan simulator bahkan terpaksa dijual sebagai barang rongsok. Selain faktor kurator yang dianggap tidak menjaga aset dan segera menjual aset, pihak Batavia juga mempertanyakan kurator yang hanya memberikan hak karyawan Rp4 miliar dari total Rp36 miliar dari penjualan aset tahap pertama, padahal total utang pesangon Rp150 miliar.

Batavia Air mulai mengudara tahun 2001 dengan satu pesawat jenis Fokker F28 dan dua unit Boeing 737-200. Sebelumnya, Batavia merupakan penyedia penyewaan pesawat. Agustus 2003, dengan 33 armada, mereka membuka rute internasional ke Cina, Malaysia, Singapura, Timor Leste, dan Arab Saudi. Selama 10 tahun, Batavia hanya mengalami 8 kali kecelakaan kecil dan tidak merenggut satu nyawa pun.●

Bagikan ke: