Antiklimaks Batu Akik (2015)

batu akik

Demam gegap gempita batu akik sepanjang 2004- 2005 layak dikenang. Fenomena batu akik mewabah dari Sabang sampai Merauke, dari Natuna sampai Pulau Rote, melanda siapa saja—hampir tanpa kecuali. Beberapa daerah (Kab/Kota) bahkan menyambutnya dengan Perda, instruksi dan himbauan ini itu. Belum pernah terjadi antusiasme bahkan ‘kegilaan’ sosial yang sedahsyat ini melanda berbagai kalangan dan lapisan masyarakat.

Puncak histeria itu terjadi pada Maret 2015. Antiklimaks tak terelakkan. Batu alam yang sebelumnya didapuk seharga puluhan bahkan ratusan juta itu terjun bebas. Jenis bacan dan dan lain-lain kini dijaja-jajakan dengan harga murmer. Sepersepuluh banderol semula, bahkan lebih rendah. Banyak pedagang batu akik dadakan kini gulung tikar. Desingan mesin-mesin pengasah batu pun tak lagi terdengar.

Melejit dengan cepat, lalu redup dengan tak kalah cepat. Begitulah hukum alam. Pelajaran terpenting dari kejadian ini, agaknya, betapa kita sebagai manusia amat rentan terjerembab ke dalam jebakan irasionalitas. Sebuah artikel mengulas dengan apik tentang itu, judulnya “Kegoblokan kolektif, financial psychology dan demam batu akik”. Dalam ilmu financial psychology, fenomena itu disebut “irrational exuberance”: perilaku kesurupan kolektif lantaran objek tertentu.

Objeknya bisa batu akik, saham, gadget, bunga anthurium, bunga tulip, louhan, atau apa pun. Saat kesurupan dan tenggelam dalam mania, biasanya elemen-elemen rasionalitas menjadi terbujur kaku di pinggir got. Siklus “irrational exuberance” selalu seperti ini: demam meledak > semua berbondong-bondong mencari > harga melambung > semua orang ikut jualan dan pasokan membanjiri pasar > lalu buble meletus.

Seronok demam batu akik tentu saja layak dinominasikan sebagai the most epic moment tahun 2015. Para kolektor sejati—yang memang punya dana ekstra untuk mengeksploirasi hobinya—mungkin tak terlalu terganggu. Berbeda halnya dengan para follower, yang telanjur terjebak dalam “kegoblokan kolektif”. Bela-belain setengah mati untuk membeli tapi benda alam itu kini tak laku dijual. (dd)

Bagikan ke: