Angin Surga Bunga KUR 7%

Pemerintah berdalih lebih memprioritaskan penyaluran dana KUR ke sektor produktif daripada menurunkan suku bunga ke level 7% seperti yang pernah dijanjikan sejak tahun lalu.

shop

PELUNCURAN skema kredit usaha rakyat (KUR) yang dimulai sejak zaman Presiden SBY dan dilanjutkan oleh Presiden Jokowi bertujuan agar pelaku UMKM naik kelas. Ini merupakan upaya positif yang menandakan keberpihakan pemerintah kepada usaha yang digeluti oleh mayoritas pelaku usaha di Tanah Air.

Untuk memperbesar dampak penyaluran KUR terhadap usaha rakyat, pemerintah menjanjikan penurunan bunga KUR sebesar 7% pada tahun ini. Hal ini bahkan ditegaskan oleh Presiden sendiri dalam banyak kesempatan seperti dalam acara Ikatan Senior HIPMI Indonesia akhir Agustus 2016 silam.

Presiden menilai penurunan bunga KUR dinilai signifikan untuk membantu pengembangan usaha kecil. Sebab, selama ini pelaku usaha di tingkat akar rumput terbebani dengan suku bunga kredit yang mencekik. Akibatnya, usaha merek sulit berkembang.

Namun demikian, rencana penurunan bunga KUR menjadi 7% pada tahun ini tampaknya hanya angin surga semata. Ini dikatakan oleh Menko Perekonomian Darmin Nasution yang tidak menghendaki penurunan suku bunga KUR ke level 7%. Ia lebih memilih memperbesar porsi penyaluran kredit ke sektor produktif daripada menurunkan suku bunga saat ini yang sebesar 9%.

“Jangan turunkan dulu bunga KUR ke 7%. Kita ingin KUR itu mulai naik porsinya di sektor produksi, bukan di perdagangan,” ujar Menko Darmin di hadapan awak media di Bank Indonesia akhir April silam.

Menurut Darmin, salah satu target KUR yang ingin dicapai pemerintah adalah menaikkan target serapan sebesar 10 persen. Sebagai informasi, debitur KUR pada 2016 berjumlah 4.361.835 orang dengan total penyaluran dana sebesar Rp94,4 triliun dari Rp100 triliun yang ditargetkan.

Dalam hal komposisi penyaluran dana, pemerintah berharap porsi penyaluran ke sektor produktif bisa mencapai 40% persen sampai akhir tahun. Sebelumnya, porsi untuk sektor produktif seperti pertanian hanya sebesar 22-23% dari total penyaluan KUR.  Pemerintah bahkan memasang target yang lebih tinggi sebesar 60%-70% dana KUR disalurkan ke sektor produktif pada tahun depan.

Selama ini sebagian besar alokasi dana diserap oleh sektor perdagangan. Hal ini menjadi evaluasi tersendiri bagi Komite Kebijakan KUR. Besarnya porsi penyaluran kredit ke sektor perdagangan dinilai tidak memberikan multiplier effect terhadap ekonomi. Hal ini berbeda jika disalurkan ke sektor produkti yang dinilai lebih “bunyi” mendukung pertumbuhan ekonomi.

Menko Darmin

Seperti diketahui, bunga KUR yang kini berlaku merupakan hasil dari penurunan yang dilakukan secara bertahap. Pada 2014, besaran bunga masih 21% yang kemudian diturunkan menjadi 12% pada 2015.

Selain alasan untuk lebih fokus pada peningkatan dana ke sektor produktif, penundaan bunga KUR ke level 7% juga terkait dengan anggaran negara. Sebab, pemerintah mensubsidi bunga KUR ke lembaga penyalur KUR. Artinya, jika suku bunga diturunkan maka akan menambah beban anggaran negara. Per Maret, realisasi defisit anggaran sebesar Rp104,9 triliun atau 0,77 % dari produk domestik bruto. Jumlah ini akan membengkak jika pemerintah menurunkan suku bunga menjadi 7%.

Dengan lebih rendahnya suku bunga KUR dari yang sekarang tentu dapat meringankan beban usaha pelaku UMKM. Namun masih ada 7 bulan tersisa untuk menantikan janji pemerintah mengendurkan bunga KUR ke level 7%.   (Drajat)

 

Bagikan ke:

One thought on “Angin Surga Bunga KUR 7%

  1. Thanks again for the blog.Much thanks again. Awesome.

Comments are closed.