Ambang Napas Pasar Tradisional

Total jenderal terdapat 24.000 pasar tradisional se-Indonesia. Menyerap 12 juta tenaga kerja, dengan omset harian Rp500 miliar s/d 1 triliun. Sejak 1980-an, apa daya, kehadiran pasar modern dan hypermart perlahan dan pasti menggusur pasar tradisional.

 

KERISAUAN akan suramnya masa depan pasar tradisional cukup terasa di berbagai kalangan. Terlebih bagi ibu-ibu, yang bersentuhan langsung dengan suasana guyub tawar-menawar di dalamnya. Kini, kata Ketua Asosiasi Kader Sosio-Ekonomi Strategis (AKSES), Suroto, “Pasar tradisional di seluruh Indonesia berada dalam ancaman serius. Bahkan bisa hilang dalam 10 tahun mendatang jika tidak didukung kebijakan yang berpihak. Posisi pasar tradisional akan habis digerus oleh merek pasar asing”.

Kegiatan di pasar tradisional ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung. Umumnya melalui proses tawar-menawar. Seni tawar-menawar itulah cirinya yang paling khas, yang ‘dibunuh’ oleh banderol pasar modern melalui barcode. Bangunan pasar tradisional biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual atau pengelola pasar. Pasar jenis ini sudah dikenal sejak puluhan abad lalu. Diperkirakan sudah muncul sejak zaman Kerajaan Kutai Kartanegara pada abad ke-5 Masehi.

Di zaman penjajahan Belanda, pasar tradisional mulai diberikan tempat yang layak dengan didirikan bangunan yang cukup besar. Pasar Beringharjo di Yogya, Pasar Johar di Semarang dan Pasar Gede di kota Solo, misalnya, adalah beberapa contoh pasar tradisional terbaik pada masa itu. Jakarta juga mempunyai pasar dengan nilai historis yang cukup tinggi. Di abad ke-16, pasar terbentuk berkat adanya aktivitas bongkar muat di pelabuhan. Di situ ada pembeli potensial. Berturut-turut tumbuh Pasar Glodok, Passer Baroe, dan Pasar Senen.

Segmen pasar tradisional umumnya kelompok menengah ke bawah dan berjualan eceran. Pengunjungnya didominasi oleh ibu rumah tangga dan pedagang keliling. Secara keseluruhan, diperkirakan ada 24.000 pasar tradisional yang menyerap 12 juta tenaga kerja (sebagian besar sebagai pedagang) dan omset harianRp 500 miliar hingga Rp1 trilun di seluruh Indonesia. Perputaran uang yang sangat besar, bukan?

Namun, pascadasawarsa 1980-an, peran pasar tradisional tergeser dan tergusur. Hypermarket dan pasar modern jadi musuh utama pasar tradisional saat ini. Di pasar modern (supermarket, pasar swalayan, hypermarket dan minimarket) penjual dan pembeli tidak bertransakasi secara langsung melainkan pembeli melihat label harga yang tercantum dalam barang (barcode), berada dalam bangunan dan pelayanannya dilakukan secara mandiri (swalayan) atau dilayani oleh pramuniaga. Barang-barang yang dijual, selain bahan makanan makanan seperti; buah, sayuran, daging; sebagian besar barang lainnya yang dijual adalah barang yang dapat bertahan lama.

pasar baju

Salah satu supermarket tertua di Indonesia yaitu Gelael dan Hero, yang membidik golongan menengah ke atas. Kini, minimarket seperti Alfamart dan Indomart tampak berlomba dan begitu ambisius menguasai ceruk yang ada. Tidak jauh dari Pasar Inpres Jatiasih terdapat sebuah hypermarket dengan merk Naga dan 1 km ke depannya dibangun pula Giant. Hypermarket biasanya tampil dalam ukuran fisik yang besar, rapi dan bersih. Giant, Carrefour dan Hypermart adalah salah satu brand pasar ritel modern di Indonesia.

Yang dibutuhkan pasar tradisional saat ini adalah keberpihakan. Selain itu, harus ada perombakan manajemen besar-besaran mulai dari manajemen tata ruang, pembangunan, hingga operasionalnya. Sudah banyak pasar yang terbakar kemudian dipagari seng, para pedagang dilarang membangun kiosnya kembali. Ujung-ujungnya, bekas pasar berubah menjadi pusat perbelanjaan. Harga satu kios di tempat yang baru melonjak 300% dan tentu saja tak terjangkau oleh pedagang asal.

Mestinya, kata Suroto, diberikan harga sewa kios yang murah tapi dengan prasyarat jaminan kualitas produk dan manajemen sampai dengan komitmen alokasi gaji layak untuk pekerjanya. “Kalau desain manajemennya diperbaiki, posisi pasar tradisional pasti akan menjadi basis pertahanan ekonomi rakyat. Bahkan bisa memunculkan dampak strategis lainnya dalam industri wisata. Saya berharap Presiden mendatang menjadikan persoalan ini sebagai persoalan nasional. Bila perlu, alokasikan dana secara besar-besaran dari APBN untuk pembangunan dan peningkatan kapasitas manajemen pasar tradisional,” kata Suroto.

Pengalaman beberapa negara lain mengelola pasar tradisional ada baiknya dirujuk sebagai contoh. Mereka memposisikan pasar tradisional sebagai aset nasional yang membanggakan. Di Malaysia dan Singapura, pasar tradisional dijadikan tujuan wisata. Pasar tradisional dikelola dengan profesional dan bersih sehingga pengunjung juga merasa nyaman dan senang berbelanja. Dengan eksotisme pasar apungnya, Thailand bahkan menjadi tujuan utama oleh turis asing yang berkunjung. Pasar tradisional di Turki, Jepang dan Korea juga dikelola secara profesional dan menjadi tujuan wisata.

Bagikan ke: