Aliansi Koperasi Ritel , Kapan?

Sedih melihat keadaan koperasi konsumen atau ritel di Indonesia yang semakin memble? Tidak demikian halnya dengan kondisi di negara tetangga. Tengok saja koperasi ritel Singapura, Fair Price yang mendunia atau Saigon Co-op di Vietnam yang mampu mendominasi bisnis ritel di negeri paman Ho itu. Di negeri yang jadi mbahnya kapitalis, Amerika Serikat (AS), koperasi ritel juga tampil berjaya. ACE Hardware, koperasi ritel peringkat 10 dari 100 Koperasi Besar AS, malah merambah ke Indonesia.

Lalu bagaimana dengan nasib koperasi ritel di negeri ini?

Bergulirnya era reformasi pada 1998 ternyata tidak berjalan lurus dengan nasib koperasi (ritel), yang di masa Presiden Soeharto mengalami masa keemasan.   Koperasi ritel atau lebih dikenal dengan Koperasi Serba Usaha (KSU) tumbuh subur di seantero negeri. Maklum, pemerintah memang memberikan iming-iming bantuan modal serta kemudahan usaha. Di ibu kota Jakarta misalnya, hampir di seluruh pelosok kelurahan berdiri KSU dengan icon Waserda (warung seba ada). Warga merasa terbantu dengan kehadiran KSU karena mereka tidak harus pergi ke super market yang harganya relatif lebih mahal. Selain itu pemerintah juga memprakarsai berdirinya pusat perkulakan koperasi yang dikenal dengan nama GORO. Melalui pusat perkulakan ini, KSU mendapatkan kemudahan pasokan barang dengan harga lebih murah. Dengan kemudahan mendapatkan pasokan barang itu KSU besar seperti Tunas Jaya kala itu, mampu mendulang omset hingga Rp 10 miliar per tahun. Bandingkan dengan kondisi saat ini, kendati Tunas Jaya masih mampu tegak, namun omset per tahunnya tak lebih dari Rp 700 juta-an saja per tahun.

Entah di mana salahnya, selesai pesta reformasi nasib KSU justru perlahan ambruk ke titik nadir. Jakarta yang sebelumnya pernah menjadi ‘lautan’ KSU, kini hanya dihiasi ratusan KSU ‘papan nama’ yang mandeg beroperasi. Serbuan mini market modern ditengarai sebagai biang keladi matinya KSU. Namun, kata Sugiharto, kesalahan itu sebenarnya justru ada dipundak pemerintah daerah yang membiarkan lahirnya persaingan tidak sehat.

Bagaimana dengan KSU di daerah lain? Untuk KSU kelas kecil-kecilan memang masih mampu eksis. Namun tidak demikian halnya dengan KSU kelas ‘gede’. Ambil contoh KSU Kuta Mimba di Bali. Koperasi yang terbilang besar ini sejak 2014 terpaksa tutup, lantaran tak mampu menghadapi serbuan ritel modern. “Kami harus realistis, bahwa bisnis ritel koperasi tak lagi mendapat tempat di kebijakan pemerintah, dari pada tak dilindungi lebih baik tutup,” ujar Manager KSU Nyoman Santun. Sejumlah koperasi ritel yang masih eksis hingga saat ini agaknya harus lebih waspada membaca sinyal persaingan tak sehat itu.

 

Bersatu, lebih kuat.

Bagaimana menyelamatkan KSU? Saya ingin mengajak Anda melihat perjuangan koperasi ritel di sejumlah negara, mereka mampu bertahan dan berjaya karena bersatu melawan ketidakadilan pasar. Yang pertama, The Edeka Zentrale, koperasi penguasa industri ritel di Jerman. Sejak berdiri pada 1898, pendiri koperasi ini sudah menyadari arti pentingnya bersatu. Itu sebabnya, The Edeka yang digerakkan oleh 23 koperasi ritel kecil, kini sanggup merajai bahkan menjadi korporasi supermarket terbesar di Jerman. Sebagai koperasi Edeka Zentrale A.G. dibangun dari jaringan ritel-ritel kecil yang membeli produk pangan dan barang-barang kebutuhan rumah tangga secara gabungan.

Tentu saja koperasi ini tidak serta-merta langsung sukses, meski kini menjadi pemegang pangsa pasar ritel terbesar di Jerman mencapai 26%. The Edeka saat ini beranggotakan banyak koperasi ritel independen yang seluruhnya beroperasi di bawah payung organisasi Edeka Zentrale AG & Co KG, yang berkantor pusat di Hamburg.

Saat ini terdapat sekitar 4.100 gerai dan toko yang menggunakan nama Edeka di Jerman bervariasi dari mulai gerai paling kecil hingga sekelas hipermarket. Dalam perkembangannya pada 2007, koperasi itu mencapai kesepakatan dengan Tengelmann (yang dikenal sebagai A&P di Amerika Serikat) untuk membeli 70 persen saham mayoritas di Tengelmann’s Plus.

Membangun usaha bersama untuk mengatasi ancaman pasar yang tidak ramah menjadi motif utama kelahiran sejumlah koperasi di AS.   Ketika Associated Wholesale Grocers (AWG) berdiri pada 1924 pemiliknya adalah 20 toko grosir kecil pada 1924. Mereka sepakat untuk menggabungkan kekuatan modal dan promosi bersama guna menghadapi jaringan bisnis raksasa milik para pemodal besar. Bergabung dan bekerja bersama-sama kemudian mereka anggap sebagai salah satu cara untuk memperkuat pasar dan memenangkan persaingan.

Bagikan ke: