Aisha Nadia, Tinggalkan Profesi Bidan, Jadi Pengusaha Batik Tasikmalaya

Aisha Nadia-Foto: Istimewa.

TASIKMALAYA—Sejak 2011, Aisha Nadia memutuskan untuk meninggalkan profesi bidan di mana dia menamatkan pendidikan akademi bidang di Ciamis, untuk melanjutkan usaha kerajinan batik milik orangtuanya, yang sudah berdiri sejak 1987.

“Saya tergerak untuk melanjutkan usaha ini, melestarikan batik Sunda dengan motif lereng, sapujagat, sidomukti dan sebagainya. Nama brand ayah saya adalah Dimas, diambil dari nama kakak saya yang lahir pada waktu mulai usaha,” ungkap Aisha kepada Peluang, Selasa (22/6/21).

Pada 2019, bersamaan dengan peresmian Kampung Batik Bright Gas Tasikmalaya, Aisha bergabung menjadi mitra binaan Pertamina. Aisha mengaku pinjaman modal yang ia dapatkan sangat bermanfaat untuk mengembangkan usahanya.

Setelah bergabung menjadi mitra binaan Pertamina, Dimas Batik berkembang pesat. Pada2019 omzet meningkat hingga Rp40 juta per bulan. Sekalipun pada  saat mulai pandemi 2020 memang sempat turun drastis.

“Namun berkat pelatihan dan pendampingan yang diberikan Pertamina, kami jadi lebih semangat berinovasi. Alhamdulillah tahun ini omzet kami berhasil meningkat kembali hingga mencapai Rp 60 juta per bulan,” ujar perempuan kelahiran 1991 ini.

Usaha milik Aisha ini pun memiliki keunikan tersendiri. Saat pengrajin batik lainnya kebanyakan memproduksi batik cetak, Aisha mengembangkan kain batik tulis. Sebagai putri daerah, ia pun turut menggandeng dan memberdayakan 17 orang warga sekitar tempat tinggalnya untuk memproduksi produk batiknya.

Tidak selalu harus bekerja dari rumah produksi, menurut Aisha para perajin di Dimas Batik dapat melakukan pekerjaannya dari rumah masing-masing.

“Saya ingin usaha saya memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar saya. Sehingga mereka juga ikut berdaya, punya kemampuan membatik, dapat menafkahi keluarganya, dan turut berkontribusi melestarikan keunikan corak batik khas Tasikmalaya,” ucapnya.

Batik produksinya dihargai Rp100 ribu untuk cap hingga yang paling mahal Rp1,5 juta untuk batik tulis, tergantung kesulitan pengerjaannya.  Batik ini dipasarkan ke Jakarta dan Bandung, selain seputar Tasikmalaya.

Kampung Batik Bright Gas Tasikmalaya merupakan sinergi antara Pertamina dengan Pemerintah Kota Tasikmalaya untuk mengembangkan produk unggulan daerah Tasikmalaya. Sentra batik yang diresmikan tahun 2019 ini berlokasi di Kampung Ciroyom dan Cigereung, Nagarasari, Kecamatan Cipedes.

Pjs. Unit Manager Communication, Relations & CSR Pemasaran Regional Jawa Bagian Barat, Fahrougi Andriani Sumampouw, mengatakan saat ini di Kota dan Kabupaten Tasikmalaya terdapat raturan UKM yang telah bergabung menjadi mitra binaan Pertamina.

“Tidak hanya dari industri kreatif, UKM tersebut juga berasal dari sektor perdagangan, peternakan, serta perikanan,” tutupnya (Irvan).

Bagikan ke:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *