Agar Tak Terlindas Megashift Inovasi, Adaptasi, Kolaborasi

Siap atau tidak, suka atau tidak, perubahan (shifting) secara massive saat ini bergulir dengan begitu pesatnya, di semua aspek kehidupan, di seluruh sektor bisnis. Fenomena megashift ini dipicu oleh tiga aspek yang lazim disebut sebagai triple disruption, yaitu transformasi digital, perubahan iklim, dan pandemi Covid-19.

Transformasi digital sejak satu dekade terakhir memang berkembang dengan sangat pesat, mendorong evolusi di berbagai bidang ke arah yang tidak kita sangka sebelumnya. Kehadiran smart phone berikut aplikasi digital dan ekosistemnya  telah mendisrupsi banyak sektor bisnis maupun pelaku usaha, sekaligus juga melahirkan begitu banyak bisnis baru.

Di sisi lain, meningkatnya kesadaran penduduk bumi terhadap seriusnya ancaman Perubahan iklim juga telah mendorong masyarakat untuk mengubah gaya hidupnya  menjadi lebih ramah lingkungan. Semangat untuk menerapkan prinsip reduce, reuse, recycle semakin  meningkat. Begitu pula dengan implementasi prinsip 3P (people, planet, profit) di dunia usaha. Gaya hidup green ini juga telah mendorong evolusi di industri otomotif hingga melahirkan kendaraan bermotor listrik berbasis baterai yang diyakini cepat atau lambat akan menggantikan keberadaan kendaraan bermotor berbahan bakar fossil fuel yang dianggap tidak ramah lingkungan.

Yang terbaru, shifting secara besar-besaran juga didorong oleh terjadinya pandemi Covid 19 di seluruh duna. Pandemi telah meningkatkan kesadaran masyarakat untuk hidup lebih sehat, mengubah pola kerja dan kegiatan bersekolah menjadi virtual.

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, telah jauh-jauh hari mengingatkan  pentingnya kesiapan pelaku usaha, terutama di sektor industri kreatif dalam menghadapi fenomena megashift.

Sandiaga mengingatkan para pelaku usaha, terutama di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk mengimplementasikan inovasi, adaptasi, dan kolaborasi agar siap menghadapi megashift.

Aspek inovasi, dengan memanfaatkan platform digital dalam memasarkan produk kreatifnya, sehingga layanan yang diberikan akan lebih maksimal. Aspek adaptasi, yakni menerapkan protokol kesehatan yang berlaku di era kenormalan baru. Sedangkan aspek kolaborasi yakni bekerja sama dengan seluruh unsur pentahelix, sehingga sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dapat segera pulih dan bangkit.

Pandemi COVID-19 telah mengakselerasi karakteristik ekonomi pariwisata baru (new tourism economy), berdasarkan hygiene, low mobility, less crowd, dan low touch atau yang biasa disebut Menparekraf dengan personalized, customized, localized, and smaller in size.

“Supaya dapat survive dan mencetak peluang-peluang baru di tengah pandemi. Kita harus mampu melakukan inovasi, adaptasi, dan kolaborasi untuk menghadapi dinamika yang terus terjadi,” ujarnya dalam sebuah webinar beberapa waktu lalu.

Menurut Menparekraf, konsep 3A (attraction, amenity, access) juga mengalami perubahan karena terbentuknya ekonomi pariwisata baru.  

Evolusi besar-besaran juga sedang terjadi di sektor keuangan. Konvergensi digital menjadi motor penggerak utama evolusi tersebut. Industri keuangan juga tak mau ketinggalan dalam tren bisnis hijau dengan ikut mendukung green banking. Maka pandemi pun menjadi katalisator untuk mempercepat digitalisasi pada industri keuangan.

Tren Megashift

Terhadap dampak pandemi global, Perusahaan riset dan konsultan Inventure baru-baru ini mengungkapkan sejumlah tren shifting pascapandemi Covid-19 melalui hasil studinya yang bertajuk ’10 Industry Megashift 2022’.

Menurut Managing Partner Inventure Yuswohady, Megashift terjadi secara massal di berbagai sisi pada tahun ini, mulai dari consumer megashift, digital consumer megashift, zillenial megashift, branding megashift, retail  resto megashift, sampai pada media megashift dan entertainment megashift.

Yuswohady menggambarkan bahwa di era megashift, setiap konsumen adalah periset. Dengan begitu banyak data dan testimoni konsumen yang tersebar di media sosial, konsumen akan dapat dengan mudah mempelajari tren dan reputasi dari bisnis atau toko online sebelum memutuskan untuk membeli, dan komplain pembeli sebelumnya akan menjadi bahan pertimbangan yang sangat penting bagi konsumen di dunia maya.

Di sektor industri kreatif, studi Inventure juga mengungkapkan terjadinya megashift pada sektor perhotelan, travel agent, hingga bisnis MICE.

Temuan itu juga senada dengan kajian pakar manajemen UI Rhenald Kasali. Pendiri Rumah Perubahan itu mengidentifikasi setidaknya ada 10 bidang usaha yang telah berubah secara permanen.

10 bidang tersebut adalah kuliner, pendidikan, hiburan, donasi sosial, alat pembayaran, logistik, fashion, periklanan, media, dan sektor perumahan. Saat pandemi terjadi, semua pengusaha secara voluntary melakukan shifting ke layanan digital.

Begitulah, baik sebagai konsumen maupun pelaku usaha, saat ini kita tengah bersama-sama mengalami megashift, yang paling terasa adalah dalam hal pola kerja WFA (work from anywhere), belanja online, hingga akses transportasi digital. Tentu saja, regulator sebagai wasit yang bertugas melindungi masyarakat sebagai konsumen harus memiliki visi yang kuat untuk meraba arah evolusi bisnis digital ini sehingga regulasi yang harus menjadi acuan seluruh stakeholder tidak tertinggal dibelakang tren megashift itu sendiri.

Bisa kita lihat di industri keuangan, teknologi blockchain kini telah berkembang dengan sangat luas. Tentu saja, banyak risiko yang harus dicermati dalam perkembangan bisnis mata uang kripto ini. Kita pun dipaksa mengikuti tren di dunia maya dengan berkembangnya teknologi NFT dan Metaverse. 

Suka atau tidak, pilihannya cuma satu: ikut tren atau tergilas oleh perubahan. Tentu saja, ini harus dilakukan secara bijak. (trd)

Bagikan ke: