2018, Investasi layanan finansial teknologi bakal tembus US$ 8 Miliar

inves jasa

Otoritas Jasa Keuangan (OJK)  bekerjasama dengan Kamar Dagang Indonesia (Kadin) menggelar  “Indonesia Fintech Festival & Conference 2016” (IFFC 2016) yang berlangsung  pada 29-30 Agustus di Convention & Exhibition (ICE), BSD Tangerang, Banten.  Festival akbar pertama yang dibuka oleh Presiden Joko Widodo ini menjadi ajang pertemuan  seluruh stakeholder industri keuangan Indonesia. Mulai dari regulator, institusi keuangan swasta, investor, start up, asosiasi industri, hingga kalangan akademis.   Ajang ini  diharapkan bisa menginspirasi anak muda Indonesia dengan passion di bidang keuangan dan teknologi untuk turun menjadi entrepreneur di industri fintech dan bersama-sama meningkatkan inklusi finansial Indonesia.  Pesatnya pertumbuhan ekonomi berbasis digital, kata Ketua Umum Kadin Rosan Perkasa Roeslani berdampak pada meningkatnya investasi di bidang layanan finansial dan teknologi (fintech). Potensinya ditaksir menembus US$ 8 miliar.  Pertumbuhan layanan keuangan berbasis teknologi digital, ujarnya telah menghadirkan alternatif dalam memberi akses keuangan bagi masyarakat yang bermukim di wilayah terpencil dan belum terjangkau jasa layanan perbankan.

“Pada tahun 2008 investasi di Fintech masih sekitar US$ 900 juta. Pada 2013 jumlahnya meningkat menjadi US$ 3 miliar, dan pada 2018 mendatang akan mencapai US$ 8 miliar,” kata Rosan, selasa (30/8) di sela penyelenggaraan  IFFC.  Dia optimistis potensi Indonesia sebagai kekuatan ekonomi terbesar pada 2020 semakin dekat, seperti tercermin pada tingginya penetrasi teknologi digital dalam kegiatan ekonomi nasional. Tingginya pengguna internet, media sosial, dan telepon seluler di Indonesia, sambung Rosan,  telah menciptakan pasar berbasis digital yang mampu bertahan dan berkelanjutan.

 

Sementara itu Ketua OJK Muliaman Hadad mengatakan tujuan utama IFFC  untuk mendukung fintech dalam meningkatkan efisiensi inklusi finansial di Indonesia. Selain menjadi ajang konferensi, IFFC 2016 juga menjadi ajang pameran berbagai layanan digital yang bergerak di bidang keuangan mulai dari perbankan hingga startup, kompetisi startup, hingga sesi speed dating startup.

Menurut dia,  fintech dalam beberapa dekade ini telah berkembang dan berevolusi. Mulai dari hanya sekadar layanan kartu kredit dan ATM hingga kini yang sudah bersinggungan dengan mobile melalui perangkat smartphone yang memungkinkan kapitalisasi informasi sebagai asset strategis yang dapat dipertukarkan. Di fase inilah muncul banyaknya layanan jasa keuangan untuk masyarakat umum yang baru seperti crowdfunding dan juga P2P lending.

“Saya ingin kita berlomba-lomba memanfaatkan momentum ini sebaik mungkin untuk mendorong kontribusi industri fintech dan peningkatan inklusi keuangan masyarakat serta mendorong efisien layanan jasa keuangan bagi seluruh lapisan masyarakat,” tutur Muliaman. (Ira)

Bagikan ke: