10 Kesalahan Start-up

Berbagai pesan  yang disampaikan kepada para pemula bisnis (start-up) barangkali sudah menumpuk di meja kerja Anda, mulai dari pakar ternama hingga praktisi sukses. Jika masih kurang juga inspirasi yang dibutuhkan, silakan berselancar dengan paman Google, dijamin bisa lebih memperkaya wawasan Anda.

Namun,  dalam praktiknya tidak sedikit mereka yang gagal, putus asa bahkan ragu apakah bisnis yang sedang dikembangkannya memang bisa mendulang uang.

Nah, jika kondisi galau itu yang tengah Anda hadapi, tidak ada salahnya menyimak ulang pesan Nabila Amarsy.

Kesalahan terbesar dilakukan start-up saat mulai membangun bisnisnya, kata konsultan manajemen yang mukim di Paris, Perancis itu, lebih banyak terpaku pada teori-teori seperti perencanaan bisnis, menyusun cashflow jangka panjang, dan jika aaspek pasar dan dukungan keuangan dinilai cukup, mereka  langsung meluncurkan produk ke tengah pasar.

Tidak salah memang. Tetapi, langkah itu berpotensi memperbesar kerugian yang bakal dialami apabila start-up tidak melakukan riset produk yang diinginkan pasar. Dalam survey Nabila disebutkan, kegagalan terbesar start-up  dengan score 300 atau 36% adalah menjual barang yang tidak diinginkan oleh pasar. Tetapi, jika Anda berhasil menciptakan produk yang diinginkan pasar, jangan dulu merasa besar kepala. Karena masih ada faktor potensi  rugi lainnya yang akan menghadang.  Karenanya, sebelum melangkah ke usaha yang lebih besar, tidak ada salahnya jika ide-ide Anda yang brilian itu diuji petik melalui serangkaian survey pasar. Sehingga uang Anda tidak terbuang sia-sia dan perusahaan yang Anda bangun dapat melanggeng sukses.

Pesan yang ditulis Nabila Amarsy ini sebenarnya sudah agak lawas, namun tidak ada salahnya kembali dikutip agar para pemula bisnis tidak terjebak dalam lobang kegagalan yang sama. Nah inilah 10 kesalahan yang banyak dilakukan start-up. (Irm)

Bagikan ke: