ZENTREPRENEUR

SAM WALTON mengenalkan cara belanja murah melalui perang diskon. Dan seluruh pusat perdagangan eceran di Amerika Serikat terguncang. Pasar-pasar tradisional terancam bangkrut, Walton pun menuai kritik. Tetapi ide kontroversial yang dibenci di AS pada kurun 1960-an itu belakangan menjadi tren di penjuru dunia.

Pria kelahiran Oklahoma 1918 ini memulai dengan Wal-Mart di mana ia berperan sebagai pemilik, Chief Excecutive Officer (CEO ) dan sekaligus pelayan untuk tokonya yang berukuran mini itu. Kendati telah menangguk kekayaan miliaran dolar AS, membuka ribuan cabang Wal-Mart dan merekrut lebih dari 400.000 karyawan, Walton tetap saja sosok pria sederhana yang sangat hemat kalau tak boleh dibilang kikir.  Sarjana bisnis jebolan Universitas Missouri, Columbia ini, lebih suka bekerja dengan contoh ketimbang tumpukan teori-teori ekonomi. Jack Trout penulis buku  Repositioning, memuji Walton sebagai pekerja super keras yang seringkali menghabiskan waktunya di tengah malam di dok bongkar muat dan berbicara kepada setiap pegawainya. Kebanyakan eksekutif puncak cenderung membangun jarak  dengan karyawan kelas terendah. Walton justru menyatu dengan bawahannya. Ia lebih suka naik truk pick-up mengantarkan barang ke toko-toko.

Ketika meninggal pada 1992, Walton mewariskan kekayaan sekitar US$ 23 miliar dan keempat anaknya mampu mewarisi pikiran-pikiran tentang bagaimana cara uang bekerja. Wal-mart pun menerobos pasar online.com yang marak di tahun 1990-an, memanfaatkan teknologi drone untuk pengiriman barang dan mengakuisisi puluhan start-up guna mendorong pertumbuhan e-commerce. Hingga awal tahun ini, kekayaannya mencapai US$1.300 miliar dan Majalah Forbes menobatkan Waltons sebagai keluarga terkaya di AS.

Kisah Walton mungkin sudah usang. Tetapi konsep diskon hingga kini terus hidup dan menjadi kiat bagi setiap pusat pertokoan dalam memperkuat keunggulan daya saing. Melakukan terobosan dengan sentuhan intuitif seperti  Walton memang tak mudah. Di tengah masyarakat industri yang mendewakan keunggulan otak, cara seperti itu bisa dibilang ceroboh.

Adakah CEO yang memimpin tanpa konsep, membiarkan segala sesuatunya mengalir begitu saja sesuai irama air.  Jawabnya adalah zentrepreneurship, gagasan John Murphy yang menggabungkan praktik meditasi kuno dengan dunia usaha modern.

Di timur kita mengenal Zen,  tentang melakukan sesuatu dengan tidak melakukan apa-apa, hanya hening. Sulit dimengerti memang. Karena zen adalah pengajaran non-verbal melalui teka-teki yang tampaknya tidak masuk akal, yang tidak bisa di jawab dengan berpikir.

Perpaduan spiritual itulah yang digiring oleh Murphy ke dunia bisnis modern. Konsultan bisnis internasional yang banyak mengajar di berbagai belahan dunia ini ingin mengajak  pebisnis untuk banyak belajar dari seni kuno zen, yang mendorong refleksi diri dan perubahan positif sebagai sarana menuju pencerahan.

Di dunia ekonomi yang berpijak di atas landasan materialisme kini orang mengenal Zentrepreneur. Para perenung yang membangun mimpinya melalui tindakan alih-alih lamunan. Zentrepreneur  meyakini pikiran telah  menggerakkan dunia melalui serangkaian trial and error.  Perbagai inovasi besar sering lahir dari pikiran-pikiran seperti itu. Spekulatif, coba- coba, gagal, tetapi berakhir dengan penemuan besar yang mengubah sejarah kehidupan manusia.  Kendati pada awalnya sebatas ide, dan ketika otak tidak mampu menampungnya, maka seperti kata iklan sepatu olah raga: Just do it. Lakukan saja. Maka Anda akan menemukan mimpi-mimpi itu.   (Irsyad Muchtar)

Share This:

You may also like...