Yunita Ubah Pampers Bekas Jadi Pot Tanaman

Yuni Lestari menunjukan pampers bekas-foto Dokumentasi Pribadi.

MALANG—Plastik, pampers merupakan limbah yang sulit diurai. Tetapi di tangan seorang ibu rumah tangga di Kota Malang, Yunita Lestari pampers bekas bisa dimanfaatkan menjadi kerajinan bot bunga.

Di bawah bendera Cantuka Kreatif, Yunita menggandeng para ibu rumah tangga yang menjadi tetangganya di Tunjungsekar Lowokwaru, Kota Malang untuk menyerahkan pampers bekas ke Bank Pampers.

Cantuka Kreatif adalah unit produksi pengolahan limbah menjadi produk yang merupakan rangkain alur setelah sosialisasi dan penabungan di bank Pempes

“Memang ada tiga tahap, ada sosialisasi dari kader lingkungan kepada ibu rumah tangga bagaimana pampers bekas dibersihkan dan bisa kembali menjadi hygenis,” ujar perempuan yang pernah kuliah di Jurusan Matematika, Universitas Negeri Malang ini ketika dihubungi Peluang, Kamis (11/10/2018).

Warga yang  “menabung” mendapatkan jasa juga, yaitu Rp1-1,2 juta per tahun. Sementara  bila menabung di bank sampah rumah tangga hanya mendapat Rp80 hingga Rp150 ribu.

Kerajinan dari pampers bekas ini dirintis sejak 2015 dengan modal Rp500 ribu untuk membeli bahan buat mengolah.  Hasilnya ternyata produknya disukai pasar.

Cantuka Kreatif mampu meraih omzet Rp4 juta per bulan,bahkan pernah dalam tiga bulan meraup  Rp18 juta.  Pasarnya baru warga sendiri. Potnya juga dijual mulai dengan harga Rp10 ribu hingga Rp50 ribu.

Pot berbahan pampers ini bisa digantung di dinding dan bsia ditanam aneka sayuran hingga bunga.  Selain bisnis Yunita memang bercita-cita membuat vertical garden di lingkungannya dan berhasil.

Yunita Lestari dan kawan-kawannya sebeutlnya sudah merintis kerajinan dari bahan limbah. Sebelum menggunakan pampers, ia dan kawan-kawannya menyulap plastik bekas jadi hiasan dinding. Namun secara bisnis usahanya kurang berhasil.

Pembuatan pot drai pampers-Foto: Dokumentasi Pribadi.

Dia berharap apa yang dilakukan berkembang, Saat ini dia sudah menampung 10 ribu pampers bekas, hingga overload, karena ia kekurangan tenaga membuat pot.

Tenaga yang bekerja rutin hanya tiga orang dan satu orang hanya membuat satu pot per hari. Satu pot dibuat dengan dua pampers bekas.  Hanya tiga tenaga yang rutin. Kadangkala ia melibatkan kaum pria juga.

Vertikal Garden Pot Pampers-Foto: Dokumentasi Pribadi.

Yunita mengaku  bersyukur dari pada pampers bekas ini jadi limbah di sungai atau di TPA, lebih baik dimanfaatkan (Irvan Sjafari).

Share This: