Yeni Hadianti, Ketagihan Mendongeng

Yeni Hadianti dengan boneka dalam sebuah acara mendongeng dengan WaliKota Cimahi-Foto: Dokumentasi Pribadi.

CIMAHI—Dongeng  dapat  menjadi salah  satu metode efektif baik untuk mengajar  di kelas  maupun untuk menyampaikan informasi atau pesan moral  untuk anak-anak yang ada di masyarakat.  Demikian kata  Yeni Hadianti,  guru Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Nur Alrahman  di Cimahi, Jawa Barat.

“Dalam sebuah cerita terkandung makna yang sebetulnya secara tidak langsung membentuk karakter anak tanpa disadari  anak itu sendiri.  Pesan moral dalam dongengnya itu luar biasa.  Anak-anak bisa  menerima pesan tanpa dinasehati atau digurui,” ujar perempuan kelahiran Bandung 3 Juni 1984 ini kepada Peluang, berapa waktu lalu.

Dongeng adalah salah satu metode mengajar yang digunakan alumni Pendidikan Luar sekolah Universitas Pendidikan Indonesia Bandung ini. Yeni mendongeng tidak saja di depan kelas, tetapi juga di masyarakat, terutama di Kampung Dongeng yang dipimpinnya di kawasan Cimahi. Awalnya mendongeng itu hanya sebuah motode, tetapi akhirnya ia  ketagihan mendongeng.

Kampung Dongeng Indonesia sebetulnya digagas oleh Awam Prakoso, namun ketekunan Yeni mendongeng membuatnya diberi amanah memimpin sebuah Kampung Dongeng di Cimahi.  Kampung Dongeng itu mengambil tempat teras Perpustakaan Pemkot Cimahi dan dilakukan rutin setiap akhir pekan.

Kegiatan di Kampung Dongeng  bukan hanya bercerita, tetapi juga pengenalan permainan tradisional kepada anak-anak, senam, ice breaking hingga fun games.  Paling sedikit 100 anak hadir setiap ada kegiatan mendongeng.

“Dalam mendongeng saya menggunakan boneka yang dipanggil Neng Geulis. Saya memakai boneka di awal  mendongeng untuk menarik perhatian anak-anak.  Selain itu pesan-pesan juga bisa disampaikan  dengan media boneka,” ujar  perempuan yang sudah mengajar sejak 2007 ini.

Yeni mengaku orangtua  dulu jarang  mendongeng. Namun Abah  saya atau kakeknya sering membacakan dongeng,  membacakan buku, membacakan kisah nabi .

“Cerita yang disampaikan  oleh Abah saya itu masih saya ingat,” ucap mantan relawan Kemanusiaan Bencana Selat Sunda ini sebagai Ketua Pendampingan Anak pada Januari 2019 lalu.

Yeni mengaku dongeng yang  disampaikan kepada anak-anak itu bertema tentang kejujuran, kemandirian, persahabatan. Tetapi sering juga dongeng-dongeng Islami  tentang kisah-kisah Nabi, cerita para sahabat  Nabi namun umumnya disajikan untuk siswa kelas 6 SD hingga SMA.

“Bahkan nenek-nenek juga senang didongengin,” pungkasnya (Irvan Sjafari).

Share This:

Next Post

Yayat Supriatna, Biaya Transportasi Jangan Lebih dari Sepuluh Persen Penghasilan

Kam Apr 4 , 2019
JAKARTA—–Tiga puluh tahun sudah pakar tata kota Yayat Supriatna menggunakan transportasi umum dari kediamannya di Bogor menuju tempat dia bekerja di Fakultas Teknik Universitas Trisakti.  Dia mengendarai sepeda motor ke stasiun kereta api dan memarkirnya di sana. Dari stasiun Bogor alumni Magister Plannologi ITB ini menumpang kereta komuter. Saat inibiaya […]