Yang berjaya di tahun Kuda Kayu

PELAKU usaha ketar-ketir saat memasukil tahun 2014, bukan karena pertumbuhan ekonomi nasional yang melemah pada 2013 dibanding dua tahun sebelumnya ( pertumbuhan ekonomi 6,5 persen pada 2011, dan 6,23 persen pada 2012, pertumbuhan ekonomi 2013 berada di bawah 6 persen). Namun karena adanya perhelatan akbar demokrasi di Indonesia, pemilihan umum untuk angota legisltaif dan presiden. Ada rasa was-was terjadi perselisihan dan sengketa politik yang berlarut-larut di Komisi Pemilihan Umum dan Mahkamah Konstitusi. Tidak tertutup kemugkinan perselisihan memicu konflik yang dapat menggangu investasi di Indonesia.
Untunglah, dua agenda besar demokrasi di Tahun Kuda kayu berjalan mulus. Perselisihan pemilihan anggota legislatif relatif bisa diselesaikan dengan baik. Pemilihan presiden Indonesia juga berlangsung satu putaran, tidak terjadi sebagaimana dikawatirkan hasil survey yang menyatakan dua putaran. Dinamika pemiihan umum yang sehat mendorong kembali kepercayaan investor. Meskipun perselisihan pemilu presiden di Mahkamah Kontitusi yang memanas, cukup membuat pelaku usaha berdebar-debar.
Mulusnya pemilihan umum pada 2014 mendorong harga saham dan sektor perbankan bergerak ke arah positif. Lalu bagaimana dengan pertumbuhan pelaku usaha di sektor riil? Di awal Januari 2014 (PELUANG No 46) kami menurunkan ulasan 50 bisnis prospektif di Tahun Poliitik yang akan berkembang pesat. Nah, menutup tahun 2014 ini, bagaimana nasib 50 bisnis prospektif tersebut. Apakah memang mampu mendulang uang dan menambah pundi-pundi investornya. Atau sebaliknya gulung tikar, apalagi dampak krisis ekonomi global masih cukup kuat bagi pelaku usaha lokal.
Jika mengacu data krisis tahun 2002, 2005, 2008, 2009. Di 2014 semua indikator jauh lebih baik. Mulai dari Rupiah pada 2008 di atas Rp 13 ribu per dollar US. Tahun 2014 masih lebih baik, meski masih di atas Rp11 ribu. Pada krisis 2008 ada 2 bank jatuh, di 2014 tidak ada bank jatuh. Indonesia memang kerap dihantam krisis namun Indonesia masih bisa bangkit.
Bisnis jasa konsultan politik yang diprediksi bakal berjaya di 2014 ternyata makin berkibar. Mereka menikmati panen raya di Tahun Politik ini. Pendiri Lingkaran Suvei Indonesia Denny Januar Aly mengaku bisnis survei dan konsultan politik tak kenal kata rugi karena biaya diberikan di awal.
Bisnis lainnya yang mendulang rupiah di tahun Kuda Kayu ini adalah produk tekstil dan fashion. Pagelaran kompetisi sepakbola di Piala Dunia 2014 turut mengggairahkan dan meningkatkan omzet penjualan. Pernak-pernik yang berhubungan dengan momentum Piala Dunia, seperti kaos kesebelasan negara favorit, sepatu olah raga terutama untuk sepak bola atau futsal, atau aksesoris seperti gantungan kunci, topi, jam tangan, atau benda menarik apa saja yang berlogo Piala Dunia 2014 diserbu masyarakat.
Produk Fashion. Baju modis dan aksesorisnya seperti jilbab, hiasan jilbab dan sejenisnya merupakan salah satu produk yang laris manis di tahun 2014. Istilah hijabers dan munculnya komunitas-komunitas yang memakai hijab di tahun 2014 makin menguatkan permintaan produk fashion. Semakin membaiknya pendapatan masyarakat memicu orang untuk tidak saja memenuhi kebutuhan primernya dengan istilah “asal ada” namun bila berkaitan dengan model baju wanita modis maka mereka tak segan-segan membelanjakan uangnya untuk tampil lebih keren dan cantik. Biasanya produk fashion yang paling banyak dicari adalah baju wanita dan baju anak-anak, namun jika menjelang lebaran maka baju pria pun akan banyak diminati pula.
Produk Gadget, barang elektronik trendi semacam SmartPhone, BB, dan HP adalah produk-produk yang masih memiliki jumlah komsumen yg terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada 2014 makin ekspansifnya produk smartphone asal Cina masuk ke pasar Indonesia mulai menggeser merk-merk mapan produsen sejenis. Ditambah dengan harga yang miring dan teknologi canggih adalah senjata HP/smartphone buatan Cina,
Bisnis waralaba kuliner ditahun 2014 juga mengalami peningkatan cukup pesat. Faktor gaya hidup masyarakat saat ini yang telah berubah mendorong peningkatan bisnis ini. Kegemaran untuk jajan di luar rumah seperti makan di gerai-gerai waralaba cepat saji menjadi trend anak-anak muda tidak saja di daerah kota namun di desa sudah banyak tempat nongkrong anak-anak muda untuk bersosialisasi bersama teman.
Beberapa usaha di atas hanyalah bagian dari 50 bisnis yang mendulang sukses di tahun 2014. Ke 50 bisnis tersebut merupakan usaha yang dilakukan oleh pelaku usaha kecil dan menengah. Untuk pelaku usaha korporasi tidak menjadi bahan tulisan ini. Harapannya mereka yang telah memulai usahanya akan terus bertahan dan berkembang menjadi jauh lebih besar. Meskipun diterpa badai kenaikan haga BBM menjelang akhir 2014. Kondisi memang makin berat dan sulit, namun bukan untuk diratapi dan putus asa lalu mati. (Galuh Fauzi)
01. Konsultan Politik
Judul: Bisnis yang tidak pernah merugi
Bisnis yang satu ini mulai ramai sejak pemilihan umum dilaksanakan secara langsung. Baik untuk pemilihan legislative mulai tingkat daerah hingga pusat. Belum lagi pemilihan kepala daerah (pilkada). Peluangnya tetap terbuka, pada 2014 bisnis ini meraup keuntungan yang lumayan besar. Apalagi di Indonesia, setiap tahun, 100 daerah menggelar pemilihan langsung. Karena itu Denny Januar Aly, pendiri Lingkaran Survei Indonesia mengaku bisnis konsultan politik tidak mengenal kata merugi. Sebab semua pembayaran dilakukan di muka.
Menurut Denny, bisnis survei dan konsultan politik sangat likuid. Sebagai gambaran, ia menanamkan Rp 550 juta ketika mendirikan Lingkaran Survei. Modal itu, menurut dia, kembali hanya dengan sekali survei ketika menangani Ismeth Abdullah, yang mencalonkan diri jadi Gubernur Kepulauan Riau pada 2005.

Setelah itu, Denny mengklaim, Lingkaran kebanjiran order menangani banyak calon kepala daerah. Pemilihan presiden, gubernur, wali kota, dan bupati secara langsung sejak 2004 membawa berkah bagi lembaganya. Karena calon gubernur atau bupati memerlukan lembaga survei untuk mengetahui popularitas mereka.

Saat ini, ada 497 kabupaten dan kota plus 33 provinsi. Setiap tahun, 100 daerah menggelar pemilihan langsung. Jika setiap daerah rata-rata punya tiga calon, ada 300 klien yang membutuhkan konsultan politik. Dalam setahun, setiap calon menggelar dua-tiga kali survei. Ongkos setiap survei Rp 100-300 juta, bergantung geografinya. Makin ke pelosok atau banyak populasinya, makin mahal.

Soal omzet pasti nilainya besar, setidaknya baru tujuh tahun berdiri Lingkaran Survei Indonesia, sudah memiliki lima anak perusahaan yang menangani semua hal dalam pemenangan pemilihan umum. Seperti; pembuatan dan pemasangan iklan, konsultasi, riset, dan survey.
Bisnis konsultan politik menjual gagasan dan ide. Modalnya keahlian menganalisa dan seni bermain-main opini. Modalnya tidak hanya gelar sarjana, tapi kreatifitas dan jaringan yang luas. Semakin terpercaya lembaga survey atau konsultan politik yang ditandai dengan banyaknya klien yang ‘menang’, maka makin besar pasar yang dikuasai. (Gal)

02. Digital Printing
Judul: Panen Raya di Tahun Kuda Kayu
Pemilihan umum presiden dan pemilihan anggota legislative ditahun 2014 menjadi momentum bisnis percetakan meraup untung. Pesanan membuat baliho, stiker, spanduk dan pendukung alat kampanye meningkat 40-50 persen dari biasanya. Memang bisnis digital printing bukanlah bisnis musiman, digital printing merupakan usaha yang pada mulanya dalam bidang periklanan. Iklan sangat dibutuhkan baik perusahaan dari skala besar sampai kecil. Bagi pemerintahan membutuhkan brosur untuk penyuluhan, Belum lagi pemilihan kepala daerah di 497 kabupaten dan kota plus 33 provinsi seluruh Indonesia. Setiap tahun, 100 daerah menggelar pemilihan langsung. Mereka membutuhkan percetakan sebagai alat sosialisasi memperkenalkan dirinya.
Usaha ini tidak terkena pengaruh perekonomian. Walaupun ekonomi sedang lesu, perusaahan malah akan meningkatkan iklannya agar produknya laku. Beragam keterbatasan infrastruktur dan perkembangan global dunia menyisakan kesempatan bagi peluang bisnis percetakan, khususnya pada bidang printing digital. Saat ini, total pasar digital printing sekitar 40-50 juta lembar per tahun atau setara dengan Rp. 500-750 miliar untuk nilai bisnis per tahun. Jika tahun ini bisnis percetakan mampu meraup untung, tahun depan masih terbuka lebar meraup rupiah. Meskipun tidak sebesar seperti di tahun 2014.(Gal)

03. Sablon
Judul: Omset Naik 300% di Tahun Politik
Bisnis sablon bisa dibilang 11:12 dengan bisnis percetakan digital, serupa tapi tidak sama. Sablon bisanya dilakukan dengan manual, obyeknya bisa kaos, bendera, spanduk, topi dan media lainnya. Bisnis sablon menjamur seiring dengan maraknya distro dan factory outlet diseluruh Indonesia. Bisnis sablon mampu bertahan dalam kondisi sulit, biasanya sablon menjadi alternative saat percetakan digital harganya naik
Perhelatan demokrasi lima tahunan pada tahun 2014 ikut mendongkrak omzet pelaku usaha dibisnis sablon. Sebagaimana dikemukakan Amrizal, wirausahawan sablon di Mataram, Nusatenggara Barat, omzet bisnis sablonnya melonjak hingga tiga kali lipat. Dari rata-rata Rp 7 juta per bulan menjadi sekitar Rp 20 juta saat pemilu lalu.
Atribut partai yang dipesan antara lain bendera kaos, spanduk hingga kartu nama bergambar calon legislatif dan lambang parpol. Bahkan, mereka terpaksa menolak order lantaran pesanan menumpuk. Apalagi, setiap klien meminta agar atribut kampanye mereka selesai dalam waktu cepat. Para pengusaha mengaku tak menaikkan ongkos kerja. Meski kesulitan mendapatkan bahan-bahan produksi, seperti kertas dan kaos.
Bisnis sablon, merupakan bisnis yang sangat mudah untuk dilakukan, selain itu persoalan modal pun bisa disiasati, pengelolaan yang tidak rumit, dan risikonya pun sangat rendah, menjadikan mengapa bisnis ini banyak dilirik. (Gal)
04. Ayam krispi
Judul: Berebut Pasar yang Makin Sempit
Pemain dibisnis ayam krispi atau ayam goreng tepung saat ini makin banyak. Persaingan juga semakit ketat karena semakin banyak usaha baik pribadi maupun waralaba yang menjual jenis makanan ini. Di tahun Kuda kayu ini bisnis ayam krispi masih bisa memperoleh untung meski tidak sebesar tahun 2013. Arie, pedagang ayam krispi di Perumahan Bojong Depok Baru mengisahkan, waktu memulai usahanya di tahun 2013 keuntungan bersih yang bisa dibawa pulang mencapai Rp100 hingga Rp150 ribu per harinya. Saat ini, keuntungan bersih maksimal yang bisa dibawa pulang Rp100 ribu per hari.
Selain persaingan yang makin sengit, isu penggunaan ayam tiren (mati kemarin) maupun penggunaan formalin pada daging ayam yang ramai sejak awal 2014 menjadi kendala tersendiri . Menjual ayam goreng tepung dengan kualitas daging yang terjaga dan racikan bumbu yang konsisten dapat menjadi senjata menghadapi persaingan yang ada. Isu ayam tiren dan penggunaan formalin pada pengawetan daging ayam dapat disiasati dengan memasang brosur cara mengenal daging ayam yang baik dan ciri daging ayam (bentuk, ukuran, dan rasa) yang telah digoreng tepung sehingga pembeli merasa lebih yakin dengan produk yang dijual. (Gal)

05. Jamur Krispi
Judul: Usaha yang Kian Berkembang
Bisnis jamur krispi atau jamur goreng tepung mulai dikenal sejak 2010. Dalam perjalanan yang cukup singkat selama empat tahun, usaha jamur krispi mulai mendapat tempat di masyarakat. Kesadaran masyarakat akan makanan yang sehat mendorong usaha ini lebih maju. Jamur merupakan makanan yang bergizi tinggi. Kandungan lemaknya yang rendah menyebabkan jamur layak dikonsumsi, apalagi bagi yang berdiet. Jamur tiram yang teksturnya seperti daging ayam merupakan makanan favorit bagi vegetarian atau orang yang tidak mau memakan daging.
Kandungan nutrisi pada jamur juga terbilang lengkap. Selain kaya vitamin dan serat, jamur juga memiliki kandungan mineral seperti kalium, kalsium, natrium, fosfor, besi dan magnesium. Jamur tiram dipercaya sebagai makanan yang bisa menurunkan kolesterol, antibakterial, antioksidan dan antitumor. Jamur ini juga dipercaya oleh kalangan tertentu bisa menyembuhkan penyakit asma, lever, diabetes, jantung lemah,anemia hingga kanker.
Ditengah stagnannya bisnis ayam krispi, jamur krispi mengisi kekosongan tersebut. Pada 2014, usaha ini booming . Pasokan yang melimpah dari usaha budidaya jamur yang mulai digalakkan sejak 2004 mendukung perkembangan usaha ini. Usaha yang dirintis dari bisnis rumahan ini sekarang berkembang menjadi bisnis waralaba dengan konsep kemitraan. Omset bisnis jamur krispi untuk usaha rumahan sebulannya mencapai Rp7,5 juta, dengan keuntungan mencapai 50% dari omset. Untuk pengusaha yang sudah mengelola bisnis ini melalui waralaba omsetnya per bulan mencapai puluhan juta rupiah. (Gal)
06. Laundry
Judul: Omset Cuci-Setrika Capai Rp60 T
Usaha jasa cuci dan setrika atau yang biasa disebut laundry pada 2014 berkembang pesat. Pelaku di bisnis ini juga semakin variasi. Usaha laundry sudah banyak dijalankan mandiri oleh individu. Tidak lagi semata-mata melaui waralaba dengan perusahaan laundry yang sudah mapan.
Meningkatnya jumlah perumahan yang berada dipinggir kota dan mobilitas penduduk yang tinggi, mendorong usaha ini berkembang pesat. Apalagi biaya untuk pembantu rumah tangga di Jakarta, Bogor, Depok, Tanggerang dan Bekasi (Jabodetabek) sudah tidak lagi murah. Problem serupa juga ditemui di kota-kota besar lainnya di Indonesia. Karena itu mereka yang tinggal di Jabodetabek misalnya, sering dijumpai saat berangkat kerja di pagi hari, seseorang membawa pakaian kotor ke laundry. Sore hari saat kembali dari kerja, mereka mengambilnya.
Jangan pernah meremehkan usaha laundry atau cleaning service. Pasalnya bisnis yang terkait dengan kebersihan itu menyimpan potensi luar biasa. Kontribusi pembayaran pajaknya juga signifikan. Simak saia penuturan H.M. Shiddiq, Ketua Asosiasi Perusahaan Klining Servis Indonesia (Apklindo), bahwa omset bisnis ini ditaksir mencapai Rp 60 triliun per tahun. Artinya dengan pajak pendapatan 10% dari size market sekitar Rp 60 triliun, pajak yang disetor kurang lebih Rp 6 triliun tiap tahunnya.

07. Sparepart dan aksesori kendaraan
Judul: Usaha yang Tetap Bertahan
Jumlah kendaraan bermotor baik roda dua dan roda empat yang terus meningkat, menyebabkan bisnis dibidang ini tidak pernah surut. Data dari Korps Lalu Lintas Kepolisian Negara Republik Indonesia mencatat, jumlah kendaraan yang masih beroperasi di seluruh Indonesia pada 2013 mencapai 104,211 juta unit, naik 11 persen dari tahun sebelumnya (2012) yang cuma 94,299 juta unit. Untuk tahun 2014, di kuartal ke 3 kendaraan bermotor yang beredar di seluruh Indonesia naik sekitar 10 persen. Populasi kendaraan bermotor yang melimpah menjadikan bisnis di bidang otomotif kian menarik. Sebagaimana dikemukakan Erie Nugraha, pemilik Raja Motor (kontan.co.id), omzet usaha sparepart dan aksesori motor tiap bulan bisa mencapai Rp 50 juta. Ini dengan asumsi stok barang dagangan senilai Rp 125 juta. Kalau bisa efisien dan menekan overhead cost, dalam waktu enam bulan, omzet minimal bisa mencapai Rp 125 juta sebulan. “Pertumbuhan bisnis ini per tahun rata-rata mencapai 25%-40%,” ujar Erie.
Menurut Erie, margin keuntungan dari usaha penjualan sparepart dan aksesori motor mencapai 20%-30%. Margin penjualan di tingkat ritel untuk sparepart bisa mencapai hingga 500%. Misalnya, lampu motor, modalnya cuma Rp 1.100 per unit namun bisa dilepas dengan harga Rp 5.000 per unit.
Kebutuhan sparepart bagi kendaraan ibarat oksigen bagi manusia, kendaraan harus rutin dicek dan diganti jika ingin performanya tetap prima.

08.Service Gadget
Judul: Makin Pesat di 2014
Jumlah handphone (HP) dan smartphone yang biasa disebut gadget saat ini melampaui jumlah pendduduk Indonesia. Jumlah pendduduk Indonesia sekitar 243 juta orang, sedangkan jumlah gadget (berdasarkan jumlah no telepon yang beredar) mencapai lebih dari 350 juta unit. Serbuan gadget low end dengan teknolagi yang cukup mumpuni menambah peminat gadget meningkat.
Besarnya serapan pasar terhadap gadget di Indonesia, menimbulkan permintaan yang tinggi untuk jasa service atau perbaikannya. Memang customer service pembuat gadget sudah melengkapi dengan jaminan garansi dan tempat service resmi. Namun tidak semua masyarakat bisa terlayani, apalagi jika masa garansi telah habis. Alternatifnya adalah tempat service mandiri
Tingginya permintaan service gadget di tahun 2014, dirasakan Berti yang membuka konter service gadget di Jakarta. Dia tidak menduga konter yang dibukanya ini mengalami kemajuan yang cukup pesat. Selain menservice gadget, dia juga menjual aneka HP. Omsetnya setiap hari mencapai Rp 600 ribu sampai Rp 1,5 juta. Kunci suksesnya adalah memiliki tenaga teknisi yang mampu dan bisa dipercaya.

09.Tour and Travel
Judul: Wisata Rohani dan Umrah Meraup Rejeki
Biro tour dan travel tahun 2014 masih menjadi sumber pendulang rupiah cukup besar. Dengan mayoritas penduduk beragama Islam terbesar di dunia, berbanding terbalik dengan kuota haji yang kecil dari pemeringtah Arab Saudi. Kuota haji Indonesia yang terbatas sementara animo masyarakat beribadah haji tinggi, mengakibatkan waktu tunggu keberangkatan haji menjadi panjang, bahkan ada yang lebih dari lima tahun.
Lantaran itu, banyak masyarakat yang berpikir daripada menunggu keberangkatan menyita waktu, lebih baik berangkat umrah terlebih dulu. Peluang ini dimanfaatkan oleh biro travel yang ada. Apalagi tahun 2014 ini, waktu libur sekolah bertepatan dengan bulan Ramadhan, biasanya permintaan umrah meningkat. Sebagaimana disampaikan Supardi pendiri PT Moza Kharisma Jaya yang didirikan pada 2012, bisnis umrah dan wisata rohani selalu ramai jika bertepatan dengan libur sekolah di Indonesia.
Supardi mengisahkan, tahun lalu rekannya mampu memberangkatkan 2000 jamaah umrah dalam tempo 8 bulan. Kalau per jamaah keuntungan yang diperoleh didapat sedikitnya Rp1 juta maka yang bisa diraup sebesar Rp2 miliar. Untuk tahun 2014, Supardi mengaku hanya memberangkatkan 400 jamaah, sesuai yang ditergetkan. Himpunan Penyelenggara Umroh dan Haji Indonesia (Himpuh) memperkirakan ada kenaikkan 200 ribu jamaah umroh dibanding tahun 2013 sebanyak 600 ribu orang. Pasarnya masih sangat terbuka, kunci utama dari usaha ini adalah kepercayan.

10. Kafe dan Resto
Judul: Tumbuh bak Cendawan di musim Hujan
Perkembangan bisnis kuliner sebagaimana diprediksikan di awal tahun 2014 ternyata tidak meleset. Keberadaan café makin lama makin menjamur. Selain mall sebagai tempat jalan-jalan dan ngadem-nya masyarakat perkotaan, café menjadi alternatif tempat nongkrong dan ngrumpi. Di Jakarta, setidaknya ada lebih dari 300 café yang beroperasi.
Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Kafe Restoran Indonesia (Apkrindo), jumlah kafe dan restoran tumbuh sebesar 15-20% pada tahun ini. Begitu juga dengan café-café yang ada di kota-kota besar lainnya seperti Bandung, Makassar, Yogyakarta, dan Denpasar, yang bukan main banyaknya. Semua ini menandakan bahwa bisnis ini cukup diandalkan dan menjanjikan.
Perkembangan kafe di Indonesia tidak terlepas dari awal mula bisnis ini ada di tanah air. Bisnis cafe bermula dari minuman dengan kata-kata yang mirip, yaitu kopi. Ide untuk memodernkan cara meminum kopi memang bukan asli dari Indonesia. Gagasan ini diawali dari langkah bersejarah dari kemunculan Starbucks, yang kemudian membuat masyarakat berpikir bahwa minum kopi pun bisa terlihat berkelas dan ‘wah’. Begitu juga ketika Starbucks hadir di Indonesia. Ide brillian warung kopi kelas atas inilah yang lalu diadaptasi oleh masyarakat. Sejak saat itu, berbondong-bondong lahirlah cafe-cafe yang menyuguhkan kopi dengan suasana modern. Harga yang jauh lebih mahal dari kopi sachet pun akhirnya bisa ditoleransi dengan alasan kenyamanan dan standard gaya hidup tingkat tinggi yang ingin dimiliki oleh semua orang.
Suasana seperti ini kemudian menjadi peluang yang lebih besar bagi orang-orang yang tergiur manisnya bisnis cafe. Mereka berpendapat bahwa selama masyarakat tidak keberatan dengan harga yang mahal dan menginginkan gaya serta kenyamanan, maka bisnis cafe bisa dikembangkan. Cafe pun menjamur. Tidak hanya fokus pada menu kopi, cafe mulai memperluas lingkup pada menu-menu yang lain. Kini, bisa kita temukan cafe yang khusus menyajikan menu es krim, hasil olahan susu, cafe yogurt, coklat, brownies, cookies, dan masih banyak lagi menu-menu yang disajikan di tempat makan berkonsep cafe.
Cafe sendiri merupakan sebuah konsep induk yang kemudian dikembangkan lagi dalam subkonsep tempat makan yang lebih rinci. Dari situ, pemilik cafe lalu memperjelas lagi dengan tema desain ruang yang artistik.

11. Meraih Laba itu Mudah

Kemajuan teknologi yang andal dan praktis memacu pertumbuhan bisnis jasa pembayaran yang dikenal dengan Payment Point Online Bank atau PPOB. Awalnya, PPOB merupakan sebuah program kerja PT PLN Persero, sebagai Online Wilayah Distribusi pada tahun 2007. Sejak Juli 2011, akses data untuk transaksi pelunasan tagihan sudah menggunakan database terpusat. Hingga, masyarakat mudah membayar tagihan via online, dari mana pun.

Loket PPOB semula hanya untuk melakukan pelunasan tagihan listrik. Kini sudah dapat melakukan berbagai transaksi, seperti penjualan Token Prabayara PLN, Pembayaran Tagihan Telepon, Pembelian Voucher Pulsa Elektronik. Melalui program PPOB ini, masyarakat diikutsertakan dalam memfasilitasi kebutuhan masyarakat di sekitarnya. Dengan begitu, ada dampak positifnya terhadap pembukaan lapangan pekerjaan baru.

Investasi yang diperlukan untuk pembukaan loket pembayaran online tidak besar. Meski sebagai usaha atau kegiatan sampingan, bisnis jasa pembayaran bisa bernilai triliunan rupiah. Pasarnya luar biasa. Bukankah saat ini lebih dari 80% rumah tinggal telah menggunakan listrik? Pengguna HP yang 300 juta unit itu melebihi populasi Indonesia. Jika setiap pelanggan menghabiskan rata-rata Rp.100 ribu saja, omzet bulanan pulsa tak kurang dari Rp11 triliun.

Bisnis Outlet Pembayaran Listrik, Telkom dan Pulsa isi ulang bisa dilakukan oleh siapa pun. Tanpa anda harus memiliki sebuah Bank, Koperasi, atau mesin ATM. Bahkan anda ikut menikmati royalty dari pembayaran Listrik, Telkom dan Pulsa Isi ulang yang dilakukan oleh orang lain. Dari usaha PPOB pada 2014, dengan keuntungan 2 persen atas asumsi hitungan di atas, omsetnya mencapai Rp220 miliar. Peluang meraih untung dari pangsa pasar bisnis ini terbuka lebar untuk 10 tahun ke depan.

12. Cucian Kendaraan Bermotor

Balik Modal Cukup 4 Bulan

Potensi bisnis cuci kendaraan bermotor roda dua dan empat masih terbuka lebar. Data Kepolisian Republik Indonesia pada 2014 menegaskan hal itu. Bahwa jumlah sepeda motor di seluruh Indonesia tercatat 86,253 juta unit. Kendaraan roda empat 10,54 juta unit, mobil barang (truk, pikap, dan lainnya) tercatat 5,156 juta unit. Omset potensial bisnis ini lumayan besar.

Peluang ini ditangkap Iwan Pamungkas. Tahun lalu dia mendirikan Steam Wash Motor BIMC di Bekasi, Jawa Barat, dengan modal awal hanya Rp12 juta. Dari pengalamannya, satu gerai bisa menjaring minimal 30 konsumen. Omzet kotor minimal per bulan Rp 9 juta. Biaya operasional terbesar untuk tukang cuci. Dengan sitem penggajian bagi hasil, 60% (pemilik) dan 40% tukang cuci, seorang pencuci motor bisa mengantongi Rp3,6 juta per bulan.

Satu gerai mempekerjakan dua tukang cuci. Biaya operasional lainnya adalah pembelian sampo.Harga satu sebotol sampo dibanderol Rp 12.000, yang dapat digunakan untuk mencuci 40 sepeda motor. Biaya pembelian sampo dalam sebulan sekitar Rp 270.000. Ditambah biaya sewa tempat, listrik dan air, maka biaya operasional sebulan mencapai Rp 5.570.000. Sehingga, laba bersih per bulannya sekitar Rp 3.434.000. Dengan begitu, sekitar empat bulan modal bisa kembali.

Semua target ini bisa tercapai jika dapat lokasi strategis. Yakni lokasi yang banyak dilalui kendaraan bermotor. Untuk menambah penghasilan, bila tempat masih memungkinkan, bisa membuka bisnis lain. Misalnya, kantin, leasing atau kredit sepeda motor. Itu baru hitungan omset untuk cuci motor, belum dihitung omset pencucian mobil.

13. Rental Mobil

Mudik Dongkrak Omset 50%

Lebaran dan budaya mudik yang kental dalam masyarakat kita membawa berkah bagi bisnis persewaan mobil. Momentum lebaran merupakan sarana untuk bersilaturhmi ke sanak saudara. Tidak semua orang memiliki kendaraan pribadi, sedangkan angkutan umum pada saat itu sulit didapat. Fenomena inilah yang berimbas pada lonjakan omset jasa penyewaan mobil.

Lonjakan pendapatan pemilik rental mobil cukup drastis bila Lebaran tiba. Biasanya Rp80 juta sebulan. Tapi saat lebaran, omset bisa meningkat mencapai 50 hingga 80 persen. Sebagai pemilik C&J Rental, Yuyun Ratnawaty, yang membuka usahanya di Jalan Dewi Sartika, Cililitan, membenarkan soal limpahan berkah Lebaran yang ikut dinikmatinya.

Harga yang ditawarkan para penyedia jasa bermacam-macam. Umumnya mematok harga Rp500 ribu hingga Rp700 ribu per hari, meski rata-rata penyedia jasa enggan mempersewakan kendaraannya untuk harian. Para penyedia jasa biasanya menyodorkan harga paketan mulai dari lima, tujuh, sampai 10 hari. Untuk mobil ‘sejuta umat’ jenis Avanza, Xenia, APV, dan Luxio, rata-rata dibanderol Rp3,5 juta/5 hari, Rp4,5 juta/7 hari, dan Rp6 juta/10 hari.

Sewa kendaraan jenis Innova lebih mahal. Untuk paketan 5 hari, rental rata-rata dibanderol Rp4,2 juta, tujuh hari Rp5,2 juta, dan 10 hari Rp7 juta.Pihak rental biasanya juga menawarkan jasa sopir untuk mengantar si penyewa. Jasa sopir dipatok Rp200 ribu. Nilai itu belum termasuk tips atau uang makan dan lain-lain. Order terbanyak biasanya pada H-7 hingga H+7 lebaran, dengan kenaikan bisa sampai 100 persen.

14. Sekolah Unggulan

Pendatang Baru Mesti Bersabar

Pendidikan saat ini sudah seperti industri, ibaratnya ada harga ada rupa. Di era reformasi, sekolah negeri tidak lagi menjadi favorit bagi orang tua siswa. Khususnya untuk segmen sekolah dasar, menengah (SMP) dan lanjutan (SMA). Mereka lebih tertarik dan rela merogoh kaceknya dalam-dalam demi menyekolahkan anaknya di sekolah-sekolah yang dianggap unggulan.

Sekolah-sekolah unggulan biasanya menawarkan fasilitas yang komplet, seperti laboratatorium bahasa, laboratorium fisika/kimia, ruang kelas yang ber-AC, dan tenaga pengajar yang mengajar dengan dua bahasa pengantar, Indonesia dan asing/umumnya bahasa Inggris. Bahkan, rentang waktu belajar di tempat-tempat itu lebih lama daripada di sekolah negeri.

Biaya masuk (uang pangkal) ke sekolah unggulan, pada 2014, berkisar antara Rp10 juta dan 15 juta untuk tingkat SD, Rp12-20 juta untuk tingkat SMP, dan Rp15-30 juta untuk tingkat SMA. Sedangkan SPP per bulannya berkisar Rp500 ribu-800 ribu untuk tingkat SD, Rp600 ribu hingga Rp1 juta untuk SMP SPP, dan Rp600 ribu sampai Rp1,5 juta untuk SMA.

Itu belum termasuk uang kegiatan siswa, yang kudu dibayar dimuka setiap semester. Terkadang biaya perawatan gedung juga dibebankan kepada orang tua. Meski pihak sekolah unggulan enggan bicara omzet, hitung-hitungan untuk itu tak sulit. Jika dari kelas 1 sampai kelas 6 SD ada 3 kelas untuk tiap tingkatan, dengan rata-rata 30 siswa), total siswa 1.620 orang. Per bulan dikalikan SPP Rp500 ribu (minimal), hasilnya Rp810 juta. Cukup menggiurkan. Belum lagi uang pangkal dan biaya perawatan seperti disebutkan di atas.

Karena itulah sekolah unggulan tetap menjadi pilihan bisnis yang menguntungkan di 2014, seperti di tahun-tahun sebelumnya. Kepercayaan dan prestasi akademik siswanya menjadi tolak ukur keberhasilan sekolah unggulan. Hasil yang dipertik dari menjalani pembelajaran di sekolah unggulan memang baru akan dapat dirasakan setelah 5 tahun.

15. Web Desainer

Adu Kreativitas Raih Laba

Peluang ‘bermain’ di bidang ini terbuka sangat lebar. Meski baru berada di tahap awal pasar ecommerce di Indonesia, kemajuannya sangat pesat. Sekarang, sudah makin banyak orang Indonesia yang memanfaatkan internet untuk mencari informasi, browsing, dan tentunya belanja secara online. Soalnya, di samping lebih gampang dilakukan dan hemat waktu, juga lebih praktis.

Grafik pengguna internet di Indonesia melonjak dengan sangat cepat. Jumlahnya signifikan, melonjak hingga 22 persen dari 62 juta pada 2012 menjadi 74,57 juta pada 2013. Menurut lembaga riset MarkPlus Insight, pengguna Internet di Indonesia akan menembus 100 juta jiwa pada tahun 2015.

Dengan meningkatnya pengguna internet, semakin tinggi minat berbelanja dengan cara online. Tingkat kepercayaan berbelanja via online pun semakin baik. Ini mungkin karena hadirnya beberapa toko online besar yang sangat memperhatikan keinginan dan kebutuhan konsumen. Kini konsumen tidak perlu mengkhawatirkan modus tipu-tipuan belanja via online, seperti beberapa tahun belakangan.

Web desainer merupakan etalase dalam menjajakan barang dagangan. Di sini faktor kreativitas pada desainer sangat menentukan. Mereka yang kreatif biasanya mampu meningkatakan omset penjualan produk. Karena masih terbilang bisnis baru, PELUANG belum memiliki data tentang omzet bisnis para web desainer ini.

16. Agen Asuransi###

Belum Optimal Digarap

Minimnya Pengetahuan masyarakat yang minim tentang arti penting memiliki asuransi jiwa berarti pasar asuransi terbuka lebar. Data survei baru menunjukkan, hanya sekitar 3% penduduk yang memiliki asuransi jiwa. Pada sisi lain, data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) 2013 menunjukkan, jumlah agen asuransi jiwa di Indonesia 356.731 agen. Tahun sebelumnya hanya 313.115 agen. Pada akhir 2014 jumlah agen asuransi ini diproyeksikan sudah naik 10 persen.

Menjadi agen asuransi saat ini sebuah pilihan karir yang banyak diburu. Perolehan gaji puluhan atau bahkan ratusan juta per bulan bisa diraup seorang agen asuransi. Pekerjaan ini salah satu cara cepat mendapatkan penghasilan besar. Lonjakan penghasilan didapat bukan ditentukan oleh berapa lama masa kerja, melainkan seberapa besar keberhasilan menjual produk asuransi.

Seorang agen asuransi tak memiliki gaji pokok, kecuali karyawan di asuransi itu. Penghasilan diperoleh agen sepenuhnya berasal dari komisi. Meski hanya bernama komisi, anda jangan pernah menganggap remeh. Kontribusi yang dipasoknya ke pundi-pundi si agen cukup besar, dan akan terus membesar sejalan dengan pencapaian target penjualan.

Komisi dari perusahaan asuransi untuk agen bervariasi, antara 5 hingga 30 persen. Kebijakan aturan, persentase komisi, dan perhitungan komisi perusahaan asuransi tentu berbeda antara satu dan yang lain. Sebagai contoh, Anda sebagai agen asuransi mampu memenuhi target premi sebesar Rp150 juta dalam setahun. Maka, Anda akan mendapat komisi sebanyak Rp5 juta/bulan. Lumayan besar, kan?

Jika Anda mampu mencapai target premi Rp300 juta per tahun, komisi Anda adalah Rp10 juta per bulan. Pada tingkatan ini, level Anda sudah naik menjadi Pra Unit Manager. Kalau target penjualan premi Anda mencapai Rp900 juta per tahun, komisi yang Anda peroleh sekitar Rp20 juta per bulan. Pada tahap ini, level Anda sudah menjadi Unit Manager.

Banyak yang tertarik dan menjadi agen asuransi, meski lebih banyak yang gagal setelah mencoba. Sebab, menjadi agen asuransi yang menuntut kegigihan, keluwesan berkomunikasi, dan berbagai kiat human touch itu memang tidak semudah yang dibayangkan. Peluang besar yang pangsa pasarnya baru tergarap 3% ini sangat menjanjikan bagi tenaga berbakat di bidang pemasaran.

17. Financial Planer

Pasar yang Butuh Sosialisasi

Sebutan financial planer atau perencana keuangan belum familiar di telinga masyarakat Indonesia. Profesi ini diperkenalkan pertama kali di Indonesia tahun 1990-an, namun baru populer dibicarakan di awal tahun 2000an. Financial planner adalah sebuah profesi yang membantu nasabah untuk merencanakan keuangan pribadi, dengan membantu memberikan solusi perencanaan, pemilihan pengelolaan keuangan, kekayaan atau investasi nasabah, agar kebutuhan keuangan nasabah untuk jangka pendek, menengah dan panjang dapat tercapai.

Seiring dengan banyaknya tawaran produk investasi, diperlukan seorang profesional untuk membantu nasabah memilihkan produk investasi yang sesuai, sehingga tujuan investasi tercapai. Pada tahun 2000-an, populer sekali Reksadana, yang dapat harganya tidak besar, yaitu Rp 100 ribu. Selanjutnya transaksi saham di bursa. Unuk itu, sekuritas dan perusahaan broker saham juga sudah banyak membuka gerai/galeri di berbagai kota. Obligasi pun tak kalah memasyarakat, dengan diterbitkannya Obligasi Retail Indonesia atau ORI.

Perencanaan Keuangan bukan hanya semata mata berinvestasi. Dalam sebuah perencanaan keuangan mencakup: alur dana, daftar aset dan kekayaan, pembentukan dana darurat, perencanaan dana pendidikan, perencanaan dana pensiun, perencanaan pembelian aset, akumulasi aset, investasi, proteksi atau asuransi jiwa dan aset, dan perencanaan waris.

Hingga saat ini Indonesia hanya memiliki 831 pemegang lisensi Certified Financial Planner (CFP) atau perencana keuangan bersertifikasi internasional. Dari 20 negara peserta program pendidikan sertifikasi profesi perencana keuangan internasional yang diakui oleh Financial Planner Standar Board (FPSB) Amerika Serikat, jumlah pemegang lisensi CFP dari Indonesia kalah jauh dibandingkan Malaysia dan Hongkong yang memiliki 2.657 CFP dan 4.700 CFP. Sedangkan Amerika 67.241 CFP, diikuti Jepang 18.548 CFP dan Cina 13.850 CFP.

18. Tour Guide

Bukan Sekedar Menemani Jalan-Jalan

Profesi sebagai pemandu wisata menuntut keahlian berkomunikasi dan wawasan yang luas tentang objek wisata dan kebudayaan. Pada era globalisasi ini, dunia kepariwisataan merupakan salah satu roda penggerak perekonomian di banyak negara. Sebut saja itu Singapura, Prancis, Malaysia, Mesir, Amerika Serikat, Thailand, Italia, Afrika Selatan, Australia, Brazil, hingga Indonesia.

Dalam sektor pariwisata, banyak bidang dan jenis pekerjaan yang bisa dijadikan sebagai profesi. Umpamanya marketing pemasaran, staf hotel, pegawai restoran, jasa spa, penyedia akomodasi, termasuk menjadi seorang pemandu wisata alias tour guide. Menjalani suatu pekerjaan tentu ada suka dan dukanya termasuk juga sebagai seorang pramuwisata.

Bicara penghasilan, Ardyansah, seorang pemandu wisata di Bali mengaku bisa menghidupi keluarganya dengan layak. Pekerja tour guide lepas di berbagai agen perjalanan itu mengatakan, seorang pemandu wisata bisa memperoleh honor

profesional rata-rata Rp3 juta per bulan. Penghasilan itu bisa bertambah jika banyak aktivitas pemanduan ke luar kota. “Per hari kita dibayar minimal Rp200 ribu. Jadi, sebulan kita mengantongi minimal Rp3 juta,” katanya.

Itu hanya untuk biaya jasa perjalanan di dalam kota, kalau tour ke luar daerah perkotaan ada penambahan lagi. Masih ada tips yang diberikan wisatawan jika merasa menikmati perjalanannya. “Jumlah tips ini beragam, tergantung kepuasan dan kedermawanan si wisatawan,” ujar Ardyansah. Dia mengakui melakoni pekerjaan ini menyenangkan karena justru dilakukan sambil bersenang-senang.

 

19. Wedding Organizer

Pesta Sesuai Plafon Dana

Di tahun 2014, bisnis jasa wedding organizer (WO) masih laris manis. Kebutuhan akan WO dari tahun ke tahun juga meningkat, seiring keinginan masyarakat yang serba praktis. Di akhir tahun ini, penyelenggara WO yang sudah memiliki reputasi sukses mempertahankan omset ratusan juta.

Peristiwa pernikahan yang diharapkan terjadi sekali seumur hidup ini jelas memerlukan persiapan yang sangat matang. Dengan rutinitas dan tingkat mobilitas harian banyak orang yang sudah menguras energi, pemanfaatan jasa WO untuk mempersiapkan pesta pernikahan jadi pilihan tepat. Karena itulah peluang bisnis WO tetap cerah di tahun-tahun medatang.

Tugas WO membantu calon pengantin dari mulai persiapan pernikahan, mencarikan vendor seperti gedung atau hotel tempat resepsi pernikahan, katering, dekorasi, hingga mengorganisasikan round down acara di hari-H. Mereka yang mengoordinasikan seluruh pihak yang yang terlibat dipesta pernikahan—mulai dari calon mempelai, keluarga, lokasi, vendor dan pengisi acara, termasuk pengaturan jadwal meeting dan gladibersih.

Berbagai kiat pemasaran diupayakan oleh kubu WO. Di antaranya, servis kepada pelanggannya, atau menyesuaikan budget (biaya), atau menyesuaikan apa yang diinginkan klien. Ada pula WO yang menyediakan sistem paket pernikahan. Kalangan kelas menengah atas lebih meminati konsep wedding yang lokasinya di hotel karena dinilai lebih praktis. Di hotel biasanya sudah tersedia ruangan acara hingga kamar pengantin dengan penampilan yang lebih mewah.

Beda lagi dengan pasar kelas menengah ke bawah, yang kebanyakan menyasar gedung-gedung pernikahan, masjid, atau auditorium. Perbedaan lainnya dari segi acara, kelas menengah ke atas lebih pragmatis, dengan agenda acara sesimpel mungkin. Misalnya, setelah pasangan pengantin masuk bersama dengan orangtua, dilanjutkan dengan potong kue,tamu datang, kemudian makan.

Kalangan kelas menengah ke bawah lebih menyukai pernak-pernik pernikahan yang meriah. Mulai dari iring-iringan tarian, sulap, pidato nasihat perkawinan, dan lain-lain. Tentang tarif, ada WO yang mematok biaya jasa 10-20 persen dari total biaya pesta. Ada juga yang membanderol Rp10 juta hanya mengoordinasi saat hari H-nya, untuk kelas premium. Jika untuk kelas menengah ke bawah, biayanya berkisar antara Rp5 juta dan Rp7 juta. Beda lagi biayanya kalau pihak WO yang merancang dari nol.

20. Sekolah Sepakbola

Sepakbola Bukan Sekadar Olahraga

Piala Dunia dan Piala Eropa, dua event kompetisi sepakbola dunia, selalu menjadi magnet bagi warga dunia. Prestasi gemilang pemain sepakbola pun lazimnya diganjar dengan nilai kontrak fantastis dan pendapatan dari iklan yang besar. Kemilau income seperti itu membuat tak sedikit orang tua berharap anaknya bisa menjadi pemain sepakbola andal.

Tak sedikit orang tua yang begitu antusias meng9nginkan anak-anak mereka menjadi pesepak bola jempolan. Gayung pun bersambut dengan tingginya minat merumput di kalangan anak-anak usia SD. Sejalan dengan itu, Sekolah Sepak Bola (SSB) pun mudah didapatkan. Padahal, biaya untuk jadi siswa di SSB tidak murah, apalagi di Jakarta. Melalui facebook, SSB Arsenal mematok biaya pendaftaran Rp1,5 juta. Di luar itu, ada iuran mulai dari Rp2,2 juta sampai Rp3,3 per pekan.

Di SSB daerah biaya lebih kecil. Misalnya SSB Passer Lampung, yang menarik uang pendaftaran Rp300 ribu dan biaya bulanan Rp30 ribu. Tapi, SSB Bangau Makassar yang melahirkan pemain nasional seperti Isnan Ali dan Hamka Hamzah memungut biaya pendaftaran Rp600 ribu per orang, dan biaya per bulan Rp 75 ribu. Begitulah. Menjamurnya SSB di Tanah Air menegaskan bahwa sepakbola tidak lagi sekadar olahraga hobi, tapi telah menjadi satu segmen dalam industri yang menuntut investasi.

21. Salon Kecantikan

Kecantikan Tidak Kenal Gender

Bisnis salon masih bertaji di tahun 2014. Usaha ini memang cocok bagi mereka yang berpandangan positif terhadap dunia fashion, khususnya hair styling. Dengan begitu, hobi, bakat dan keahliannya bisa tersalurkan dengan baik. Sejatinya, usaha yang paling baik adalah bisnis yang paling kita sukai. Namun, bagi mereka yang ingin sekadar berbisnis, membeli waralaba salon kecantikan yang sudah ternama merupakan pilihan yang disarankan.

Omzet lebih dari Rp8 juta per bulan bisa diraih. Usaha salon kecantikan biasanya menyediakan jasa potong rambut, creambath, lulur, hair mask, smooothing, hair coloring, rebonding, dan lain-lain. Menurut Andi, pria yang membuka jasa ini di Jalan Kelapa akses UI sejak 2006, salon kecantikannya dapat survive dan membesar berkat menjaga kualitas servis. Meski usaha salon pesaing bermunculan di mana-mana, kesetiaan pelanggannya tak bergeming.

Geliat bisnis salon kecantikan dan perawatan tubuh tumbuh tidak hanya di kota besar, tapi juga di kota-kota kecil. Maklum, perawatan wajah dan tubuh sudah menjadi gaya hidup. Baik kalangan menengah ke atas maupun kalangan menengah ke bawah memerlukan hal yang sama. Jika dulu hanya wanita yang ke salon, kini kalangan pria pun mulai terbiasa ke sana. Karenanya, bisnis ini tetap cemerlang di tahun-tahun mendatang.

22. Toko Tas

Kompetitor Mulai Ramai

Maraknya kehadiran pusat perbelanjaan di kota-kota besar di Indonesia membawa dampak bagi pedagang tas. Kehadiran pusat perbelanjaan di sekitaran Dr. Satrio, Jakarta Selatan, misalnya, cukup mengganggu omzet sejumlah pemilik toko tas yang berjualan di ITC Kuningan. Pemain lama pasti terusik, karena pangsa pasarnya berbagi dengan pemain baru. Berbagai strategi penjualan dilakukan pada Tahun Kuda Kayu ini, agar kemerosotan omzet dapat tertolong.

Posisi mereka kini diapit tiga pusat perbelanjaan yang tak jauh dari ITC Kuningan seperti Ciputra World atau Lotte Shopping Avenue, Kuningan City, dan Kota Casablanca. Untuk bertahan dari jepitan macam itu, kiat bertahan Toko tas Missheels, yang berlokasi di Lantai 2, ITC Ambasador Mall, Kuningan, Jaksel, adalah penajaman pangsa pasar. Toko yang berdiri sejak tujuh tahun lalu menyasar segmen kalangan kelas menengah bawah.

Harga yang dibanderol Missheel untuk tas mulai dari Rp 150.000 hingga Rp 375.000, sedangkan untuk sepatu Rp 135.000-Rp 275.000. Dari harga-harga tersebut menjadi penyebab Missheels tidak kehilangan pembeli.

Tas-tas branded kelas dunia yang harganya selangit justru diburu. Ini fenomena menarik pada 2014. Tas-tas yang biasanya hanya bisa dibeli di luar negeri itu, pada tahun kuda berani membuka cabangnya di Indonesia. Kalangaan kelas menengah ke atas membeli tas tersebut untuk investasi. Toh tas tersebut dalam tempo lima tahun menjadi vintage (klasik) karena jumlahnya terbatas dan tidak pula direproduksi lagi. Lonjakan harganya bisa tiga kali lipat dari harga awal.

23. Baby Shop

Besar Berawal dari Kecil

Membeli perlengkapan bayi tidak harus memiliki bayi. Pada saat menjenguk kawan atau kerabat yang melahirkan, umpamanya, yang biasa dicari adalah toko perlengkapan bayi (baby shop). Dengan angka kelahiran yang tergolong tinggi, bisnis ini tetap eksis di tahun 2014 dan ke depannya. Salah satu contoh sukses di bisnis ini adalah Anton Setiawan (35). Dia mulai dengan menyulap garasi rumah menjadi babyshop, bermodalkan hasil jual mobil untuk mengisi toko pertamanya. Prediksi Anton ternyata tepat. Respons konsumen cukup baik, seiring perkembangan kawasan Gading Serpong, Tangerang.

Kepercayaan konsumen dan pihak lain membuatnya mengubah cara penjualan dari ritel (partai kecil) ke penjualan dalam partai besar. Dengan mengadopsi manajemen gerai modern, plus pengembangan sistem, gerai BebeLove miliknya tumbuh cukup pesat. Penetrasi pasar dilakukannya dengan membuka gerai-gerai baru di beberapa lokasi permukiman.

Di tahun 2014 ini, BebeLove membuka gerai BebeLove yang khusus melayani penjualan dalam partai besar di samping membuka franchise.

24. Bengkel Kendaraan

Pangsa Pasarnya Masih Lega

Jumlah kendaraan bermotor baik roda dua dan empat yang terus meningkat menjadi daya tarik usaha ini. Sangat masuk akal menyaksikan menjamurnya bisnis bengkel di tahun 2014. Semakin banyak jumlah kendaraan yang berlalu lalang di jalanan, itu artinya pasar yang makin besar buat usaha bengkel kendaraan.

Bagi Helena Hartati, wanita asal Klaten, peningkatan pesat jumlah sepeda motor ditangkap sebagai peluang bisnis. Helena membuka bengkelnya di dekat Candi Prambanan, Yogyakarta, yang bukan kota besar. Meski tergolong baru dalam usaha ini, omzet bengkelnya sekitar Rp500 ribu sampai Rp1 juta per hari. Dia optimis bisa balik modal dalam dua tahun. Bahkan mungkin lebih cepat.

Optimisme yang sama disampaikan Stanly Erungan, pemilik Mitra Service Car. Bahwa kendaraan bermotor saat ini sudah menjadi kebutuhan utama. Tak heran, orang rela menunda membeli barang lain demi performa kendaraannya tetap prima. Biaya satu kali perawatan mobil biasanya sekitar Rp 500.000. Dengan ‘pasien’ 20 mobil per hari, omzet Rp300 juta/bulan sudah dalam genggaman.

Di usaha bengkel ini, kata Stanly, ada dua sumber pendapatan. Pertama, pendapatan dari penjualan spare part. Keuntungan dari penjualan onderdil biasanya 1%-15%. Sumber pendapatan kedua berasal dari jasa perbaikan. “Total keuntungan biasanya sekitar 25% dari omzet,” ujar Stanly.

25. Ritel

Pasar Modern Makin Ekspansif

Analisis Bank Mandiri dalam laporan perkembangan bisnis ritel yang ditulis pada September 2014 menempatkan pasar ritel Indonesia untuk jangka menengah panjang masih besar. Omzet ritel modern nasional pada 2014 diperkirakan tumbuh 10%. Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) memperkirakan nilai penjualan ritel modern 2014 mencapai Rp162,8 triliun. Permintaan produk terutama makanan dan minuman masih menjadi kontributor utama (>60%).

Katalis positif bagi pertumbuhan ritel nasional ke depan, antara lain, meningkatnya pendapatan masyarakat, meningkatnya populasi penduduk dengan bonus demografi dan pertumbuhan masyarakat yang pesat, urbanisasi, tingkat optimisme konsumen yang kuat, dan pertumbuhan properti komersial menjadi driver permintaan industri ritel.

Dari perkembangan jumlah gerai selama 10 tahun terakhir, format minimarket tumbuh rata-rata 17,4%, hypermarket 17,9%, sedangkan format supermarket dengan pertumbuhan gerai rata-rata 3% per tahun tampaknya mulai ditinggalkan. Penetrasi jumlah gerai ritel modern Indonesia masih lebih rendah dibanding negara-negara ASEAN lainnya seperti Singapura, Thailand, dan Malaysia.

Pemain utama dalam bisnis ritel ini adalah Alfamart dan Indomart yang menguasai sekitar 87% pangsa pasar ritel nasional. Koperasi pun sudah mulai terjun ke bisnis ini, seperti SB Mart yang merupakan anak usaha Koperasi Sejahtera Bersama Bogor.

26. Pengelola Parkir

Dengan Omset Rp400 ribu/hari

Membaiknya sarana dan prasarana transportasi massal membuat masyarakat enggan membawa kendaraan ke kantor. Apalagi menghadapi kemacetan di kota-kota besar, khususnya Jakarta. Mereka yang tinggal di pinggiran Jakarta lebih memilih memarkirkan kendaraannya di dekat stasiun kereta atau terminal bus.

Peluang itu ditangkap Otong, pengelola parkir di Stasiun Bojonggede, Bogor. Semula dia menjual peralatan dan perlengkapan olah raga di sekitar stasiun. Berbarengan dengan pembenahan di sekitar stasiun, awal 2014, dia pun mengubah tokonya menjadi tempat penitipan sepeda motor. “Waktu berjualan perlengkapan olahraga, paling banter omzetnya Rp100 ribu per hari. Saya ganti dengan parkir motor, pemasukan naik jadi Rp400 ribu/hari. Minim biaya operasional lagi.”

Hal serupa juga terjadi di Depok dan Bekasi, rumah atau toko yang dekat dengan stasiun kereta berubah fungsi jadi lahan parkir. Memang pihak stasiun membuat lahan parkir sendiri. Karena tarif yang dikenakan lebih mahal, tak banyak yang memanfaatkannya. Tarifnya Rp5.000 sekali masuk, di ruang terbuka, sehingga motor kepanasan atau kehujanan. Sedangkan parkir motor milik perorangan motor terlindungi atap, dengan tarif Rp3.000.

27. Stationary

Omset Stagnan Tapi Tetap Bergairah

 

Bisnis stationary atau biasa disebut alat tulis kantor (ATK) merupakan pasokan yang sangat dibutuhkan demi keberlangsungan operasional kantor. Selain instansi pemerintah, kantor-kantor swasta dan sekolah juga sangat membutuhkan ATK. Di tengah tingginya kebutuhan itu, hingga akhir 2014 bisnis ATK mash menuai laba. Tak heran, kini toko ATK gampang sekali dijumpai di berbagai lokasi. Meski sudah dikerumuni banyak pemain, toko ATK tetap ramai dikunjungi pembeli.

Target pasar yang paling umum adalah para pelajar, mahasiswa, pegawai kantoran, karyawan swasta, serta masyarakat umum yang membutuhkan alat tulis kantor untuk menunjang kegiatan sehari-hari. Peluang dan pangsa pasar bisnis ini terbukti bagus dan menjanjikan. Sebab, barang-barang alat tulis kantor akan selalu dibutuhkan masyarakat dari seluruh kalangan dan lapisan masyarakat.

Mudahnya berbisnis di bidang ini menyebabkan persaingan usaha semakin ketat. Di hampir setiap perumahan atau sekolah, menemukan toko ATK adalah perkara mudah.

28. Bimbingan Belajar

Seleksi Alam Membentuk Kualititas

Kompetisi yang makin sengit untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, sesuai harapan dan kesibukan orang tua, menjadi faktor pendorong maraknya pertumbuhan lembaga bimbingan belajar (bimbel) di Indonesia. Omzetnya mencapai ratusan juta rupiah. Dalam bisnis ini, performance sarana dan prasarana tidak menjadi tolak ukur keberhasilan.

Untuk lembaga bimbel yang baru muncul pada 2014, memang perlu bekerja ekstra keras. Selain melawan pemain-pemain lama di bidang ini, mereka harus konsisten dalam pelayanan pengajaran. Sebab, bimbel yang tidak melahirkan ‘;juara’ bakal tenggelam dengan sendirinya. Mereka yang sudah mapan pun harus selalu meng-‘up grade’ SDM-nya.

Ukuran keberhasilan jasa bimbel terlacak dari kemampuannya memberdayakan siswa untuk mencapai skor NEM dan bagusnya nilai rapor di sekolah formal. Terlebih jika banyak lulusan bimbel tersebut lolos/masuk perguruan tinggi negeri favorit. Itu sebabnya lembaga bimbingan ternama, semisal Bintang Pelajar, Ganesha Operation, Teknos, Gama, PhiBeta, kini tinggal memetik buah kerja keras dan kerja cerdas mereka selama ini.

 

29. Konsultan Fashion

Makin Cemerlang di Shio Kuda

Siapa yang tidak ingin terlihat gagah atau cantik menarik? Bukankah untuk pilihan kemeja atau gaun yang pantas dikenakan pada acara-acara tertentu, misalnya, kadang anda meminta pendapat kepada teman atau kekasih? Padahal belum tentu saran dan penilaian mereka sesuai citarasa pribadi anda dan dapat diterima oleh selera ‘pasar’.

Persoalan itu mungkin sepele ini bagi masyarakat umum, atau bagi mereka yang tidak terlalu peduli akan penampilan. Namun, bagi selebritas atau pejabat publik, penampilan merupakan hal penting yang sangat berkaitan dengan citra diri. Konsultan fashion menjadi jawaban pas untuk masalah ini. Sebagai profesi, konsultan fashion sudah lama menjadi wacana di Indonesia, hanya saja belum banyak yang menggelutinya.

Setelah dipopulerkan dua tahun lalu, dalam event Indonesia Fashion Week 2012, konsultan fashion mulai mencuri perhatian dan mendapat tempat di masyarakat. Event tersebut menetapkan target besar, yakni menggiring produsen mode Indonesia menjadi pemain B2B (business to business) di negeri sendiri dan di pasar global. Jasa konsultan fashion ini dapat dimanfaatkan baik untuk kepentingan perorangan maupun untuk industri fashion yang terus berkembang.

30. Bank Sampah

Laba Sampah Bikin Ngiler

Anda paham apa itu bank sampah? Istilah itu sudah sering terdengar, tapi kita belum tahu dengan jelas apa maksudnya. Ini sebuah terobosan agar masyarakat lebih peduli terhadap masalah lingkungan (sampah). Sampah rumah tangga dipilah ke dua kelompok: sampah organik dan sampah non-organik. Sampah organik diolah menjadi kompos, sampah non-organik dipilah lebih lanjut ke tiga sub-kelompok: plastik, kertas, serta botol dan logam.

Rumah tangga ramah lingkungan seyogianya menyimpan tiga tong sampah atau kantong sampah besar. Begitu ketiga tong sampah tersebut sudah penuh, isinya “ditabung” ke sebuah bank sampah. Seperti layaknya bank komersial, kita bisa membuka rekening di sebuah bank sampah. Secara berkala, kita bisa mengisi tabungan kita dengan sampah non-organik yang ditimbang dan diberi nilai moneter, sesuai harga yang ditentukan oleh para pengepul.

Nilai moneter ini ditabung, yang bisa ditarik sewaktu-waktu. Prinsip-prinsip dasar bank sampah tetap sama: untuk menyimpan sampah, untuk menabung, untuk menghasilkan uang, untuk mengubah perilaku dan menjaga kebersihan. Bank sampah kini tersebar di seluruh Tanah Air, antara lain di Sulawesi Utara, Kalimantan Timur dan DIY. Omzetnya bisa mencapai Rp5 juta per bulan.

31. Konsultan Desain Interior

Abaikan Ego, Fulus Mengalir

Maraknya apartemen di kota-kota besar, membawa berkah bagi desainer interior. Penghuni apartemen yang biasanya berkantong tebal, selalu ingin tampilan huniannya ciamik. Pendirian mal-mal baru juga turut mendongkrak pendapatan desainer interior ditahun 2014. Selain jasa desain, mereka juga menyediakan isi perabotan. Omzet dari usaha ini bisa mencapai Rp 100 juta per bulan.

Kendati tingkat persaingannya ketat, kata desainer interior Widianto, potensi pasar bisnis jasa desain interior cukup besar. Hal itu tidak terlepas dari gencarnya pembangunan sektor properti, terutama di kota-kota besar. Pemilik Nsaarchtec ini mengatakan, modal utama menggeluti bisnis ini adalah kreativitas dan inovasi.

Seorang desainer interior memang dituntut kreatif. Ia harus mampu menjawab keinginan klien dan mampu menerjemahkannya dalam bentuk desain gambar yang menjadi ilustrasidari tampilan nyata yang akan dikerjakan nantinya.

32. Kursus Bahasa Asing

Bahasa Asing, Bukan Inggris Saja

Memasuki era globalisasi peran bahasa Inggris sebagai bahasa ‘dunia’ menjadi sesuatu yang harus dikuasai. Namun, kemampuan berbahasa dalam era globalisasi bukan hanya bahasa Inggrisa saja. Maka di tahun 2014, mulai menjamur tempat kursus bahasa asing lainnya, seperti bahasa China, Korea Selatan dan Jepang.

Majunya perekonomian di China, Korea Selatan dan Jepang mendorong penggunaan ketiga bahasa negara tersebut. Khususnya bagi mereka yang ingin bekerja di sana. Seperti calon tenaga kerja Indonesia yang ke Hongkong, Korea Selatan dan Jepang jumlahnya naik 10 persen setiap tahunnya.

Belum lagi kantor perwakilan perusahaan-perusahaan ketiga negara tersebut yang ada di Indonesia. Mereka mulai merekrut tenaga kerja yang tidak hanya menguasai bahasa Inggris, tapi juga salah satu dari bahasa ketiga negara itu.

33. Konsultan Pajak

Yang Ngerti Pajak Belum Banyak

Kesadaran masyarakat akan pentingnya pajak mulai tumbuh. Gencarnya sosialisasi bahwa pajak yang dibayar oleh masyarakat untuk pembangunan. Juga sosialisasi pentingnya penggunaan dana pajak diawasi masyaraakat, menambah kesadaran tersebut.

Sayangnya masyarakat yang sadar tersebut belum banyak yang mengerti bagaimana penghitungan pajaknya. Disinilah peran jasa konsultan pajak, jasa mereka selalu dibutuhkan. Minimal satu tahun sekali saat pengisian pajak tahunan individu dan perusahaan yang memiliki nomor pokok wajib pajak (NPWP).

Jenis pajak sendiri bermacam-macam, seperti, Pajak Penghasilan Badan, Pajak Penghasilan Karyawan, Pajak Pertambahan Nilai/ Pajak Penjualan Barang Mewah, dan pajak penghasilan yang dipungut oleh pihak lain dan Pajak Penghasilan Pribadi. Pendapatan jasa konsultan pajak juga cukup besar.

34. Konter HP dan Pulsa

Tak cuma komunikasi

Gerai konter handphone makin ramai, hampir di setiap kota selalu ada penambahan pemain baru. Hal ini disebabkan masyarakat makin mengandalkan informasi dari perangkat elektronik dan akses internet. Belum lagi serbuan HP dari negeri tirai bambu yang membanjiri pasar Indonesia.

Di Indonesia, pecandu internet kian meningkat. Indikatornya, jumlah pengguna ponsel lebih besar daripada jumlah penduduknya. Berdasarkan data US Cencus Bureau pada Januari 2014, Indonesia memiliki sekitar 251 juta penduduk. Jumlah itu kalah dibanding pengguna ponsel, yang berkisar di angka 281 juta. Dengan kata lain, setiap penduduk Indonesia bisa memiliki lebih dari satu telepon genggam untuk mengakses dunia maya.

Itu artinya pangsa HP dan penjualan pulsa sangat terbuka lebar. Di tahun 2014 ini, sebagaimana tahun-tahun terdahulu penjualan HP dan pulsa mencapai angka ratusan miliar.

Dari data Kominfo pada maret 2014 tercatat jumlah sambungan internet di Indonesia mencapai 47 juta pengguna internet. Selain itu, pesatnya pertumbuhan komunikasi mobil, ada 270 juta pengguna ponsel. Rasio kepemilikan ponsel paling banyak di DKI Jakarta yakni 1,8 ponsel per orang.

35. Gerai Buah

Dari kaki lima sampai toko ber AC

Di jalan Raya Bogor, sebelum masuk terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur, penjaja buah segar berderet hingga masuk terminal. Mulai pepaya, mangga, jeruk, melon, pisang sunrise dan banyak lagi. Harga yang ditawarkan pun jauh lebih murah daripada di mal, karena mereka tidak membayar biaya listrik dan pegawai. Omsetnya mencapai Rp200 ribu per hari.

“Pendapatan jual buah-buahan lumayan lah mas. Rp 200 ribu sehari sih bisa dapat,” kata Tarji, pedagang buah, di Jalan Raya Bogor.

Manisnya bisnis buah segar juga dilirik ritel modern, seperti Alfamidi. Dari total luas toko Alfamidi sekitar 20% luasnya digunakan untuk memajang produk fresh-food (buah, sayur dan makanan beku). Bauran produk yang dijual di Alfamidi mencapai 7.000 SKU dan dilengkapi dengan produk-produk fresh-food, seperti: buah, sayur mayur, dan daging olahan/makanan beku yang dibutuhkan oleh masyarakat serta tidak dijumpai di gerai minimarket-minimarket yang sudah ada.

36. Shoes Shop

Masih Bisa Raup Laba 30%

Bisnis alas kaki, sepatu dan sandal mampu membukukan keuntungan sebesar 30%. Pasalnya pihak pabrikan masih memberikan margin keuntungan yang cukup besar, sehingga pedagang masih bisa memberikan diskon yang menarik. Sepatu dan sandal sudah menjadi kebutuhan pokok bagi masyarakat Indonesia. Bahkan sudah menjadi simbol status yang memakainya.

Korting harga yang dilakukan produsen, seperti Merk Garuci, produk lokal buatan Bandung misalnya, sungguh menarik untuk terjun ke bisnis ini. Penulis pernah merasakan manisnya bisnis ini. Produk berupa sepatu pria, sepatu wanita, sepatu anak, sandal pria, sandal wanita, sandal anak dan tas wanita. didiskon hingga 40%. Baik itu pembelian eceran dan grosiran. Diskon lebih gede diberikan jika membeli dalam partai besar. Dengan diskon di hulu yang besar, maka dinamika perang harga dengan kompetitor menjadi seru.

Desain toko dan kreativitas marketing menjadi kunci keberhasilan shoes shop. Meskipun sudah mampu membukukan laba 30% pada 2014, bisnis ini masih mampu bersinar di tahun depan.

37. Furniture

Bisnis Kayu belum Layu

Jangan anggap remeh bisnis furniture, Sebelum dilantik jadi Presiden RI, Joko Widodo adalah pengusaha furniture. Di tahun 2014, bisnis yang mengandalkan kayu-kayu alam ini beromset puluhan miliar per tahun.

Permintaan yang besar baik dalam negeri dan luar negeri merupakan indikasi bisnis furniture masih dibutuhkan. Pasarnya masih terbuka lebar, diprediksi 10-20 tahun lagi bisnis ini masih meraup untung.

Salah satu sosok sukses dalam bisnis ini adalah Satrya Pekasa (Frans) yang bergerak di usaha mebel jati. dengan bendera   PT Gading Dampar Kencana. Menurutnya, peluang mebel masih cukup besar lantaran Indonesia sangat kaya akan kayu-kayu berkualitas. Awal terjun ke usaha ini, Frans hanya sebagai makelar untuk agen eksportir furnitur rotan dan kayu jati di Cirebon. Tugasnya mencari pesanan pada agen dan kemudian menjadi perantara untuk melanjutkan pesanan produksi ke para perajin.

Kini Frans telah mampu mengekspor furnitur ke 45 negara di tiga benua, yaitu Benua Asia, Eropa, dan Amerika. Beberapa negara tujuan ekspornya adalah Israel, Guatemala, Nigeria, Italia, Turki, Inggris, Austria, dan lain-lain. Dia juga sukses berekspansi hingga ke Negeri Tirai Bambu China, bahkan telah mendirikan tiga toko mebel di sana bernama Teak123.

Setiap bulan, Frans bisa mengekspor sekitar 30 kontainer berisi meja, kursi, lemari, dan lain-lain. Dari situ, ia bisa meraup omzet sekitar 5 juta dollar AS atau setara dengan Rp 57 miliar (kurs 11.500 per dollar AS). Untuk produksi, Frans bekerjasama dengan 136 perajin dan 400 karyawan yang bekerja di empat pabriknya di Jepara.

38. Toko Peralatan Rumah Tangga

Merk Ternama Disukai

Pasar peralatan rumah tangga tidak pernah surut, meski mahal tetap diburu. Pada 2014 ini peralatan rumah tangga sudah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Saat ini, tren yang terjadi di kalangan ibu-ibu adalah pemenuhan peralatan rumah tangga yang memiliki brand terkenal. Contohnya salah satu merek yang paling digandrungi ibu-ibu adalah Tupperware.

Roy Prakasa, Spouse Distributor PT Adicitra Prima Kencana selaku distributor Tupperware mengatakan, tren kebutuhan terhadap alat-alat rumah tangga bisa dilihat dari terus naiknya omzet produknya. Omzet PT Adicitra Prima Kencana pada tahun lalu mencapai Rp 4 miliar per bulan. Sementara tahun ini sudah bergerak di angka Rp 5 miliar per bulan.

Indonesia yang berpenduduk 251 juta jiwa merupakan pasar yang besar. Potensi tersebut belum digarap dengan maksimal. ”Bisnis ini akan terus tumbuh, karena hingga saat ini jumlah member kami masih sangat jauh dibanding total penduduk Indonesia,” kilahnya.

39. Garage Sale

Penjual dan Pembeli Untung

Mencari barang bekas alias second sebaiknya di garage sale. Ingin menjual barang bekas dengan harga pantas juga di garage sale. Barang bekas yang tidak berharga masih bisa menghasilkan uang sekitar 30 sampai 50 persen dari harga baru.

Sebetulnya garage sale hal baru di Indonesia. Konsepnya diambil dari negara lain yang disebut yard sale atau lawn sale. Itu adalah salah satu alternatif belanja barang second selain di second-hand shops seperti Salvos dan Vinnies dan Sunday markets. Garage sale paling sering di lakukan oleh rumah tangga tetapi ada juga yang dilakukan oleh organisasi nirlaba. Mahasiswa Indonesia di Canberra, misalnya, secara rutin mengadakan garage sale. Mereka menjual barang-barang yang umumnya hibahan dari mahasiswa yang telah selesai kuliah dan hasil penjualannya disumbangkan untuk kegiatan sosial. Ada juga garage sale yang dilakukan oleh diplomatic staff dari berbagai kedutaan besar.

Dari situlah muncul garage sale di Indonesia, dulu dilakukan saat orang asing akan kembali ke negaranya. Daripada perabotan dibawa lagi, lebih baik dijual dan menghasilkan uang.

Nah di Indonesia, garage sale diubah menjadi ajang bisnis jual beli barang bekas berkualitas. Umungmnya barang yang dijual di garage sale adalah barang yang sudah tidak diperlukan lagi oleh si pemilik atau untuk mengurangi tumpukan barang mereka di rumah.

40. Jasa Logistik

Persiapan Pasar Bebas Asean

Minimnya sarana dan prasarana (infrastruktur) di Indonesia mengakibatkan biaya logistik tinggi. Pertumbuhan bisnis logistik di tahun 2014 hampir sama dengan pencapaian pada 2013 sebsar 12-15 persen. Namun tantangan makin keras dengan banyak penyedia jasa logistik asing yang masuk dengan terbukanya Masyarakat Ekonomi ASEAN. Kecenderungan untuk melakukan outsourcing logistik semakin banyak dari perusahan PMDN dan PMA yang memberikan kontribusi yang penting bagi pertumbuhan jasa logistik di tanah air. Momentum ini berlanjut pada tahun 2014 dimana semakin banyak perusahaan yang melakukan outsourcing logistik untuk menurunkan biaya logistik.

Hal ini dikemukakan ketua Asosiasi Logistik Indonesia Zaldy Ilham Masita dalam rilis yang diterima redaksi. PELUANG jasa logistik untuk era pasar bebas ASEAN yang akan dilaksanakan 2015 (satu bulan lagi) bakal sengit. Karena keterbatasan infrastruktur dan investasi di sektor Logistik maka logistik sekarang ini sudah menjadi ‘penghalang utama’ bagi perkembanga ekonomi Indonesia.

41. Butik Busana Muslim

Membukukan Kenaikan Omzet 90%

Indonesia dengan pemeluk agama Islam terbanyak di dunia, merupakan pasar busana muslim terbesar. Karena itu umumnya menjelang Idul Fitri omzet penjualan busana muslim selalu naik. Kenaikan penjualan tahun 2014 ini tercatat lebih besar dibanding tahun lalu

Feny Mustafa, misalnya. Pemilik brand Shafira mengaku penjualannya menembus 90% dari angka yang ditargetkan untuk Idul Fitri tahun ini. Jumlah itu meningkat hampir 100% ketimbang periode serupa tahun lalu.

Di kesempatan sama, Erin Ugaru, desainer yang karyanya kerap dipakai penyanyi Fatin, juga mengklaim penjualannya  sudah mencapai 90% dari target tahun ini. Ia memprediksikan omsetnya tahun ini bakal meningkat 200% dibandingkan omset tahun lalu.

Diakui desainer yang berbasis di Bandung itu, persaingan yang kian ketat mengingat banyaknya desainer baru yang bermunculan tidak begitu memengaruhi penjualannya. “Mungkin karena konsumen sekarang sudah lebih pintar dan selektif dalam memilih produk,” jelasnya.

42. Air Minum Isi Ulang

Jaga Kualitas, Pelanggan Terjaga

Bisnis air minum isi ulang berjaya pada 2013, keuntungan bisnis ini bisa mencapai 70%. Namun di tahun 2014, pelaku usaha ini mulai kehilangan tajinya. Hal tersebut akibat ulah pemain di bisnis ini sehingga kepercayaan konsumen turun.

Perhitungan dari bisnin air isi ulang ini sangat prospektif. Sebab air minum adalah kebutuhan vital dan setiap orang membutuhkannya. Apalagi kualitas air tanah di perkotaann mulai turun.

Zaki, salah satu pelaku usaha di sektor ini mengatakan, masyarakat sekarang semakin kritis. Persaingan dengan pemodal besar dari air minum dalam kemasan (AMDK) juga tajam, karena pasar AMDK tergerus dengan adanya depot-depot air minum isi ulang. Sayangngnya pelaku air minum isi ulang, lanjut zaki, tidak bisa mempertahankan kinerjanya dengan konsisten. “Diterpa isu bakteri e-coli, langsung banyak yang gulung tikar karena tidak konsisten menjaga kualitas air. Kita harus menyertakan hasil lab pemeriksaan air di depot setiap tahun,” beber Zaki yang telah berbisnis ini lebih dari empat tahun.

43. Jual beli mobil bekas

Tahun Sulit Mendapat Laba

Pelaku usaha di bisnis jual beli mobil bekas mengaku omzetnya turun dibanding tahun 2013. Faktor mudahnya kredit mobil dan mulai dipasarkannya mobil murah (LGCC) kendaraan keluarga dan city car. Hamid (40), pemilik showroom mobil bekas Jaya Abadi Motor mengaku, penjualan mobil city car menurun akibat munculnya mobil LCGC dengan harga lebih murah. Dia menilai, hanya jenis mobil seperti sport utility vehicle (SUV) dan family car yang harganya berkisar di atas Rp 150 juta tidak terimbas keberadaan mobil murah karena segmen pembeli yang berbeda.

Kekawatiran membeli mobil bekas dapat barang ‘busuk;, ungkap Hamid, juga sering ditanyakan calon pembeli, Untuk meyakinkan mobile yang dijualnya berkualitas pihaknya memberikan garansi enam bulan.

Diakuinya, tahun 2014 ini memang penjualan sepi, namun puluhan mobil bekas masih terjual antara 3 sampai 5 unit mobil per hari.

44. Konsultan SDM

Dominasi Asing Berkurang

Masyarakat masih menganggap bahwa bisnis konsultan SDM identik dengan orang atau milik asing. Maklumlah, belum banyak orang lokal yang berani mendirikan perusahaan konsultan ketika itu. Paling banter hanya sebatas menjadi tenaga konsultan pada salah satu perusahaan konsultan asing. Sedikit sekali, jika tidak dibilang tidak ada sama sekali perusahaan lokal yang berkecimpung dibisnis ini. Baru ada satu perusahaan konsultan lokal yakni The Jakarta Consulting Group (JCG). Perusahaan yang dikomandani A.B. Susanto itu berdiri pada 1983.

Layaknya perusahaan konsultan asing, JCG juga memberikan layanan menyeluruh. Karena itu, JCG terbagi atas beberapa divisi, seperti pengembangan organisasi, transformasi bisnis, people management, budaya perusahaan dan business marketing.

Kondisi saat ini sudah jauh berbeda. Perusahaan konsultan lokal tumbuh bak jamur di musim hujan. Dengan berbekal pendidikan tinggi dan pengalaman kerja beberapa tahun saja, orang sudah berani mendirikan perusahaan konsultan. Tidak sedikit profesional yang beralih profesi menjadi konsultan dengan mengibarkan bendera sendiri.

Peluang dibidang ini masih terbuka, apalagi muncul anggapan bahwa yang megerti tentang SDM Indonesia adalah perusahaan/lembaga lokal.

45. Toko Sport

Piala Dunia Dongkrak Penjualan

Perhalatan akbar Piala Dunia sepakbola yang digelar pada 2014 membawa berkah bagi toko sport. Cabang olahraga fovorit warga dunia itu berkontribusi bagi lonjakan omzet toko sport sebesar 50%

Pernik-pernik tim-tim yang berlaga di piala dunia, seperti kaos (jersey) mulai kualitas satu hingga kualitas 3 laku dijual. Ini menandakan bahwa olahraga sepakbola tidak mengenal lapisan kelas di masyarakat. Wahyu, penjaga Toko Sport Bugar, di Kedoya, Jakart Barat, mengaku ajang piala dunia sepakbola membawa berkah. Banyak pembeli yang mencari segala hal tentang piala dunia, seperti poster pemain dan tim-tim sepakbola, bendera negara yang ikut dan kaos-kaos tim peserta piala dunia. “Kaos tim-tim unggulan seperti, Jerman, Brazil, Itali, England banyak dicari. Tidak hanya yang kualitas satu, kualitas tiga juga banyak yang beli,” ujarnya.

Tokonya tidak hanya menjual perlengkapan satu cabang olahtraga saja. Umumnya cabang olahraga yang biasa dilakukan oleh masyarakat. Misalnya, basket, bola voli, tenis meja (pingpong), bulu tangkis dan tenis. Karena memang permintaannya cukup banyak dicabang olahraga tersebut.

46. Kos-kosan

Risiko kecil, Keuntungan Pasti

Bisnis kos-kosan membutuhkan investasi yang lumayan besar. Manisnya bisnis kos-kosan mengundang pengembang bermodal besar berkecimpung di bidang ini.

Para pelakunya   tahu persis bahwa bisnis kos-kosan bukanlah jangka pendek. Modal bisa kembali setelah usaha berjalan minimal lima tahun. Itu juga tergantung lokasi kos-kosan. Kecuali jika menjalankan usaha ini hanya dengan memanfaatkan kamar di rumah yang tidak lagi dipakai atau berpenghuni. Keuntungan bisa langsung dirasakan. Apalagi mobilitas pelajar mahasiswa dan pegawai yang berasal dari luar daerah menjadikan pemilik kost-kostan menikmati keuntungan darinya.

Selain penghasilan yang terus mengalir setiap bulannya, sebagai usaha jangka panjang, pemilik kost-kostan bisa menikmati keuntungan dari terus naiknya nilai tanah.

47. Handycraft

Nilai Ekspor Tembus Rp8 T

Indonesia dikaruniai sumber daya alam yang melimpah, potensi ini harus serius ditekuni. Bali menjadi pionir dalam pengembangan industri kreatif untuk ekspor kerajinan tangan. Legitnya bisnis kerajinan tangan ini mulai dilirik daerah lain, seperti Yogyakarta, Medan dan lainnya.

Mengacu dari data Kementerian Perdagangan nilai ekspor kerajinan tangan tahun 2013 sebesar Rp 8 triliun dengan pertumbuhan per tahun mencapai 5%. Untuk 2014 semester pertama sudah membukukan nilai ekspor sekitar Rp7 trilun. Sementara itu, nilai perdagangan produk kerajinan tangan di dalam negeri jauh lebih besar, yaitu mencapai Rp 40 triliun.

Selain nilai ekspor yang mencapai Rp 8 triliun, keunggulan kerajinan handicraft juga dapat memberikan kesempatan kerja yang besar.

Ada beberapa produk utama kerajinan tangan Indonesia, antara lain ornamen kayu dengan nilai ekspor US$ 98,9 juta (14,79%), keranjang dan barang-barang anyaman sebesar US$ 69,57 juta (10,4%), frame dari kayu (HS 4414) sebesar US$ 51,48 juta (7,695%), dan produk kerajinan untuk alat rumah tangga (HS 9603) dengan nilai ekspor US$ 37,72 juta (5,64%).

Sementara itu, untuk negara tujuan ekspor kerajinan Indonesia pada tahun 2013 adalah Amerika Serikat dengan nilai ekspor US$ 301,29 juta dan pangsa ekspor mencapai 45,03%, Jepang dengan nilai ekspor US$ 76,4 juta (11,42%), Inggris sebesar US$ 29,02 juta dengan pangsa ekspor 4,34%, dan disusul Jerman dengan nilai ekspor US$ 25,4 juta dengan pangsa 3,8%, serta Hong Kong dengan nilai ekspor US$ 21,28 juta (3,18%).

48. Online Shop

Belanja via internet

Bisnis online shop dapat menjual barang apa saja, kapan saja dan dimana saja. Pertumbuhan pada 2014 meningkat sekitar 100%, dibanding tahun lalu yang berjumlah 36 juta. Hal itu sebagaimana dilangsir dari MasterCard ada sekitar 63 juta jiwa menggunakan internet dan 57% atau 36 juta jiwa aktif melakukan belanja online ataupun bisnis online pada 2013.

Aktivitas tersebut menjadi fenomena transaksi penjualan secara online. Memang jika menjual secara online maka akan lebih menghemat modal karena tidak harus memiliki barangnya terlebih dahulu. Ketika ada pembeli yang memesan baru bisa anda ambilkan/orderkan ke rekanan yang sudah anda ajak kerja sama sebelumnya.

Peluang bisnis ini memang cukup unik dan menarik. Jika anda kreatif saya rasa bukan tidak mungkin akan menghasilkan profit yang cukup lumayan. Apalagi ide usaha ini bisa dijadikan usaha sampingan bagi anda yang memang terbatas waktunya. Tapi perlu diingat walaupun ini menjadi peluang usaha sampingan namun respon cepat ke konsumen harus anda jaga. Sertakan PIN BB anda atau Yahoo Messenger/CHAT di blog atau webiste anda tersebut jika memiliki blackberry atau smartphone lainnya supaya bisa online dan merespon konsumen setiap saat dimana saja dan kapan saja.

49. Toko Pancing

Memancing Laba dari Alat pancing

Acara di stasiun televisi swasta tentang memancing ternyata mendongkrak penjualan alat-alat pancing. Faktor ingin meniru dan merasakan sensasi memancing sebagaimana yang ditonton di televisi mengantar Naila (24) ke toko pancing.

“Saya jadi penasaran ingin mencoba memancing, sepertinya susah tapi gampang,” kilah Naila, pegawai swasta yang ditemui di toko Joran yang menjual alat-alat pancing, di Jalan Raya Bogor.

Nasihin pemilik Toko Joran mengaku ada peningkatan penjualan atau omzet pada 2014 sebesar 20%. Omzet perbulannya mencapai Rp15 juta. Biasanya pembeli ramai saat akhir pekan, mereka memancing di tempat pemancingan (kolam) yang banyak tersedia di Bogor. Dia menjual menjual seperangkat alat pancing lengkap yang terdiri dari joran, fishing reel, dan senar jauh lebih murah ketimbang toko lainnya, satu set hanya Rp 50.000 saja. “Pangsa pasarnya memang ditujukan untuk menengah ke bawah,” ujarnya. Karena itulah tokonya selalu ramai dikunjungi pembeli.

50. Mainan Anak

Masih andalkan Impor

Data dari Kementerian Perdagangan menyebutkan bisnis mainan di Indonesia nilainya mencapai angka yang fantastis yaitu Rp 8.2 triliun. Sekitar Rp 5 triliun dari mainan tersebut diperdagangkan di Indonesia sendiri sedangkan sekitar Rp 3.2 triliun sisanya diperdagangkan di luar negeri atau ekspor.

Ada 3 negara besar yang terus memasok mainan di Indonesia. 3 negara tersebut adalah Amerika, Singapura dan Inggris. 40% mainan Indonesia dikirim ke Amerika sedangkan 8% dikirim ke Singapura dan Inggris.

Indonesia sendiri masih belum merupakan produsen mainan. Hal ini terbukti dari 80% mainan masih dipasok dari Tiongkok. Penyebab meluapnya pasokan mainan dari Tiongkok adalah karena penerapan SNI atau Standar Nasional Indonesia yang masih kurang.

Hal ini dapat dilihat dari pengawasan barang beredar yang dilakukan oleh Dirjen SPK atau Dirjen Standardisasi dan Perlindungan Konsumen. Dari hasil pengawasan tersebut ditemukan bahwa pelanggaran mainan dari China masih sangat banyak di Indonesia.

Peluang bisnis ini sangat terbuka di tahun-tahun mendatang. Hal yang perlu di jaga adalah kualitas. Menjaga kualitas artinya memastikan bahwa mainan yang Anda jual sudah sesuai dengan SNI. Contohnya, pastikan bahwa mainan terbuat dari bahan yang tidak berbahaya untuk anak.

 

Share This: