Wujudkan Aksi Peduli Sosial

Dengan model bisnis yang menjadi rujukan banyak koperasi syariah di Indonesia, BMT UGT Sidogiri konsisten melaksanakan tanggung jawab sosial koperasi setiap tahun.

BMT UGT SIDOGIRI menjawab keraguan banyak pihak tentang kemampuan kaum santri dalam mengelola bisnis. Koperasi yang berlokasi di Pasuruan Jawa Timur ini merupakan salah satu koperasi besar di Indonesia. Bahkan, menjadi role model banyak koperasi berbasis syariah di Tanah Air.

Sejalan dengan keberhasilan usaha simpan pinjam yang digelutinya koperasi syariah ini senantiasa melakukan aktivitas sosial terhadap anggota dan masyarakat sekitar. Sebab, Pengurus menyadari perkembangan usahanya tidak dapat dilepaskan dari dukungan riil anggota dan masyarakat.

Ambil contoh pada Ramadan lalu, BMT UGT Sidogiri menyalurkan 38.980 paket zakat konsumtif. Zakat ini diberikan kepada para penerimanya di 182 kantor cabang dan kantor pembantu di 10 provinsi di seluruh Indonesia. Rinciannya, kantor cabang di Jawa Timur sebanyak 27.580 paket zakat dan untuk  kantor cabang non-Jawa Timur sebanyak 9.400 paket zakat. Total dana yang dikeluarkan untuk kegiatan ini sekitar Rp3,14 miliar.

Setiap paket zakat konsumtif berisi 5 kg beras, 1 liter minyak goreng dan 1 kg gula pasir. Dalam menyalurkan zakat ini Koperasi menjalin kerjasama dengan LAZ Sidogiri, Kopontren Sidogiri dan Koperasi Agro Sidogiri.

Koperasi BMT UGT Sidogiri mulai beroperasi pada 6 Juni 2000. Koperasi berbasis pesantren ini didirikan oleh beberapa orang yang berada dalam satu kegiatan Urusan Guru Tugas Pondok Pesantren Sidogiri (Urusan GT PPS) yang didalamnya adalah orang-orang yang berprofesi sebagai guru dan pimpinan madrasah, alumni Pondok Pesantren Sidogiri dan para simpatisan yang menyebar di wilayah Jawa Timur.

Terkait dengan kinerja, asetnya sampai Oktober 2016 tembus Rp2,26 triliun atau naik dibanding periode sama tahun sebelumnya sebesar Rp1,81 triliun. Seiring pertumbuhan aset, kepercayaan anggota juga meningkat. Buktinya, modal anggota dalam tiga tahun terakhir menanjak. Pada Oktober 2014, modal anggota sebesar Rp245,16 miliar, 2015 sebesar Rp289,34 miliar, dan pada 2016 menjadi Rp349,03 miliar.

Di tengah kinerja keuangan  yang terus tumbuh, ada tiga tantangan yang dihadapi koperasi ini yaitu mengalirnya dana pemerintah ke pedesaan, penurunan bunga KUR, dan berlakunya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

Dengan adanya dana desa maka masyarakat dapat meminjam tanpa bunga. Sedangkan penurunan bunga KUR otomatis membuat persaingan di lending menjadi jauh lebih ketat. Selain itu era MEA memungkinkan mengalir derasnya dana dari luar negeri ke perbankan. Hal ini akan membuat kelebihan likuiditas sehingga bank dapat menekan suku bunga kredit lebih rendah lagi.

Meski demikian, Pengurus yakin usahanya dapat terus berkembang. Sebab, koperasi memiliki anggota yang loyal dan mengetahui lebih detail karakteristiknya. Oleh karenanya, Koperasi terus meningkatkan kualitas layanan demi kenyamanan anggota.   (Drajat)

Share This: