Warisan Porto di Bumi Timur

2

Puak Portugis lebih awal masuk di wilayah timur Indonesia. Setelah menaklukkan Malaka pada 1512, mereka ekspansi ke ranah Nusantara. Untuk dapatkan dan kuasai rempah-rempah, lalu bikin benteng-benteng.

 panorama mountain

Mengapa di wilayah timur Indonesia banyak sekali benteng peninggalan bangsa Portugis. Soalnya tiada lain terkait erat dengan rempah-rempah. Mereka sangat memerlukannya. Baik untuk dikonsumsi sendiri maupun untuk diperdagangkan di Eropa. Hanya saja, makan waktu lama jika dibawa ke negeri mereka. Maklum, teknologi kapal laut 4-5 abad silam masih sangat sederhana.

Sebagai tempat transit, sembari mengatur segala sesuatu, mereka pun mendirikan benteng. Ukurannya besar dan megah. Cukup untuk menampung dari kalangan kuli angkut hingga perwira atasan. Termasuk sebagai gudang rempah-rempah, tentu saja. Material benteng itu amat kokoh. Dilengkapi sistem pertahanan berbasis meriam. Serangan biasanya datang dari rival dagang atau masyarakat lokal.

Apa saja benteng-benteng yang kini berstatus warisan itu? Pertama, Benteng Tohula, tegak di tengah Kota Tidore. Benteng Tohula diambilkan dari nama pelabuhan Tohula. Ini hasil karya arsitektur Spanyol. Letaknya tepat di depan kedaton.  Dari benteng ini terlihat jelas seluruh wilayah pantai. Sehingga, pergerakan kapal musuh terpantau. Di pulau ini ada pula  Benteng Tore, sisa peninggalan Porto dan Belanda. Tohula dan Tore berdekatan, juga dengan Kedaton Kie, singgasana Sultan Tidore.

Di wilayah tenggara, di Pulau Neira, ada  Benteng Belgica. Benteng ini dibangun Portugis sekitar abad ke-14. Setelah lama terbengkalai, pembangunannya dilanjutkan oleh VOC pada 4 September 1611, atas perintah Gubernur Jenderal Pieter Both. Alhasil, di Pulau Neira berdiri dua buah benteng, yaitu Belgica dan Nassau. Keduanya dibangun untuk menghadapi perlawanan masyarakat Banda yang menentang monopoli perdagangan pala oleh VOC.

Masih di Ternate, Maluku Utara, kita jumpai warisan Porto lainnya: Benteng Tolukko. Bangsa Portugis mulai masuk dan menduduki wilayah Ternate tahun 1512. Benteng dibangun sebagai tempat pengamanan misi dagang mereka di samping kepentingan pengintaian musuh. Bangunan kekar ini mulai dibangun oleh salah satu ekspansionis Eropa masa laloe itu pada tahun 1540.

Semula, benteng ini dinamai Benteng Santa Lucia. yang dibangun oleh Fransissco Serrao. Salah satu yang menarik di Benteng Tolukko adalah ada suatu ruangan bawah tanahnya. Ruang ini terhubung langsung ke wilayah pinggir laut di sekitar benteng. Tampaknya, jalur evakuasi tersebut dirancang agar mereka selamat dari penangkapan, jika situasi SOS dan benteng jatuh ke tangan musuh. Sekarang ruang lorong rahasia tersebut ditutup untuk umum, dengan alasan tertentu.

Pada tahun 1533, rakyat Maluku secara serempak menggencarkan pemberontakan. Benteng Tolukko sempat jatuh ke tangan bumiputera. Penguasa benteng berpindah tangan. Tapi tak bertahan lama. Bangsa Belanda dan pasukannya datang, lalumerebutnya tahun 1602. Beberapa bagian benteng mereka renovasi tahun 1610.

Disebut Benteng Tolukko sebagai penghormatan kepada tokoh tersebut. Adalah Sultan Ternate sendiri, yaitu Sultan Mandar Syah, yang memberi penghormatan tersebut. Selain Benteng Tolukko, di Kota Ternate juga terdapat peninggalan Porto lainnya, yakni Benteng Gamlamo. Posisinya di daerah Kastela, dibangun pada 1522. Selain itu, ada Benteng Kota Janji yang terletak di selatan Kota Ternate. Tak jauh dari Benteng Kota Janji ada Benteng Kalamata, yang berdiri dekat dengan garis pantai, dibangun tahun 1540.●(dd)

Share This:

2 thoughts on “Warisan Porto di Bumi Timur

Comments are closed.

Next Post

Semakin Dekat dengan Soto Seger Mbok Giyem

Sel Mei 2 , 2017
WARGA Jakarta kini tidak perlu jauh-jauh untuk merasakan Soto Seger Mbok Giyem yang menjadi khas daerah Boyolali, karena sekarang sudah hadir di Jakarta. Sang pemilik Soto Seger Mbok Giyem di Jakarta yang akrab dipanggil Nur Rambo mulai melebarkan sayapnya dengan membuka cabang di Jalan Wijaya dan perumahan Citra Grand, Cibubur. […]