Wakaf dan Good Governance

Ada acara menarik di hotel Pullman Thamrin Jakarta, 14 Maret 2019 yang menghadirkan sekitar 11 perwakilan negara-negara dunia.  Acara tersebut adalah pemberian penghargaan (awards) kepada individu dan organisasi yang dianggap berprestasi dalam memajukan good governance.  Individu yang diberi penghargaan berasal dari 4 negara yaitu Djibouti, Qatar, Afrika Selatan dan Indonesia.  Masing-masing adalah: Presiden Djibouti Ismail Omar Guelleh dalam kategori Leadership award for government and politics, CEO Doha Bank Dr. R. Seetharaman dalam kategori Leadership award for Corporate Sector, presiden World Memon Organisation (WMO) Suliman Noor Mahomed pada kategori Leadership Award for Social Sector & Philantrophy, dan Menteri pariwisata Arief Yahya pada kategori Excellence in Sustainable Tourism (Leadership Role).   Sementara itu, institusi yang diberi penghargaan berasal dari 10 negara, yaitu: Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Philipina, Thailand, Uni Emirat Arab (UEA), Qatar, Pakistan, dan Afrika Selatan.  Dari Indonesia, ada beberapa lembaga yang diberi penghargaan, yaitu Badan Wakaf Indonesia (BWI), Baznas, BTPN Syariah, Bimasena Power, dan Trakindo Utama.  BWI dapat penghargaan Global Good Governance (3G) dalam kategori Best Public Sector Programme (Financial Inclusion) dari Cambridge International Financial Advisory (IFA). 

Cambridge IFA adalah lembaga intelijen layanan keuangan yang berspesialisasi dalam mengembangkan dan memanfaatkan alat analitik canggih untuk mengevaluasi data bisnis, menilai indikator ekonomi makro dan memahami tren pasar, penentuan posisi kepemimpinan dan pengembangan merek yang relevan dengan industri jasa keuangan secara global.  Cambridge IFA berkantor di London, Inggris dan Kuala Lumpur, Malaysia. 

Bagi BWI, penghargaan ini dimaknai sebagai motivasi untuk bekerja lebih keras lagi, sebagaimana diamanatkan ketua BWI Professor Mohammad Nuh menanggapi penghargaan ini.  Setidaknya ada 2 produk/program yang dilaunching BWI pada acara pertemuan IMF-World Bank Bulan Oktober 2018 di Bali, yaitu Cash Waqf Linked Sukuk (CWLS) dan Waqf Core Principles (WCP). 

Cash Waqf linked sukuk (CWLS) merupakan wakaf uang yang aman dan terpercaya, sekaligus membangun negara.  Badan wakaf Indonesia (BWI) menginvestasikan dana wakaf pada surat berharga syariah negara (SBSN). Imbal hasil sukuk yang dibayarkan pemerintah akan diberikan kepada maukuf alaih (penerima manfaat) untuk membangun madrasah, membangun balai kesehatan atau rumah sakit, program pemberdayaan ekonomi ummat, pemulihan daerah bencana, dan kegiatan lain sesuai syariat.  Dana akan kembali 100% kepada wakif pada saat jatuh tempo.  Produk CWLS ini sebenarnya adalah wakaf sementara, dimana orang yang berwakaf (wakif) hanya mewakafkan uangnya untuk beberapa periode waktu (minimal 5 tahun sesuai peraturan BWI).

WCP adalah standar pengelolaan wakaf dunia yang diinisiasi oleh Bank Indonesia (BI), untuk memperkuat manajemen waqaf di Indonesia khususnya dan di dunia umumnya.  WCP adalah inisiatif bersama antara BWI, BI dan International Research of Training Institute-Islamic Development Bank (IRTI-IsDB).  WCP diformulasikan untuk dua tujuan, yaitu: pertama, untuk memberikan deskripsi ringkas tentang posisi dan peran manajemen dan sistem pengawasan wakaf dalam program pengembangan ekonomi.  Kedua, untuk memberikan satu metodologi yang memuat prinsip-prinsip inti dari manajemen dan sistem pengawasan wakaf.  Pada intinya, WCP ini ditujukan untuk menjamin good governance pada pengelolaan wakaf.

GOOD GOVERNANCE DAN PERTUMBUHAN EKONOMI

 Menurut Wikipedia Ensiklopedia bebas, Good Governance (tata laksana pemerintahan yang baik) adalah seperangkat proses yang diberlakukan dalam organisasi baik swasta maupun negeri untuk menentukan keputusan.  Good Governance ini dapat dipahami dengan memberlakukan delapan karakteristik dasarnya, yaitu: partisipasi aktif, tegaknya hukum, transparansi, responsif, berorientasi musyawarah mufakat, keadilan dan perlakuan yang sama untuk semua orang, efektif dan ekonomis, serta dapat dipertanggungjawabkan. 

Dr. Sofiza azmi, Chairman of the 3G awards committee & CEO of Cambridge IFA dalam sambutannya mengatakan bahwa 5 dasar penilaian pemberian penghargaan Global Good Governance (3G) ini, yaitu: transparansi, tanggung jawab sosial, keberlanjutan, dampak dan inovasi.  Beliau menutup sambutannya dengan mengatakan “On behalf of the Organizing committee, I applaud and congratulate this year’s winners who have displayed leadership and world class best practices in corporate governance and sustainability.  Their success exemplifies the relentless pursuit of excellence and commitment to create a positive impact in the world through innovation and partnerships.”  Artinya, BWI sudah masuk organisasi sektor publik kelas dunia.  

Apa pentingnya Good Governance dalam ekonomi?  Professor Humayon Dar, Founder and Chairman of Global Good Governance Awards, menjawab dengan sederhana, ‘sangat penting’.  Misalnya penelitian Paitoon Kraipornsak dari Chulalongkorn University Thailand, mengatakan bahwa good governance dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.  Menggunakan data 16 negara negara Asia dari tahun 1996 hingga 2016, diperoleh hasil bahwa jika composite governance index meningkat satu persen, maka ekonomi tumbuh 0,54 persen.  Sehingga untuk negara-negara berkembang di Asia, good governance merupakan faktor krusial yang dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

WAKAF DAN ECONOMIC GROWTH

Sudah merupakan pengetahuan bersama bahwa wakaf akan dapat meningkatkan Economic growth (pertumbuhan ekonomi) suatu masyarakat/negara.  Filosofi wakaf yang tidak boleh berkurang, bahkan harus bertambah menunjukkan bahwa ekonomi akan tumbuh terus dengan adanya wakaf.  Tumbuhnya pun berkelanjutan.  Sudah banyak best practice yang dapat dilihat, bahkan yang paling fenomenal adalah wakaf Usman bin Affan, sahabat Rasulullah saw yang sudah wafat sekitar 1400 tahun yang lalu.  Saat ini, sebuah hotel besar dan megah sedang dibangun di Madinah dengan pemiliknya adalah Usman bin Affan. 

Di Indonesia, banyak sekali aset wakaf yang belum dioptimalkan.  Ada 436 ribu hektar lahan wakaf yang belum maksimal pemberdayaannya.  Diharapkan dengan tata kelola yang baik, maka sumberdaya yang besar itu menjadi suatu power yang dapat dinikmati oleh masyarakat.  Beberapa kali ketua BWI mengatakan bahwa tugas besar BWI adalah membuat transformasi wakaf dari maksimum jumlah menjadi maksimum daya, meningkatkan kesejahteraan dan kualitas dakwah, dan menjaga martabat dan nilai keabadian wakaf.  Dengan penganugerahan 3G award ini kepada BWI, semoga perwakafan di tanah air bergeliat dan menunjukkan kemajuan-kemajuan yang nyata.(*) 

Share This:

You may also like...