Valuasinya Sempat Ungguli Chevron, Palm pun Keok

DIDIRIKAN tahun 1992, valuasi tertinggi Palm diraih tahun 2000 senilai US$53,3 miliar, melampaui McDonalds, Chevron, bahkan Generas Motors. Sayang, perusahaan smartphone Palm runtuh pada 2011. Menyusul krisis ekonomi 2008-2009, hanya beberapa perusahaan yang ulet dan kreatif yang mampu bertahan dari terpaan badai.

Perusahaan seperti Blockbuster dan Borders juga mengalami penurunan di industri mereka. Saham Blockbuster diperdagangkan di bawah US$30 sen/saham. Mereka pun masih dibebani dengan utang lebih dari US$963 juta. Borders adalah rantai toko buku terbesar kedua di Amerika, setelah Barnes & Noble. Saham Borders dijual di bawah US$2/saham. Perusahaan harus bayar pinjaman US$42,5 juta. Jika pun mampu, toko buku ini masih kudu melunasi utang US$360 juta.

PalmPalm mengandalkan Pra dan Smartphone Plus untuk menuntun kembali ke bangkitnya pasar smartphone. Sayangnya, telepon pintar Palm itu telah gagal bersaing. Walaupun respon awalnya baik, Palm tak berdaya mempertahankan momentum. Palm melaporkan rugi non-GAAP bersih sebesar US$102 juta di kuartal terakhir 2009. Palm semakin sulit bersaing di pasar yang ramai dengan Apple smartphone, Research in Motion dan Google. Sahamnya telah turun lebih dari 77% selama enam bulan terakhir.

Senasib dengan Palm, YRC Worldwide adalah perusahaan Fortune 500 yang sama sekali belum pernah membukukan laba sejak 2006. Mereka memiliki utang sebesar US$470 juta untuk swap ekuitas. Perusahaan telah berusaha melakukan efisiensi biaya, termasuk PHK karyawan, penutupan pabrik dan penjualan aset. Dengan semua tindakan ini, YRC Worldwide belum membukukan laba sejak tahun 2006.●

Share This: