Unit Filial National Geographic

Tak otomatis penyayang satwa  juga menjadi pemelihara. Seperti gawe Green Peace, dalam skala kecil dijumpai komunitas serius. Mereka memantau, mendokumentasikan, dan memproteksi satwa dari berbagai ancaman dan bahaya.

save kukang

Komunitas hewan biasanya memiliki dan memelihara binatang kesayangannya. Namun, orientasi beberapa komunitas berikut ini agak berbeda. Mereka hanya fokus mengamati dan merekam. Sebut saja Komunitas Seriwang (Serikat Birdwatcher Ngalam). Diketuai Eko Achmad Pranoto, yang dibentuk 19 Juni 2012. konsentrasinya adalah mengamati tingkah laku burung—burung laut, burung hutan dan Elang. Memiliki anggota sekitar 50 orang,  dari yang awam hingga yang ahli.

Untuk mengamati burung laut, mereka mendatangi hutan Mangrove Surabaya. Burung Elang diamati di Paralayang, Taman Nasional Bromo Tengger, Semeru. Burung Hutan biasa dipantau di Cangar (Tahura) atau Semeru. Mereka lakukan itu tak hanya dengan mata telanjang, tapi menggunakan alat binokuler. Alat ini menjadi wajib dimiliki oleh setiap anggota Seriwang. Alat ini memiliki empat keunggulan hingga dapat burung tampak seakan dari jarak dekat.

Momen-momen diabadikan menggunakan kamera maupun sketsa gambar.  “Maka dari itu, kami tidak sampai menangkap, lalu mengamati dari hasil tangkapan burung yang saat itu melakukan migrasi. Justru kami harus kuat dalam pengamatan. Itu asiknya. Setiap dari kami melihat burung yang berbeda. Memang ada yang mengabadikan dengan foto, itu lebih jelas saat pengamatan,” tuturnya.

Burung ini bermigrasi secara berkelompok. Sekali kelompok bisa sampai 45 ekor.

Animal Defender, Sang Pengayom

Didirikan 2011, berawal dari keprihatinan terhadap banyaknya hewan domestik yang disiksa atau telantar. Para anggota dan relawan berjuang membantu penyelamatan anjing dan kucing yang terabaikan. Selanjutnya ditampung di dua buah shelter yang terletak di daerah Depok, Jawa Barat, dan Ciledug, Tangerang Selatan. Animal Defenders Indonesia (ADI) mengusung program 3R, yakni rescue, rehabilitation, dan rehome.

Rescue merupakan tahap awal penyelamatan. Mereka bertindak berdasarkan laporan. Baik yang disampaikan langsung maupun via SMS dan media sosial. Diikuti investigasi untuk memastikan kebenaran laporan. Setelah itu, barulah hewan dibawa ke shelter. Tahap rehabilitasi artinya menyembuhkan penyakit atau luka yang diderita satwa. ADI juga memperbaiki sikap hewan yang didiagnosa mengalami kesulitan berinteraksi baik dengan manusia ataupun sesamanya.

Rehome atau adopsi menjadi tahapan terakhir. Secara rutin ADI mengadakan ‘Pet Adoption Day’ guna mendapatkan keluarga baru yang tepat bagi para penghuni shelter. ADI bekerja sama dengan beberapa pengajar atau institusi pendidikan. Terkait pendanaan, selama ini donasi teman-teman pecinta hewan dan beberapa unit usaha yang digagas tim ADI, Misalnya, jasa memandikan hewan peliharaan, penjualan makanan anjing dan kucing dan aneka kaos berlogo ADI.

Garda Satwa, Sang Penyelamat

Banyaknya kejadian buruk yang menimpa hewan telantar di jalanan menggerakkan sekelompok pecinta hewan mendirikan komunitas Garda Satwa. Mereka, dengan personel awal tujuh penyayang hewan, tak segan-segan memberi makan hewan di jalan (streetfeeding stray animal), bakti sosial (baksos) steril kucing jalanan, dan mengedukasi untuk anak-anak sekolah mengenai hewan.

Dilansir dari Young and Style, komunitas ini resmi terbentuk pada 24 Juni 2010. Berfokus pada penyelamatan hewan domestik, khususnya anjing dan kucing. Para pendiri Garda Satwa berharap hewan domestik dapat bebas dari rasa lapar dan haus; bebas dari rasa tidak nyaman; bebas dari luka; penyakit, dan sakit; bebas dari rasa takut dan penderitaan; bebas mengekspresikan perilaku normal dan alami.

 

Krian, Penyayang Beragam Binatang

Anggota Krian Pecinta Satwa (KPS) 50-an orang. Terbentuk 30 Agustus 2015. Berbasis di Kecamatan Krian itu baru Terbentuknya dari perkenalan spontan di jalan antara Ekky dan Jaelani. Keduanya merasa cocok untuk berkolaborasi. Hewan yang bisa dihimpun di komunitas itu pun beraneka ragam. Mulai kelinci, kucing, sampai anjing. Ada juga ular, iguana, biawak, dan musang bulan. Tak ada diskriminasi. Apa pun hewan peliharaannya, boleh bergabung.

Dua prinsip mereka pegang dalam membina komunitas mereka. Pertama, jangan bicara keuntungan ekonomis. Kedua, semua satwa boleh bergabung dengan komunitas. Mereka juga menyosialisasikan pemahaman tentang hukum perlindungan satwa liar, perawatan hewan, serta bagaimana perlakuan jika menemukan telur hewan liar. “Semua dibahas tuntas saat acara gathering,” ujar Harry, bapak dua anak, pemilik 100 ular di rumahnya.●(dd)

Share This:

Next Post

Pejaten Shelter & Fauna Telantar (300)

Sel Mei 2 , 2017
Siapa yang peduli pada hewan terbuang karena invalid, tak lagi menarik/gagah/imut/menggemaskan, dan tak laku dijual? Ada. Di Pejaten, Jakarta Selatan, Dokter Susan melakoninya. Coba perhatikan di esekeliling kita. Apakah kita menemukan hewan-hewan tak terurus, dibuang pemiliknya dan dibiarkan telantar? Apakah itu anjing atau kucing liar yang terlindas kendaraan di jalanan? […]