Tuntas Melakukan Segala Sesuatu

SOSOK ini mendedikasikan hidupnya untuk kegiatan sosial, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat kaum marjinal. Dwi Mukti Wibowo namanya. Baru saja memperoleh penghargaan Indonesia Educator & Education Award 2018. Kriteria penilaian award ini cukup rumit: mengusung konsep kemandirian, mengelola dari potensi yang ada, multidimensi, pengajaran dilakukan di dalam dan di luar sekolah, dengan mengedepankan talenta.

Ini buah manis dari keterlibatan diri yang panjang dan tuntas. Dwi melakukan perubahan signifikan, yakni menyerasikan akselerasi kemajuan perekonomian Indonesia dalam bidang pendidikan. Berawal dari kehilangan putera tercintanya, Dimas Prasetyo Wibowo, yang meninggal dunia karena leukemia. Dwi Mukti Wibowo sangat terpukul, limbung dan terpuruk. Dari keterpurukan, Dwi Mukti bangkit. Ia mendirikan yayasan sekaligus mengabadikan nama anaknya: Yayasan Dimas Prasetyo Wibowo.

Yayasan ini menaungi sekolah TK dan SMP Sekar Pertiwi, di Desa Cigalumpit, Cileunyi, Kabupaten Bandung. Segalanya berawal dari nol. Dikelola secara mandiri dengan sistem subsidi silang. Kebanyakan peserta didik di sini adalah anak-anak buruh pabrik dan buruh tani. Bila dihitung, lebih banyak ijazah mereka yang tidak diambil. Soalnya, sejak masuk sampai lulus, orang tua mereka tidak cukup mampu menyisihkan dana untuk biaya pendidikan.

Bagaimana mungkin sekolah seperti itu bisa bertahan? Bagaimana bisa mencukupi berbagai kegiatan edukasional? Bagaimana menutup biaya operasional? Dan menyantuni kebutuhan para guru-guru yang mengajar? Di sisi lain, yayasan berharap adanya sertifikasi bagi para guru, agar para pengajar di sana bisa mendapatkan penghasilan yang layak. Untuk itu, tak ada jalan lain selain hibah Dwi Mukti Wibowo dari kantong pribadi. Sekadar tambahan didapat yayasan dari hasil (penjualan) kegiatan melukis.

Di samping fokus pada pendidikan formal, Yayasan Dimas Prasetyo Wibowo juga memberi porsi yang memadai terhadap pendidikan budi pekerti, karakter, kebahagiaan dan kesejahteraan. Di sini diperkenalkan, antara lain, pendidikan berbasis subsidi, pendidikan berbasis talenta yaitu pemberdayaan difabel netra, pendidikan berbasis peduli, pendidikan berbasis kompetensi untuk para guru PAUD dan istri penyandang difabel, pendidikan berbasis profesi, pendidikan berbasis multicountry, pendidikan berbasis seni.

Mereka yang terlibat bersama Dwi Mukti Wibowo di lembaga ini sangat menyadari bahwa tujuan akhir pendidikan adalah perubahan/perbaikan watak/kepribadian. Prosesnya pun harus benar. Komitmen yang ditunjukkan suami Endah Marheni ini jelas: tak tanggung tanggung dalam melakukan sesuatu. “Jika ingin menuai hasil, kita harus memulai kegiatan sosial yang sudah kita niatkan. Kita baru bisa melepaskan jika mereka sudah mulai mampu mandiri. Keberhasilan kita bukan berapa jumlah yang kita berikan, melainkan seberapa mampu membuat mereka mandiri dan menolong diri sendiri,” tutur Dwi Mukti Wibowo dengan yakin.  (Dita-ed)

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *