Tumbuh di tengah Tekanan

PT Bank Negara Indonesia (Persero), Tbk

Penurunan ekonomi pada tahun lalu, tidak menghalangi BNI dalam meningkatkan kinerjanya. Buktinya, laba bersih tetap meningkat dan kualitas aset produktifnya tetap terjaga.

01

Kondisi ekonomi makro pada 2013 merupakan tahun yang penuh tantangan bagi para pelaku bisnis, termasuk industri perbankan. Produk domestik bruto hanya tumbuh 5,8 persen, turun dibanding tahun 2012 sebesar 6,2 persen. Hal ini menyulitkan pelaku usaha dalam melakukan ekspansi bisnis. Melambatnya pertumbuhan itu disebabkan oleh berbagai faktor seperti inflasi, kenaikan upah, dan kondisi global yang penuh ketidakpastian.

Inflasi tinggi sebagai dampak dari kenaikan harga BBM bersubsidi sebesar 33,3 persen yang terjadi menjelang Ramadhan. Kenaikan upah minimum provinsi/kota tahun lalu sebesar rata-rata 18,3 persen, serta kenaikan tarif dasar listrik (TDL) secara bertahap sebesar 15 persen. Sedangkan kondisi global diliputi ancaman tapering off yang dihembuskan The Fed.

Di tengah kondisi yang kurang bersahabat itu, Bank BNI tetap membukukan pertumbuhan laba tahun berjalan sebesar 24 persen menjadi Rp 10,96 triliun dari sebelumnya Rp 8,84 triliun. BNI juga mencatat peningkatan laba bersih sebesar 28,5 persen dari Rp 7 triliun naik menjadi Rp 9,1 triliun pada tahun 2013.

Peningkatan laba ini tidak lepas dari upaya manajemen dalam mengelola aset produktif, optimalisasi liabilitas serta pengendalian kegiatan operasional yang efektif dan efisien. Dari sisi aset, tumbuh sebesar 16,0 persen didorong oleh peningkatan penyaluran kredit yang diberikan sebesar 24,9 persen. Tingginya kredit yang disalurkan berdampak secara signifikan karena komposisinya yang mendominasi yaitu sebesar 64,8 persen dari total aset BNI.

Peningkatan pinjaman yang diberikan ini merupakan salah satu strategi perusahaan dalam mengelola aset produktif dan meningkatkan imbal hasil yang diiringi dengan pertumbuhan bisnis sepanjang tahun 2013.

Meski melakukan ekspansi bisnis yang cukup agresif, BNI tetap mempertahankan rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM)/Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 15,1 persen jauh di atas yang disyaratkan oleh Bank Indonesia/OJK

Share This:

You may also like...