Tuhan

Dan di ujung film itu, Tuhan berjalan bersama orang-orang terbuang yang menuju tanah yang diperjanjikan. Sosok Tuhan yang mungil hasil rekayasa Ridley Scott yang dengan kuasaNya baru saja menenggelamkan raja lalim, Ramses di laut merah. Ada Musa, dan ada penggalan kisah dari alkitab, namun Scott agaknya tak hendak bercerita tentang kelahiran sebuah agama baru. Sutradara yang sukses mendatangkan Alien ke layar Hollywood itu sekadar memvisualkan tentang kebaikan versus kejahatan yang diimbuhi dengan campur tangan Tuhan.

mata1

Begitulah, ketika banyak orang berbondong-bondong ke gedung bioskop untuk menonton film Exodus, Gods and Kings, maka terbayang seorang nabi yang menerima wahyu dan berdialog langsung dengan Tuhan, tongkat yang penuh mukjijat dan laut merah yang terbelah. Persis seperti ketika The Ten Commandment dirilis pada 1956, di mana Musa dan Tuhan muncul dalam sosok suci dan transenden.

Tetapi modernisasi dan kemajuan teknologi agaknya tidak berjalan linear dengan ketaatan. Masa seperti itu telah lama berlalu di Hollywood, Tuhan di mata para sineas hanyalah komoditas hiburan yang laris manis dan selalu menghasilkan box office. Kita masih ingat dengan parodi Tuhan yang kocak dalam film The Bruce Almighty (2003). Di Amerika Serikat film itu kontroversial lantaran Tuhan diparodikan dalam sosok Morgan Freeman, seorang negro tua berkulit hitam. Warna kulit yang oleh orang-orang di Barat pernah dianggap hanya objek, bodoh dan hanya setengah manusia.

Sementara Scott dalam Exodus, memvisualkan Tuhan dalam semiotika yang lebih berani, seorang bocah. Konyol memang, tetapi sangat komersial.

Di Hollywood, para sineas mendulang untung atas nama Tuhan. Dan itu sah saja, karena semua orang berhak mengklaim keberadaan Tuhan dalam dirinya. Seperti halnya Scott yang merepresentasikan sosok Tuhan pada seorang bocah yang bertengkar dengan Musa. Tuhan menginginkan Mesir dan Firaun harus dihukum sementara Musa menentang perintah yang kejam itu. “ Lalu bagaimana dengan bangsamu yang sudah diperbudak selama 400 tahun? Apakah itu tidak kejam?” tanya si bocah.

George Bush mengatasnamakan Tuhan ketika menginvasi Afghanistan dan Irak. “George, pergilah dan lawanlah para teroris di Afghanistan. Dan saya melakukannya. Lalu Tuhan memberi tahu saya lagi, George, pergi dan akhiri tirani di Irak, dan saya melakukanya. Saya merasa firman Tuhan datang kepada saya,” kata Bush di tahun 2003. Ia serius dan masyarakat AS agaknya percaya. Dan Bush pun rela mengirim ribuan tentara AS ke Timur Tengah untuk membunuh atas nama Tuhan. Sebuah entitas, zat maha luhur yang diyakini oleh kaum beragama sebagai yang maha rahman dan Rahim.

Dalam masyarakat kapitalis AS, Tuhan adalah sosok yang tak dibicarakan. Majalah Time terbitan April 1966 menulis laporan utama Is God Dead?   Edisi Time yang paling kontroversial ini mengulas gerakan dalam teologi Amerika yang muncul pada tahun 1960-an, yang dikenal sebagai “kematian Tuhan”. Budaya sekular yang modern telah kehilangan semua rasa tentang yang suci, tidak memiliki makna sakramental apapun, kata tokoh utama teologi ini, Gabriel Vahanian dalam bukunya The Death of God yang terbit pada 1961.

Ia memang bukan yang pertama mengklaim Tuhan sudah mati.

Di Eropa, Nietsche (1844 -1990) menolak eksistensi Tuhan. “Gott is tot,” katanya, Dan yang membunuh Tuhan adalah kita, kata tokoh atheis itu. Di kamp konsentrasi Aushwitz, Elie Wiesel menyaksikan orang-orang antri memasuki dapur api. Jutaan orang mati terpanggang sia-sia, Ketika Tuhan tidak berbuat apa-apa, sejak itu ia tidak percaya lagi.

Tetapi di Yerusalem, di tengah deru mesiu dan pembantaian anak manusia, Tuhan justru tetap eksis. Di kota tiga agama itu, kita terbiasa mendengar kidung-kidung ibrani di Sinagog, suara lonceng di gereja dan gema azan dari masjid. Semua berbunyi serentak ditujukan untuk satu Tuhan. Sementara di serambinya pembantaian terus berlangsung, sepanjang ribuan tahun usia kota Yerusalem. Juga atas nama Tuhan.

Share This: