Transformasi Bisnis Koperasi

Sudah saatnya koperasi bergerak di lintas sektoral agar lebih berkontribusi pada perekonomian. Untuk itu partisipasi anggota menjadi syarat mutlak. Kopsyah BMI telah memulainya.

Koperasi yang digadang-gadang sebagai sokoguru perekonomian nyatanya kini masih menjadi pemain pinggiran. Ini salah satunya disebabkan regulasi yang membatasi ruang gerak koperasi. Sehingga, lembaga ekonomi itu hanya terpaku pada satu sektor usaha saja seperti simpan pinjam, produksi, atau konsumen saja. Perlu terobosan untuk mengatasi kejumudan tersebut. Basis pemikiran ini yang menjadi dasar dalam Seminar Nasional bertema “Arah Baru Bisnis Koperasi” yang diselenggarakan Koperasi Syariah Benteng Mikro Indonesia (Kopsyah BMI). di Gerai Tangerang Gemilang, Kabupaten Tangerang, Banten, Kamis, 22 Agustus 2019.

Seminar Nasional menyambut Hari Koperasi ke 72 tahun tingkat Kabupaten Tangerang itu dibuka  oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Tangerang Moch. Maesyal Rasyied dan  menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain Presiden Direktur Kopsyah BMI Kamaruddin Batubara, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Banten, Tabrani,  Direktur  Pendistribusian dan Pendayagunaan Baznas Irvan Syauqi Beik dan Ketua Yayasan Hasanah Titik BNI Syariah  Agus Sutantyo.

Kamaruddin Batubara yang akrab disapa Bara mengatakan, koperasi sebagai badan usaha  tidak sama dengan korporasi atau persero yang umumnya  tumbuh dari kumpulan modal. Koperasi adalah kumpulan orang yang bergotong royong dan tolong menolong untuk memperbaiki kehidupannya di bidang ekonomi, memperbaiki pendidikan anak-anaknya, menjaga kesehatan keluarganya, menumbuhkan jiwa sosialnya dan meningkatkan praktik spiritualnya.

 “Bisnis koperasi digerakkan oleh kumpulan orang, makin banyak masyarakat menjadi anggota koperasi, makin merata tingkat kesejahteraan mereka. Karena bisnis koperasi yang sejati adalah memberdayakan ekonomi anggota,” ujar Bara. 

Model bisnis yang dikembangkan Kopsyah BMI layak dijadikan panutan. Meski bisnis intinya simpan pinjam, namun koperasi ini sangat peduli pada pemberdayaan anggotanya. Melalui 5 Pilar Pemberdayaan yakni ekonomi, pendidikan, kesehatan, sosial, dan spiritual, Kopsyah BMI terus mendorong peningkatan kualitas hidup anggota baik material maupun nonmaterial.

Untuk menncapai 5 pilar pemberdayaan tersebut, Kopsyah BMI memiliki 5 instrumen yaitu sedekah, pinjaman, pembiayaan, simpanan dan investasi. Oleh karenanya, tidak heran Koperasi yang berpusat di Kabupaten Tangerang ini mengurusi banyak hal. Tidak saja  simpan pinjam tetapi juga pemberdayaan anggota petani cabai, kol maupun peternak kambing.  

Pemberdayaan ekonomi anggota dilakukan dengan manajemen dan tata kelola yang baik. Ambil contoh dalam hal pembiayaan, Kopsyah BMI mendorong pembiayaan yang produktif dan tetap sesuai syariah. Untuk itu, ada  skema pelayanan anggota dengan mengangkat Manager Pemberdayaan Anggota. Selain itu juga membentuk Tim Fungsional Bidang Pertanian dan Peternakan.

Kesesuaian pembiayaan dengan prinsip syariah juga terjaga. Ini dibuktikan dengan akad musyarakah, dimana Kopsyah memberikan permodalan kepada petani dengan sistem bagi hasil. Anggota tidak perlu mencicil. Modal dikembalikan setelah panen selesai ditambah bagi hasil dari keuntungan yang diperoleh.

Selain gigih dalam pemberdayaan ekonomi, Kopsyah BMI juga dikenal sangat peduli sosial. Ini dilakukan melalui berbagai program yang melibatkan peran serta anggota beserta keluarganya. Program tersebut antara lain,  hibah rumah layak huni, santunan yatim piatu, khitanan massal, maupun paket C untuk anak anggota.

Program sosial yang dilakukan tidak bersifat temporer, tetapi kontinu. Ambil contoh hibah rumah gratis layak huni kepada anggota maupun non anggota yang kini sudah mencapai 178 unit.

Bara menambahkan, arah baru bisnis koperasi yang menitikberatkan pada partisipasi anggota itu sangat tepat dijalankan oleh koperasi berbasis syariah.  Sebab, Koperasi syariah umumnya ikut serta menghimpun zakat, infaq, sedekah an wakaf sehingga sejalan dengan peran pemberdayaan ekonomi masyarakat.  “Insya Allah, dalam waktu dekat kami akan kembangkan koperasi peternakan dan pertanian, dan  dapat segera terwujud dengan menyelipkan infaq, zakat, dan sodaqoh di dalamnya,” ungkap Bara.

Saat ini Kopsyah BMI telah mendirikan Koperasi Konsumen Benteng Muamalah Indonesia (Kopmen BMI) yang bergerak di bidang ritel dan toko bangunan. Ini merupakan bukti keseriusan untuk mendobrak keterkungkungan koperasi.

Dalam kesempatan yang sama, Tabrani mengatakan kendati jumlah koperasi aktif  di daerahnya membaik, namun kontribusi ekonominya  masih belum signifikan.  Hal itu terutama lantaran masih minimnya wawasan bisnis serta permodalan yang dimiliki koperasi.  Adanya koperasi jangkar, seperti Kopsyah BMI, kata Tabrani, diharapkan dapat ikut mengangkat koperasi lainnya yang masih berjuang menata usaha.  “Perlu peningkatan kontribusi koperasi dalam perekonomian daerah,” ujarnya.

Sementara itu, Maesyal Rasyid berharap seminar  tersebut dapat menjadi modal dasar bagi seluruh komponen koperasi untuk mengembangkan keberadaan koperasi ke tengah masyarakat.  Diakuinya keberadaan koperasi sangat  dibutuhkan oleh masyarakat Kabupaten Tangerang yang umumnya mengandalkan ekonomi  di sektor pertanian. “Koperasi diharapkan menjadi solusi lapangan kerja  di sektor pertanian sehingga masyarakat  tidak  melulu mengandalkan sektor industri yang daya serapnya memang relatif tinggi,” ujarnya.

Implementasi Prinsip Koperasi

Selain lihai berbisnis dan peduli sosial, Kopsyah BMI senantiasa menjalankan pendidikan perkoperasian bagi anggota sebagai salah satu wujud implementasi prinsip koperasi. Pelaksanaan pendidikan telah diberikan kepada 600 anggota yang dibagi dalam 8 angkatan. “Anggota harus mengetahui hak dan kewajibannya dalam berkoperasi,” ujar Bara.

Melalui pendidikan perkoperasian, wawasan dan militansi anggota terhadap koperasi diharapkan dapat meningkat. Inilah salah satu pembeda koperasi dengan badan usaha lainnya. Anggota bukan hanya objek tetapi juga menjadi subyek yang terlibat dalam perkembangan usaha lembaga.

Selain pendidikan anggota, Kopsyah BMI juga rutin mengadakan pelatihan peningkatan kapasitas SDM staf lapang dan asisten manajer. Pelatihan ini bertujuan untuk membangun SDM yang kompeten dan memiliki sifat profetik (kenabian) yaitu Jujur, amanah, Tabligh & Fatonah.

Kualitas SDM berperan penting dalam mendukung pencapaian tujuan koperasi. Dengan SDM yang mumpuni, layanan kepada anggota dipastikan akan optimal. Hal ini tentunya akan meningkatkan kepuasan anggota.

Gagasan arah baru bisnis koperasi tidak lahir dari ruang hampa. Transformasi bisnis koperasi hadir dari pergulatan selama puluhan tahun dan pandangan visioner. Kopsyah BMI telah memulai secara konkret dan diharapkan menjadi inspirasi bagi koperasi lain di Tanah Air (Kur).

Share This:

You may also like...