Tifa Bhinneka Danau Sentani

Sekali waktu, bersafari ke wilayah ujung timur Nusantara bersama keluarga dapat memantapkan pemahaman kita sebagai bangsa majemuk. Danau Sentani di Provinsi Papua menawarkan begitu banyak hal memukau untuk dikunjungi.

 danau sentani

Setidaknya ada tiga alasan menominasikan Danau Sentani sebagai destinasi layak kunjung. Yaitu, jaraknya yang sedemikian dekat dengan Bandara Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua; nyamannya eksotisme alam perawan ala Pulau Kepala Burung; dan gempita atraksi Festival Sentani, sajian khazanah seni budaya kelompok etnis masyarakat danau dan sekitarnya. Untuk jadi saksi mata di festival tahunan ini, pastikan Anda berada di sana pertengahan Juni.

Danau seluas 9.360 ha di ketinggian 75 mdpl dalam pelukan Pegunungan Cagar Alam Cyclops. Biru dan luas danau seakan laut. Panorama eksotik itu terbentang antara Kota Jayapura dan Kab Jayapura. Wisatawan disambut dengan gembira. “Onomi Foimoi! Selamat Datang!” Sehari-hari dapat disaksikan aktivitas masyarakat sedang mencari ikan. Walaupun bukan laut, setidaknya ada 33 jenis ikan di danau unik ini. Sepuluh diantaranya ikan produksi (lele, mas, mujair, nila, sepat siam, tambakan, gurame, nilem, tawes dan mata merah).

Dari 20-an spesies, empat di antaranya merupakan endemik Danau Sentani yaitu ikan gabus Danau Sentani, ikan pelangi Sentani, ikan pelangi merah dan hiu gergaji yang bentuk moncongnya mirip gergaji, nama Latinnya Pritismicrodon. Binatang yang dilindungi ini hampir punah. Di pertengahan 1969 sampai tahun 1971, jaring insang berhasil menangkap 151 ekor hiu Sentani. Tahun 1974 hanya seekor yang tertangkap. Sejak 1990, hiu ini sudah jarang sekali terlihat.

 

Bertatahkan 22 Pulau

Di danau ini bertabur 22 pulau kecil yang terbagi dalam tiga wilayah: barat, wilayah tengah, dan wilayah timur. Di sini terdiri dari 24 kampung adat yang dibedakan berdasarkan dialeknya. Walau beragam, kampung-kampung ini dipersatukan oleh kesamaan legenda. Bahwa orang yang menetap di Danau Sentani berasal dari Papua Nugini. Penduduk asli Papua terdiri dari 250-an kelompok etnis dan hidup dalam unit-unit kecil yang saling terpisah, dengan adat, budaya dan bahasa sendiri-sendiri.

Dari Jakarta/Bandara Soetta tersedia banyak pilihah penerbangan langsung: Garuda, Sriwijaya, Batik, Citilink, Air Asia, Wings, dan Lion. Rute Makasar/Bandara Sultan Hasanuddin–Jayapura/Bandara Sentani dilayani oleh Garuda Indonesia, Lion, Sriwijaya, Merpati, dan  Batavia. Sekitar 40-an km dari Jayapura ke arah barat, Danau Sentani dapat dicapai sekitar 45 menit. Di luar bandara, minibus menunggu penumpang untuk tujuan Jayapura. Dengan harga bervariasi, bagusnya pastikan Anda menyetujui harga yang ditawarkan.

Hanya perlu 5 menit berperahu dari dermaga utama ke Pulau Asei, pulau terdekat. Tak heran para pelancong menjadikannya tujuan utama. Di Pulau Asei, mereka biasanya berbelanja kerajinan tangan khas Papua: kain kulit kayu bermotif indah, kerajinan warga sini. Penduduk Desa Taturi mahir membuat lukisan batu. Wisatawan mancanegara dari Singapura, Malaysia, dan Australia ke Papua yang masuk melalui pintu masuk Bandara Ngurah Rai/Bali dan Sultan Hasanuddin/Makassar menunjukkan peningkatan menggembirakan.

Sentani memang hanya danau terbesar ke-8 di Nusantara—setelah Danau Toba/Sumut, Towuti/Luwu Timur, Poso/Sulteng, Senterum/Kapuas Hulu, Matano/Luwu Timur, Sempang/Kutai Barat, dan Paniai/Papua. Papua sendiri merupakan provinsi ketiga dengan jumlah danau terbanyak (10 buah). Hanya tersaing oleh Jabar (13) dan Kalteng (12); tapi unggul ketimbang Aceh dan Sulut (9), Kalbar dan Sulut (6), Sumsel (5), Sumbar, Sulsel dan Bali (4).

Masyarakat Jepang memiliki hubungan emosional dengan Papua lantaran sebagian leluhur mereka dimakamkan di Jayapura. Fatsalnya, semasa Perang Dunia II, Danau Sentani merupakan lokasi pelatihan pendaratan pesawat amfibi Jepang. Lalu, Angkatan Darat Amerika datang mengambil alih pada tahun 1944. Jenderal McArthur, sang legenda PD II Amerika/Sekutu, dikabarkan pernah tinggal di danau ini. Wajar jika di sini kerap terlihat kunjungan turis dari negeri Matahari Terbit itu.

Sesampai di Danau Sentani, kebanyakan wisatawan sulit melawan godaan menceburkan diri ke danau atau berbaur dengan masyarakat lokal yang ramah. Sambil melihat pembuatan sagu, makan papeda bungkus dengan lauk ikan gabus goreng, menikmati buah matoa yang biasa dijajakan mama-mama Sentani di pinggir jalan dan di pasar tradisional, atau sekadar menganyam rambut keriting.

papua dance

Ritual Semi Kolosal Isosolo

Kunjungan Anda ke danau makin istimewa jika dilakukan pertengahan Juni. Tahun 2015 lalu, Festival Danau Sentani (FDS) digelar 19-23 Juni. Tiga agenda pokok FDS, selain karnaval nusantara di adalah pagelaran budaya, pameran barang seni papua, dan tur wisata. Tahun sebelumnya, FDS menghadirkan tarian kolosal yang melibatkan sekitar 500 orang, bernama ”Gema Tifa Harmoni Kehidupan”, dan penampilan 63 atraksi etnis. Para wisatawan pun sangat sibuk mengabadikannya dengan kamera, smartphone, dan tablet.

Atraksi lukis kulit kayu Khombouw dengan pewarna alami seperti, warna putih/kapur sirih, merah/tanah liat, hitam/arang sepanjang 100 meter—oleh Agus Ongge dan Martha Ohee, serta diikuti oleh 100-an pelukis lokal dan lainnya—tercatat dalam Museum Rekor Indonesia (MURI); Termasuk membuat gerabah terbesar dari tanah liat sebagai tempat mengolah tepung sagu menjadi papeda. Acara berlangsung di Kawasan Wisata Khalkote, Sentani Timur, Kab Jayapura. Pameran budaya dan kuliner dari 19 distrik di Papua. Istimewanya, FDS kali ini dihadiri Dubes Tunisia, India, Palestina, Kazakhstan, dan Ghana.

Selain rekor lukis, tercatat pula rekor sempe terbesar, berdiameter 3,2 m dan tinggi 50 cm, yang dibuat oleh Naftali Fele dan Yonas Doyapo. Sempe adalah gerabah tradisional sebagai wadah untuk makanan khas masyarakat Papua seperti papeda. Bahan dasar pembuatan sempe adalah tanah liat. Keterampilan turun temurun ini terwariskan dengan baik, khususnya pada masyarakat Kampung Abar.

Adapun Isosolo  merupakan tarian yang di masa lalu dipakai saat perang. Tari yang berenergi dan penuh semangat, magis dan menghentak. Dewasa ini, tarian isosolo menjadi atraksi yang wajib dipertunjukkan pada setiap ajang FDS. Sebab, inilah ciri khas Festival Danau Sentani. Inilah show of force ritual semi kolosal di tengah danau yang membedakan FDS dengan festival budaya dari daerah lain mana pun. Festival ini diselenggarakan sejak 2007 dan telah menjadi festival tahunan dan masuk dalam kalendar pariwisata utama.

Tarian Isosolo mencerminkan perasaan sukacita masyarakat suku Sentani. Tarian ritmis beraroma purba itu dilakukan oleh sekelompok orang di atas perahu hias, dengan aksesosi warna-warni kontras mencolok, berkelana dari kampung ke kampung melewati sejumlah yang bertabur pulau di tengah Danau Sentani.

FDS merupakan bukti pemeliharaan persatuan dan kesatuan di antara sesama suku, ras, agama; mengingat di Papua terdiri dari ratusan suku-suku kecil yang gampang tersundut konflik fisik. Festival yang rutin digelar sejak 2007 ini masuk dalam kalendar pariwisata utama. Tidak kalah menariknya dengan festival Lembah Baliem ataupun Festival Raja Ampat. Pemkab Jayapura membentuk desa wisata sagu di tepian danau itu dan wisata gerabah di Kampung Abar, salah satu pulau di Danau Sentani.

Ramainya kunjungan wisata tahunan ke sini jelas membawa berkah buat para pemotor sampan. Bagi Markus Lali, salah satu motoris sampan, di Pantai Khalkote, hari pertama FDS dia bisa pulang ke rumah dengan mengantongi Rp2 juta, hari kedua pun demikian. Tapi, dua hari terakhir, penghasilannya mencapai Rp5 jutaan. Hal serupa dituturkan rekannya, Enos Pulalo, motoris sampan asal Kampung Ayapo. “Di hari biasa, kami biasa dapat paling tinggi Rp300 ribu. Tapi ketika FDS kami dapat sampai jutaan,” ujarnya.

Bagaimana dengan cuaca? Sebagaimana di wilayah Papua lainnya, kira-kira serasa disorot 9 matahari. Bagaimana dengan akomodasi? Sentani cukup menyiapkan diri untuk kedatangan Anda. Di sana sudah ada satu hotel berbintang yang menawarkan harga kamar mulai dari Rp900.000, yaitu Travellers Hotel, selain Ratna Indah Hotel dan Sentani Indah Hotel yang menawarkan harga mulai dari Rp300.000. Jarak hotel-hotel tersebut ke Pantai Khalkote dekat sekali, hanya 10-15 menit berkendara. (Dody Mardanus)

Share This:

Next Post

Menempa Minat Seni Siswa SMK

Sen Feb 29 , 2016
Tempalah besi selagi panas. Petuah itu agaknya belum usang. Sebuah Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di bilangan Cakung Jakarta Timur menerjemahkan petuah ‘sakti’ itu dengan menggelar ajang kreasi seni para siswanya berupa pameran lukisan. Memang bukan karya komersial karena yang dipajang adalah hasil karya siswa dari tugas ujian praktik seni budaya. […]