Tayangan Pembodohan

Menonjolnya aspek hiburan dalam tayangan televisi bisa dimengerti. Dalam arti, hiburan tanpa mengabaikan aspek informasi dan edukasi. Maka, terasa lebay aja ketika sebuah televisi menempelkan label “pendidikan”. Yang pasti, tak seyogianya televisi menyebarluaskan hal-hal yang dungu. Simaklah, pembodohan lewat tayangan berbagai acara di layar televisi berlangsung hampir 24 jam dalam sehari. Maka, wajar jika di sosial media muncul meme “Guru dibayar murah dituntut untuk perbaiki karakter dan akhlak anak-anak. Artis dibayar mahal justru untuk merusak akhlak anak-anak”.

Patut saya kemukakan bahwa saya bukan penonton tv yang ‘baik—dalam arti sudi memubazirkan waktu untuk melototi layar kaca. Dari info kiri kanan yang saya himpun—di antaranya menceritakannya dengan sedemikian bersemangat (baca: menyedihkan)—sedikitnya patut disebut 8 (delapan) acara televisi yang bukan hanya tidak mendidik melainkan diproduksi entah untuk kemanfaatan macam apa. Kesenangan? Kesenangan jenis apa? Lucu-lucuan murahan? Ketawa ketiwi? Mencerminkan apa? Selera pasar? Selera rendah penulis skenario dan produser?

Kedelapan acara yang dimaksud adalah sebagai berikut: ‘Dahsyat’. Karena ratingnya konon bagus, maka jam tayangnya (live) pagi hari. Parahnya, dalam beberapa kesempatan, beberapa anak yang malah make baju seragam sekolah. Jadi, mereka bolos demi nonton acara ini, begitu?

‘Inbox’. Beda-beda tipis dengan acara yang disebut di atas, acara ini juga tayang di waktu yang hampir sama. Pagi hari yang semestinya merupakan waktu terbaik untuk mengawali kerja, eh, malah dijejali acara joget-joget di mal.

‘Sinetron’. Nih acara ada tiap hari di tv Indonesia. Mulai dari Cinta Fitri, Putri yang Tertukar, Bapak yang Tertukar, Tukang Gado-gado Naik Haji, dan sebagainya dengan judul yang serba aneh. Dan yang paling aneh adalah: kok ada orang yang mau nonton acara slenge’an kayak gitu. Padahal, hampir semua sinetron di Indonesia mengandung unsur kekerasan, kecurangan, dan sikap yang gak terpuji yang diperanin sama artisnya.

‘Sinetron kolosal’. Nah, ini nih yang ngerusak citra film ataupun sinetron laga di Indonesia. Zaman dulu, saya suka banget kalo nonton laga Jaka Sembung, Angling Dharma, dan lain-lain. Kok sekarang saya jadi eneg kalo lihat itu di tv? Jalur cerita yang ditawarkan di sinetron ini dipelintir, diselewengkan dengan akibat cerita aslinya jadi hambar. Bukannya mendidik lewat cerita sejarah, pemirsa digiring nonton untuk lebih kepincut sama unsur komedi basi yang asal mangap.

‘Pesbuker dkk’. Acara ini sebenernya tema’nya apaan sih? Isinya cuma becanda gak karuan. Jalur cerita kagak ada, yang ngisi acaranya juga orang-orang yang gak jelas identitas keartisannya. Jangan dikira acara kayak gini gak menyumbang pada amburadulnya moral anak muda.

‘Infotainment’. Kalo ini sih udah gak perlu lagi dipertanyakan. Sebenernya kalo dilihat dari sisi positif, ada juga beberapa yang bisa kasih inspirasi. Sayangnya sisi positifnya dikit banget, kan cuma nunjukkin artis lagi kasus perceraian, lagi berantem, bertikai, kasus skandal mesum, ini itu yang jelas-jelas kayak dibuat biar masyarakat tahu. Dan apa untungnya kalo masyarakat tahu ? Saya rasa gak banyak deh, malahan menyontohkan hal-hal yang buruk oleh para pesohor.

‘Hipnotism’. Nih juga jadi salah satu acara yang saya rekomendasikan hindari sedini mungkin. Soalnya, yang katanya buat ngeluarin unek-unek malahan aib yang keluar. Hal-hal yang lebih baik kalo orang kagak tahu, malah jadi tahu. Artis-artis yang nongol di acara ini ujung-ujungnya berantem sama yang ada di sebelahnya karena rebutan pacar, dan lain-lain.

‘YKS’. Isinya cuma becanda dengan pelesetan kelas picisan, trus joget-joget ngikutin orang gangguan saraf. Hiburan ini maksain diri tayang dari jam 8 sampe jam 12. Bener-bener mubazir dalam segala hal.

Masih banyak banget acara yang gak mendidik, tapi segitu aja rasanya cukup mewakili sejumlah ketololan yang—entah disadari entah pura-pura tak tahu—ditularkan media televisi.

 

Kusnadi Adimadja

Cirebon, Jawa Barat

Share This:

Next Post

Top-down

Sel Nov 10 , 2015
DALAM pakem idealnya, pembangunan koperasi sejatinya dimulai dari bawah (bottom-up), berdasar kehendak anggota. Itu sebabnya koperasi identik dengan badan usaha rakyat yang tumbuh dari aspirasi lapis bawah dengan tujuan menolong diri sendiri secara bersama-sama (mutual self help). Dalam praktiknya, tak sepenuhnya orang taat dengan pakem berkoperasi tersebut. Di sejumlah negara […]