Taksi Uber, Sasaran Tembak Banyak Pihak

Perkembangan aplikasi teknologi seakan mendorong perubahan mindset Di antaranya, redefinisi tentang ‘angkutan umum’ yang selama ini dianggap baku. Taksi Uber menampik digolongkan transportasi konvensional. Mereka menyebutnya ‘platform e-commerce yang menawarkan produk jasa’

taksi uber

Satu lagi transportasi berbasis aplikasi diluncurkan. Taksi Uber namanya. Sejak Agustus 2014, Uber menawarkan alternatif transportasi di Jakarta. Namun, karena dianggap tidak berizin dan tidak memiliki badan hukum, Uber pun diprotes, dikejar-kejar. Kata orang Betawi, diuber-uber. Bahkan,
lima taksinya ditangkap Kepolisian Daerah Metro Jaya. Pihak Organda Jakarta yang kepentingan bisnisnya ‘terganggu’ wajar saja melakukan antisipasi, angkat bicara dan melaporkannya.

Jasa kendaraan sewaan dan tumpangan ini didirikan Maret 2009, kantor pusatnya di San Fransisco California. Pendirinya adalah Travis Kalanick dan Garrett Camp. Dalam deskripsi aplikasi yang disusun Uber Technologies, layanan ini menyediakan jasa angkut di 128 kota di 37 negara. Pengguna bisa mengunduh aplikasi Uber pada perangkat berbasis iOS, Windows Phone, BlackBerry, Android Google Play dan Apple App Store. Melalui website Uber, di sana terihat lima pilihan jenis mobil seperti uberX, Taxi, Black, Suv dan Lux.

Awalnya, para sopir Uber menggunakan mobil papan atas seperti Lincoln Town Car, Cadillac Escalade, BMW 7 Series, dan Mercedes-Benz S550. Pada tahun 2012, Uber mengumumkan perluasan operasinya yang mencakup tumpangan menggunakan taksi. Setelah 2012, Uber meluncurkan UberX, yaitu pengayaan jenis mobil agar terjangkau oleh berbagai lapisan masyarakat. Di Indonesia, mereka membidik Jakarta sebagai pasar
perdana. Potensinya diprediksi bagus, tapi jalan ke arah itu memang tidak mulus. Buat pengguna jasa, alternatif ini menarik. Estimasi ongkosnya yang lebih miring, dibanding taksi biasa, sudah diketahui sejak awal keberangkatan. Pembayaran pun tidak memerlukan uang tunai (tanpa perlu mempertimbangkan tips), tapi melalui Google Wallet, PayPal atau kartu kredit. Tarifnya pun lebih miring. Untuk Jakarta, ditetapkan
argo dengan tarif dasar Rp7.000, plus tarif Rp500/menit atau Rp2.850/km, dan minimal biaya pembatalan Rp30.000.
Metode pembayaran disesuaikan di setiap negara. Di Indonesia, yakni kartu kredit dan kartu debit. Dalam kesempatan berpromosi, Agustus tahun
lalu, Manajer Regional Uber Asia Tenggara, Mike Brown, mengatakan, “Kami ingin menghadirkan kenyamanan dan pengalaman yang menyenangkan, sekaligus ingin mengubah persepsi yang menganggap Uber sebagai perusahaan transportasi”. Brown menyebut Uber sebagai platform e-commerce yang menawarkan produk jasa.

Bagi pengemudi, baik sopir sewaan maupun pemilik mobil yang merangkap sopir, tak perlu pusing mencari penumpang kian ke mari. Sebab, Uber menyediakan aplikasi, Uber mengontrak unit kendaraan plus driver kepada mitra, User memesan via App & mitra melayani user. Tidak ada ketentuan jam kerja. Tidak ada target pendapatan yang harus anda setorkan kepada Uber. Bila pengemudi mampu melayani user Uber melebihi target yang ditentukan, dia akan memperoleh komisi/bonus—sebagaimana Gojek dan GrabBike di ‘angkutan’ roda dua.

Sebagai perusahaan teknologi, Uber hanya menyediakan teknologinya. Uber menjalin kemitraan dengan siapa saja. Biasanya yang ditawarkan menjadi mitra adalah perorangan atau perusahaan yang belum memiliki badan usaha besar. Kerja sama dengan para pemilik mobil pribadi
inilah yang dipermasalahkan korporasi taksi resmi. Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta telah beberapa kali memperingatkan agar Uber
mengajukan izin untuk memenuhi persyaratan legal sebagai angkutan umum.

Pihak Uber tidak kunjung mengajukan perizinan ke pihak Dishubtrans karena mereka mengklaim bukan perusahan taksi. Tetapi, perusahaan yang bergerak di bidang pemasaran teknologi aplikasi yang bekerjasama dengan para pemilik mobil. Menurut Uber, layanan ini merupakan cara baru
dan modern untuk mendukung perjalanan konsumen dengan memanfaatkan teknologi perangkat smartphone atau tablet.

Terkait imbauan Dishubtrans, Uber tengah dalam proses pengajuan izin ke Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) sebagai Perusahaan Modal Asing (PMA). Sebagaimana dinyatakan Corporate Public Affairs Uber, Daniel Kusuma. Tanpa memiliki armada taksi sendiri, Uber hanya mempekerjakan pengendara yang telah memiliki mobil sesuai dengan kriteria merek.

Karenanya, wajar saja situasi ini memicu naluri bisnis siapa pun dengan kalkulasi sebagai berikut: Modal untuk down payment/DP kredit mobil Avanza Rp25 juta, cicilan per bulan Rp 4 juta, gaji sopir Rp 1,5 juta, BBM (30×50 ribu=Rp1,5juta; Pemasukan: bayaran kontrak dari Uber Rp12 juta; maka diperoleh keuntungan Rp5 juta/bulan.

Wallahua’lam. Jika asumsinya seoptimis itu, bukan tak mungkin riwayat taksi dan perusahaan kargo tradisional segera berakhir. Namun, dengan
seluruh transaksi yang hanya dapat dilakukan melalui kartu kredit, pasar mereka sejatinya tidaklah besar. Hingga saat ini, jumlahnya kartu plastik itu hanya sekitar 16 juta. Jika rata-rata memiliki dua kartu kredit, potensi pengguna Uber di Indonesia hanya delapan jutaan orang. Lagipula, pelanggan Taksi Uber kebanyakan mahasiswa, anak sekolah, dan pegawai kantor.

Share This: