Takengon, Kesejukan di Pinggang Gunung Leuser

Datang dan nikmati indah Kota Takengon dari ketinggian. Wisatawan bisa menggunakan kendaraan roda dua atau empat menuju Gayo Highland. Dari titik ini tampak jelas keseluruhan Kota Takengon sekaligus Danau Lut Tawar yang panjangnya 17 kilometer.

LOKASI geografisnya 1.200 meter dpl. Di Dataran Tinggi Gayo, Kab Aceh Tengah, Nanggroe Aceh Darusslam. Takengon namanya. Kota yang dikelilingi keindahan alam, rona budaya, dan kopi Arabica yang mendunia. Sesuai dengan namanya, untuk sampai di Takengon harus melewati banyak sekali kelokan terjal dan tajam. Di beberapa bagian bahkan curam, di tepian jurang.

Bisa dicapai dari Medan atau Banda Aceh. Butuh waktu dalam 7 jam dari Banda Aceh, atau 9 jam dari Medan perjalanan darat. Dengan peresmiaan Bandara Rembele tahun 2016, Takengon bisa dicapai dengan penerbangan selama 1 jam dari Medan. Saat ini baru Wings Air yang melayani rute ini. Jadwal penerbangan dari Medan pukul 08.00 setiap hari, dengan frekuensi sekali dalam sehari.

Deretan perbukitan rimbun di sisi kiri dan kanan jalan. Suasana asri itu menenangkan dan menyegarkan indera penglihatan dan pikiran. Cukup dekat dari pusat kota, terhampar sebuah danau cantik alami. Danau Lut Tawar menyimpan aneka kekayaan hewani. Baik ikan maupun udang untuk masyarakat sekitar. Hanya 2 kilometer dari kota menuju Kecamatan Nosar, terdapat juga Loyang Puteri Pukes. Loyang (goa), dan Putri Pukes adalah legenda masyarakat kota Takengon. Alhasil, kota kecil berhawa dingin ini menjadi kian eksotik.

Dataran Tinggi Gayo merupakan daerah yang berada di salah satu bagian punggung pegunungan Bukit Barisan yang membentang sepanjang Pulau Sumatera. Ke dalamnya tercakup wilayah Kab Aceh Tengah, Kab Bener Meriah dan Kab Gayo Lues, dengan tiga kota utama: TakengonBlang Kejeren dan Simpang Tiga Redelong. Dataran tinggi Gayo Alas, khususnya Takengon, mempunyai magnet kuat bagi wisatawan. Terlebih bagi turis yang menyukai alam pegunungan.

Danau Lut Tawar. Takengon tentu tak berlebihan jika dikatakan nyaris identik dengan Danau Lut Tawar. Inilah salah satu objek wisata yang wajib didatangi, jika anda ke Takengon. Danau seluas 5.472 hektare ini terlihat elok dan damai karena di sekelilingnya dipagari perbukitan hijau membiru. Di antara ikan dan udang yang biasa dikenal, ciri khas penghuni Danau Lut Tawar adalah ikan depik. Dari seputar danau ini, keindahan mentari terbit atau terbenam detik demi detiknya bisa disimak dengan utuh.

Kebun dan kedai kopi. Hamparan kebun kopi di wilayah Gayo Alas disebut-sebut mencapai 100 ribu ha. Kebun kopi memang ada di mana-mana. Selama anda di sana, jangan lewatkan pula nongkrong di warung kupi. Saksikan proses uni penuangan kopi daroi ceretnya yang ditarik tinggi-tinggi. Semakin terasa nikmat tentunya karena hawa di kota ini sehari-hari berkisar pada 18-28 derajat Celcius. 

Pantan Terong. Inilah sebuah bukit setinggi 1.830 meter, hampir seluruh wilayah Kota Takengon dapat terlihat. Untuk sampai ke sini kita perlu kita perlu berjalan sejauh 7,5 km ke arah barat. Tapi, kawasan dataran tinggi yang paling legendaris di Takengon adalah Gayo Highland.  Di sini kita bisa melihat pemandangan indah dari puncak bukit. Wilayah Takengon yang dikelilingi perbukitan memang membuatnya memiliki banyak spot untuk menikmati keindahannya.

Gayo Highland. Menikmati Takengon dari ketinggian pun harus dijajal. Wisatawan bisa menggunakan kendaraan roda dua atau empat menuju Gayo Highland. Dari ketinggian ini bisa terlihat kota Takengon dan tentunya juga Danau Lut Tawar sepanjang 17 kilometer.

Selain alam, Takengon juga kaya dengan tradisi dan budaya. Masyarakat Takengon memiliki tradisi tahunan yang sangat menarik, pacuan kuda. Biasanya kegiatan ini diadakan berdekatan dengan hari Kemerdekaan Indonesia. Lokasinya di Pegasing, Aceh Tengah. Acara memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-74 diramaikan 371 ekor kuda peserta pacuan kuda tradisional Gayo. Pacuan kuda tradisional Gayo ini berlangsung sepekan penuh, 26 Agustus hingga 1 September 2019.

Ketua Panitia Pacuan Kuda Tradisional Gayo HUT Kemerdekaan RI ke-74 Indonesia, Irwandi, mengatakan bahwa ke-371 kuda yang mengikuti pacuan ini memanfaatkan jasa 15 joki. Terdapat 15 kelas pacuan tradisional yang diperlombakan tahun ini. Peserta paling banyak adalah kelas Gayo Muda dan E Muda, dengan kriteria tinggi kuda 125 sampai 131,9 sentimeter.

“Yang paling menantang adalah pacuan kuda di kelas AB perdana dengan jarak pacuan 800 meter,” kata Irwandi, Sekretaris Persatuan Olahraga Berkuda Seluruh Indonesia Aceh Tengah di Arena Haji Muhammad Hasan Gayo, Takengon, Aceh. Dalam sehari berlangsung 20 race dengan enam ekor kuda untuk setiap kali lomba. Pacuan kuda tahun ini memperebutkan hadiah total Rp300 juta. Sebesar Rp220 juta dari APBD Kabupaten Aceh Tengah, sisanya dari APBD Prov NAD.●(dd)

Share This:

You may also like...