Tahun 2020 Catat Rekor Pengangguran Terburuk

BAPPENAS memprediksi pada 2021 angka pengangguran bisa menyentuh 12,7 juta orang. Tahun ini, tingkat pengangguran terbuka (TPT) dperkirakan 8,1% hingga 9,2%, melompat dari posisi 2019 yang 5,28%. Angka TPT 9,1% pernah tercatat pada 2007 dengan jumlah penganggur 10 juta orang. “Dikhawatirkan pada 2021 pengangguran akan mencapai 10,7-12,7 juta orang,” ujar Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa, dalam rapat bersama Komisi XI DPR RI.

Jika prediksi itu benar, dalam waktu 1 tahun, maka peningkatannya akan melampaui rekor tertinggi 15 tahun terakhir. Puncak angka pengangguran terjadi pada 2005 dengan jumlah 11,89 juta orang setara TPT 11,24%. Sejak saat itu, angka pengangguran beberapa kali dapat diturunkan.

Suramnya prediksi ini pernah disampaikan Menteri Sri Mulyani (18/5). Jika pertumbuhan ekonomi minus 0,4%, penganggur bertambah 5,23 juta orang selama 2020, dan menjadi 12 juta di awal 2021. Penambahan bisa ditekan separuhnya jika pertumbuhan ekonomi 2020 bisa mencapai 2,3%. Hasrat tersebut sulit dicapai.

Angka versi Kamar Dagang Industri (Kadin) lebih besar. Hingga Mei 2020, telah 6 juta pekerja kena PHK dan dirumahkan karena pengusaha tak memiliki cashflow. Rinciannya, 2,1 juta pekerja tekstil, 1,4 juta transportasi darat, 400 ribu sektor mal, dan sisanya gabungan beberapa sektor.

Lonjakan pengangguran memang tak bisa terelakkan lantaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Di sisi lain, 2 juta orang/tahun angkatan kerja baru (data Depnaker) berpotensi tak terserap. Analisis big data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah lowongan kerja terus menyusut hingga 62% per Mei 2020. Secara makro BS memprediksi akan ada lonjakan besar pengangguran. Jika sektor informal turut diperhitungkan, populasi nganggur makin tinggi. LIPI, Kemnaker, dan Lembaga Demografi FEB UI melakukan riset pada 2.160 responden selama 24 April-5 Mei 2020. Hasilnya, 40% pelaku usaha mandiri mengalami kemacetan usaha atau berhenti total. Sekitar 52% turun pendapatannya, dan 35% nol pendapatan. Menteri Sri Mulyani, (18/6) mengatakan akan berfokus pada pemulihan ekonomi pada 2021. Beberapa langkah sudah dimulai dengan memberlakukan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) senilai Rp589,65 triliun.●

Share This:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *